Strategi UMKM di marketplace kini menjadi hal yang sangat krusial di tengah persaingan yang semakin ketat, di mana produk yang sebelumnya mudah mendapatkan pembeli kini harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan toko serupa, sementara konsumen semakin mudah membandingkan harga, membaca ulasan, melihat video produk, dan berpindah toko hanya dalam beberapa detik. Kondisi ini membuat cara lama seperti mengunggah produk sebanyak-banyaknya atau memberikan diskon terus-menerus tidak lagi cukup untuk bertahan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah mendominasi bisnis e-commerce Indonesia, di mana dalam Statistik E-Commerce 2024 sebanyak 96,91% usaha e-commerce berasal dari kelompok UMKM yang berarti sebagian besar pelaku bisnis digital Indonesia berada dalam ruang persaingan yang sama. Di sisi lain, nilai ekonomi digital Indonesia terus bertumbuh. Google, Temasek, dan Bain & Company melalui laporan e-Conomy SEA 2025 memperkirakan GMV ekonomi digital Indonesia hampir mencapai US$100 miliar pada 2025 dan sektor e-commerce mencapai sekitar US$71 miliar, yang menunjukkan bahwa pasarnya besar tetapi pemainnya juga semakin banyak.
Oleh karena itu, para pelaku usaha kini tidak lagi sekadar bertanya “bagaimana cara masuk marketplace?”, melainkan harus merumuskan “bagaimana caranya agar konsumen memilih toko saya di tengah banyaknya pilihan?”. Penulis mengupas akar persaingan tersebut, menjabarkan faktor penentu performa toko, menyajikan data pendukung, serta merangkum langkah praktis yang bisa Anda terapkan agar terhindar dari perang harga dan ketergantungan pada algoritma marketplace.
Mengapa Strategi UMKM di Marketplace Semakin Ketat?
Marketplace memberikan keuntungan besar bagi UMKM karena bisnis tidak perlu membangun sistem e-commerce dari nol, di mana infrastruktur pembayaran, katalog, pencarian produk, promosi, hingga logistik telah tersedia. BPS juga menilai marketplace sebagai salah satu motor utama e-commerce karena mampu memperluas pasar dan meningkatkan transaksi, namun penggunaannya juga membawa risiko seperti keterbatasan akses data pelanggan, persaingan yang tidak seimbang, perubahan algoritma, hingga kemungkinan delisting sepihak sehingga marketplace memberikan akses pasar, tetapi tidak memberikan jaminan pelanggan.
Inilah yang sering menjadi kesalahan cara pandang UMKM, di mana toko berhasil mendapatkan 10.000 views bukan berarti 10.000 orang akan membeli dan produk muncul di halaman pencarian bukan berarti konsumen akan memilihnya. Pada akhirnya, para pemilik toko harus memenangkan berbagai keputusan kecil dari konsumen mulai dari memastikan relevansi produk, menetapkan harga yang logis, membangun kepercayaan toko, mengumpulkan ulasan yang meyakinkan, membuat produk tampil lebih menarik daripada kompetitor, hingga mempermudah proses pembelian karena semakin banyaknya toko yang menawarkan barang serupa menuntut mereka untuk menguasai lebih banyak faktor penentu pilihan.
Masalah Utama Bukan Sekadar Jumlah Kompetitor
Persaingan marketplace sering terlihat seperti persoalan harga. Ada toko menjual Rp50.000, kompetitor menjual Rp48.000, toko lain menjual Rp45.000, dan kemudian muncul penjual baru dengan harga Rp42.000. Jika UMKM hanya merespons dengan menurunkan harga, siklus tersebut tidak akan pernah selesai. Margin semakin tipis, tetapi kompetitor tetap bertambah. Karena itu, persaingan marketplace sebaiknya dipahami melalui beberapa dimensi.
| Faktor | Pertanyaan yang Harus Dijawab UMKM |
|---|---|
| Harga | Apakah harga kompetitif tanpa menghancurkan margin? |
| Produk | Apa alasan konsumen memilih produk ini? |
| Visual | Apakah produk terlihat menarik dalam 3 detik pertama? |
| Review | Apakah pelanggan sebelumnya memberikan bukti yang kuat? |
| Rating | Apakah reputasi toko meyakinkan? |
| Kecepatan | Seberapa cepat pesanan diproses? |
| Promosi | Apakah diskon digunakan secara strategis? |
| Konten | Apakah produk dijelaskan dengan jelas? |
| Layanan | Apakah pertanyaan konsumen dijawab dengan baik? |
| Retensi | Apakah pembeli memiliki alasan untuk kembali? |
UMKM yang mampu mengoptimalkan seluruh faktor tersebut memiliki peluang lebih besar untuk bertahan daripada bisnis yang hanya mengandalkan harga murah.
Konsumen Marketplace Semakin Sulit Dipuaskan
Perubahan perilaku konsumen juga membuat persaingan semakin kompleks. Konsumen tidak lagi hanya melihat foto produk. Mereka dapat melihat video penggunaan, membaca review, membandingkan harga, memeriksa rating, dan mencari produk serupa di platform lain. Pertumbuhan video commerce memperkuat perubahan tersebut.
Menurut e-Conomy SEA 2025, volume transaksi video commerce Indonesia meningkat 90% secara tahunan menjadi 2,6 miliar transaksi, sedangkan jumlah penjual dan toko online yang menggunakan model tersebut meningkat 75% menjadi sekitar 800 ribu. Data ini menarik karena menunjukkan bahwa persaingan tidak lagi hanya terjadi pada halaman marketplace. Persaingan juga terjadi melalui konten.
Sebelum membeli, konsumen dapat menemukan produk melalui video, kemudian masuk ke marketplace untuk melihat harga dan review. Artinya, toko yang hanya mengandalkan listing produk berpotensi kehilangan perhatian konsumen bahkan menemukan produknya.
Strategi Pertama: Jangan Menjual Produk, Jual Alasan untuk Memilih
Ketika produk Anda sama dengan puluhan toko lain, pertanyaan penting bukan “Bagaimana supaya produk saya lebih murah?”, tetapi “Mengapa konsumen harus memilih produk saya?”. Inilah dasar positioning.
Misalnya, Anda menjual sambal. Jika positioning hanya “Sambal enak dan pedas,” maka kompetitor dapat mengatakan hal yang sama. Tetapi jika positioning menjadi “Sambal rumahan dengan level pedas yang jelas untuk pekerja yang ingin stok lauk praktis,” target dan manfaat menjadi lebih spesifik.
Contoh lain untuk bisnis fashion, bukan “Toko baju wanita murah,” tetapi “Fashion kerja wanita untuk kebutuhan outfit kantor yang rapi dan nyaman.” Positioning tidak harus rumit. Anda harus membuat konsumen memahami siapa target yang Anda layani, masalah apa yang Anda selesaikan, dan mengapa produk Anda tampil berbeda.
Strategi Kedua: Optimalkan Listing Produk seperti Landing Page
Banyak UMKM menganggap halaman produk hanya sebagai tempat mengunggah foto dan harga. Padahal listing adalah titik conversion. Ketika konsumen membuka produk, mereka sedang mengambil keputusan: lanjut membeli atau kembali ke hasil pencarian. Karena itu, optimalkan listing secara menyeluruh.
Foto pertama harus langsung menjelaskan produk
Anda harus memastikan foto utama tampil jelas, tidak membingungkan, menunjukkan produk secara dominan, memiliki pencahayaan yang baik, dan mudah dipahami dalam ukuran thumbnail. Jangan menggunakan foto yang terlalu ramai sehingga produk justru sulit terlihat.
Foto berikutnya harus menjawab keraguan
Gunakan foto tambahan untuk menunjukkan: ukuran, bahan, variasi, detail, cara penggunaan, isi paket, dan perbandingan ukuran. Tujuannya bukan sekadar membuat katalog terlihat cantik, tetapi tujuannya adalah mengurangi pertanyaan yang muncul sebelum pembelian.
Judul harus membantu pencarian sekaligus manusia
Jangan menumpuk kata kunci secara berlebihan. Buat judul yang menjelaskan: jenis produk + karakteristik utama + kegunaan/target + variasi penting. Contohnya: “Tas Selempang Wanita Mini Waterproof untuk Travel – Hitam” lebih informatif daripada “Tas Wanita Murah Bagus Kekinian Viral Terlaris”. Yang kedua mungkin terlihat seperti mengejar kata kunci, tetapi tidak memberikan informasi yang cukup mengenai produk.
Strategi Ketiga: Gunakan Review sebagai Aset Penjualan
Review bukan sekadar angka rating, melainkan bentuk social proof. Bayangkan dua toko dengan rating 4,8: Toko A memiliki 7.000 terjual dan banyak review dengan foto, sedangkan Toko B baru 20 terjual dan hampir tidak ada review. Walaupun ratingnya sama, tingkat kepercayaan konsumen dapat berbeda, sehingga UMKM perlu membuat sistem untuk mendapatkan review secara konsisten.
Setelah pelanggan menerima produk, pastikan pesanan sudah sesuai, gunakan packaging yang baik, berikan pengalaman setelah pembelian, dan dorong pelanggan memberikan ulasan secara natural.
Jangan hanya mengejar jumlah review, tetapi perhatikan juga isinya. Pelanggan sering kali menulis ulasan yang kurang informatif seperti “Bagus.”, padahal mereka bisa memberikan ulasan yang jauh lebih kuat seperti “Bahan bakunya tebal, ukurannya sesuai deskripsi, dan saya pakai untuk perjalanan tiga hari tanpa masalah.”. Artinya, Anda perlu merancang pengalaman pelanggan sedemikian rupa agar mereka menceritakan kisah yang dapat dipercaya.
Strategi Keempat: Berhenti Mengandalkan Perang Harga
Diskon tetap memiliki fungsi. Masalahnya adalah ketika diskon menjadi satu-satunya alasan konsumen membeli. Misalnya harga normal produk Rp100.000, toko memberikan diskon menjadi Rp80.000, kompetitor kemudian memberikan Rp75.000, dan Anda menurunkan lagi menjadi Rp70.000. Jika margin semakin tipis, pertumbuhan transaksi justru dapat memperburuk kondisi bisnis.
Gunakan promosi secara lebih strategis. Contohnya, model bundle di mana daripada menjual satu produk Rp50.000, Anda bisa membuat paket dua produk seharga Rp90.000. Anda juga bisa menerapkan quantity incentive seperti menawarkan potongan beli 2 lebih hemat 10%, memberikan bonus pada pembelian tertentu, memberlakukan batas minimum transaksi (free shipping threshold) untuk gratis ongkir, atau menjalankan promosi terbatas (limited promotion) dalam periode tertentu guna mendorong urgensi pembelian.
Tujuannya adalah meningkatkan nilai transaksi, bukan sekadar menurunkan harga.
Strategi Kelima: Gunakan Video untuk Memenangkan Perhatian
Pertumbuhan video commerce menunjukkan bahwa konsumen semakin terbiasa menemukan dan mengevaluasi produk melalui video. UMKM tidak harus memiliki studio profesional karena smartphone sudah cukup untuk membuat konten yang menjawab pertanyaan pelanggan.
Misalnya produk skincare dengan pertanyaan “Tekstur produk ini seperti apa?”, maka buatlah video close-up. Untuk produk fashion dengan pertanyaan “Apakah bahannya menerawang?”, buat video dengan pencahayaan yang jelas. Pada produk elektronik dengan pertanyaan “Cara menggunakannya bagaimana?”, buat video tutorial. Sementara untuk makanan dengan pertanyaan “Seberapa besar porsinya?”, tunjukkan ukuran sebenarnya.
Gunakan prinsip sederhana: jangan hanya menunjukkan produk, tetapi tunjukkan pengalaman menggunakan produk. Konten tersebut dapat dipublikasikan di media sosial dan digunakan untuk mengarahkan calon pembeli ke marketplace. Dengan demikian, marketplace menjadi bagian dari funnel, bukan satu-satunya sumber traffic.
Strategi Keenam: Bangun Traffic dari Luar Marketplace
Ketergantungan penuh pada marketplace memiliki risiko. Jika algoritma berubah, biaya iklan meningkat, atau aturan platform berubah, performa toko dapat ikut terdampak. BPS sendiri mencatat adanya risiko seperti keterbatasan akses data pelanggan, manipulasi algoritma, persaingan tidak seimbang, dan delisting sepihak dalam penggunaan marketplace.
Karena itu, UMKM perlu membangun sumber traffic sendiri. Misalnya melalui alur Instagram ke marketplace, TikTok ke marketplace, Google Search ke website lalu ke marketplace, WhatsApp ke marketplace, atau melalui content creator ke marketplace.
Tujuannya bukan meninggalkan marketplace. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber pelanggan.
Strategi Ketujuh: Bangun Database Pelanggan
Marketplace membantu mendapatkan transaksi. Tetapi hubungan dengan pelanggan seharusnya tidak berhenti setelah transaksi selesai. Jika aturan platform dan kebijakan privasi memungkinkan, bisnis perlu membangun mekanisme customer retention yang sesuai dan transparan. Contohnya melalui loyalty program, newsletter, komunitas, WhatsApp Business, akun media sosial, atau website sendiri.
Bayangkan seorang pelanggan membeli produk kopi. Jika transaksi berhenti di marketplace, peluang berikutnya harus dimulai dari nol. Namun jika pelanggan mengikuti akun brand atau bergabung dalam loyalty program, bisnis dapat membangun hubungan jangka panjang. Inilah perbedaan antara “mendapatkan order” dan “membangun pelanggan.”
Strategi Kedelapan: Gunakan Data untuk Menentukan Produk yang Harus Didorong
- Tidak semua produk layak mendapatkan budget promosi yang sama, sehingga Anda perlu mengelompokkan produk berdasarkan performanya.
- Produk dengan penjualan tinggi dan margin tinggi: Prioritaskan produk ini karena dapat menjadi hero product.
- Produk dengan penjualan tinggi tetapi margin rendah: Evaluasi kembali harga, bundling, dan biaya promosi yang digunakan.
- Produk dengan traffic tinggi tetapi conversion rendah: Cari masalah pada aspek harga, visual, deskripsi, review, variasi, atau positioning.
- Produk dengan traffic rendah tetapi conversion tinggi: Produk ini berpotensi menjadi hidden gem di mana masalah utamanya mungkin terletak pada kurangnya exposure, sehingga Anda perlu memberikan traffic tambahan melalui konten atau iklan yang terukur.
- Dengan pendekatan berbasis data tersebut, keputusan marketing tidak lagi diambil hanya berdasarkan perasaan semata.
Studi Kasus: Mengapa Video Commerce Penting bagi UMKM?
Pertumbuhan video commerce di Indonesia memberikan gambaran yang jelas mengenai arah persaingan digital saat ini.
Pada tahun 2025, transaksi video commerce diperkirakan mencapai angka yang masif serta mengalami peningkatan hingga 90% secara tahunan (year-on-year). Jumlah penjual dan toko online juga melonjak hingga sekitar 800 ribu setelah mengalami kenaikan 75%. Kategori produk seperti fashion dan personal care menjadi sektor unggulan karena sangat bergantung pada visualisasi dan demonstrasi produk secara langsung.
Apa artinya bagi UMKM?
Pertama, video telah menjadi bagian integral dari proses penemuan produk (discovery) oleh konsumen.
Kedua, semakin banyak penjual yang terjun berarti tingkat kompetisi untuk mendapatkan perhatian audiens juga semakin tinggi.
Ketiga, produk yang dapat didemonstrasikan secara visual memiliki peluang jauh lebih besar untuk memanfaatkan format ini secara optimal.
Misalnya, pelaku UMKM di berbagai sektor dapat mempraktikkan ide konten berikut:
Fashion: “3 cara memakai satu outer untuk kerja”
Makanan: “Isi paket makanan Rp50 ribu”
Kosmetik: “Perbedaan hasil pemakaian shade A dan B”
Kerajinan: “Proses pembuatan produk dari bahan mentah sampai siap dikirim”
Konten seperti ini bukan sekadar alat promosi biasa, melainkan sarana untuk memberikan bukti nyata. Kehadiran bukti visual terbukti sangat ampuh dalam membantu mengurangi keraguan konsumen sebelum memutuskan untuk membeli.
Panduan 30 Hari Menerapkan Strategi UMKM di Marketplace agar Toko Lebih Berdaya Saing
Jika toko sedang mengalami penurunan performa, jangan langsung terburu-buru menaikkan budget iklan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan audit secara menyeluruh.
Pada Hari 1–7, mulailah dengan melakukan audit kompetitor. Pilih 5 hingga 10 toko yang menjadi pesaing utama, lalu bandingkan berbagai aspek mulai dari harga, foto produk, judul, deskripsi, rating, jumlah review, total produk terjual, promo, bundling, hingga konten video. Dari proses ini, Anda harus mencari celah yang belum dimanfaatkan oleh kompetitor dan menghindari kebiasaan sekadar meniru. Anda perlu selalu menanyakan hal ini pada diri sendiri: “Apa yang belum kompetitor berikan kepada pelanggan?”
Memasuki Hari 8–14, fokuslah memperbaiki produk utama. Pilih 3 sampai 5 produk yang memiliki potensi terbesar di toko Anda, lalu optimalkan bagian foto utama, foto detail, judul, deskripsi, video, FAQ, serta penawarannya. Hindari mengoptimalkan ratusan produk sekaligus secara bersamaan, dan mulailah dari produk yang paling berpotensi menghasilkan revenue.
Selanjutnya pada Hari 15–21, saatnya membangun konten dengan variasi seperti edukasi, demonstrasi, perbandingan, testimonial, behind the scenes, FAQ, hingga konten promosi. Tujuan utama dari tahap ini adalah membawa calon pelanggan melalui tahapan yang jelas, mulai dari merasa penasaran, menjadi paham, menumbuhkan rasa percaya, hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.
Terakhir, pada Hari 22–30, lakukan evaluasi data dengan membandingkan performa toko sebelum dan sesudah optimasi. Perhatikan metrik penting seperti views, CTR, conversion rate, jumlah transaksi, average order value, biaya iklan, serta margin. Jika trafik situs meningkat tetapi transaksi tetap mandek, jangan langsung menambah anggaran iklan, melainkan cari tahu terlebih dahulu akar penyebabnya.
Jangan Mengukur Kesuksesan Hanya dari Omzet
Omzet memang penting, namun pelaku UMKM perlu melihat metrik yang lebih lengkap secara menyeluruh agar performa bisnis terpantau akurat.
Berikut adalah beberapa metrik penting beserta fungsinya dalam bisnis:
| Metrik | Fungsi |
|---|---|
| Impressions | Mengukur exposure |
| Product views | Mengukur ketertarikan awal |
| CTR | Mengukur daya tarik listing/iklan |
| Conversion rate | Mengukur kemampuan mengubah kunjungan menjadi transaksi |
| AOV | Mengukur nilai rata-rata transaksi |
| CAC | Mengukur biaya mendapatkan pelanggan |
| Margin | Mengukur kesehatan keuntungan |
| Repeat order | Mengukur retensi |
| Customer Lifetime Value | Mengukur nilai pelanggan jangka panjang |
Sebagai contoh, jika omzet naik hingga 30%, tetapi biaya iklan melonjak 70% dan margin keuntungan justru turun 20%, pertumbuhan tersebut belum tentu sehat bagi keuangan bisnis. Sebaliknya, jika omzet hanya naik 10% tetapi margin keuntungan naik 25% dan repeat order meningkat, kondisi tersebut jauh lebih mencerminkan pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Kesalahan Umum yang Sering Merusak Strategi UMKM di Marketplace
Mengejar semua tren
Tidak semua tren di media sosial atau pasar relevan dengan target audiens produk Anda. Alih-alih mendatangkan penjualan, memaksakan diri mengikuti tren yang salah justru hanya akan membuang waktu dan anggaran promosi yang sia-sia.
Mengikuti harga kompetitor tanpa menghitung margin
Anda tidak bisa serta-merta meniru harga kompetitor di pasaran begitu saja, karena setiap bisnis tentu memiliki struktur biaya produksi dan operasional yang berbeda. Mengabaikan perhitungan margin keuntungan demi perang harga hanya akan membuat bisnis merugi di kemudian hari.
Mengunggah banyak produk tetapi tidak mengoptimalkan produk utama
Banyak pelaku usaha mengira semakin banyak barang yang mereka unggah, semakin besar pula peluang lakunya. Padahal, Anda akan mendapatkan hasil yang jauh lebih efektif jika Anda mengoptimalkan 20 listing produk dengan baik daripada Anda memajang 200 produk yang Anda biarkan terbengkalai tanpa perawatan informasi.
Mengandalkan marketplace ads sepenuhnya
Iklan berbayar memang sangat efektif untuk mempercepat visibilitas toko. Namun, iklan tidak akan bisa menolong produk yang dari awal memang kurang menarik atau tidak diminati pasar. Perbaiki fondasi produknya terlebih dahulu sebelum jor-joran beriklan.
Mengabaikan review negatif
Banyak penjual sering kali menghindari atau menghapus ulasan negatif dari pembeli, padahal Anda bisa memanfaatkan keluhan tersebut sebagai sumber data paling jujur untuk memperbaiki kualitas produk maupun pelayanan toko ke depannya.
Tidak membangun identitas brand
Jika toko Anda terlihat sama persis dengan ratusan toko lainnya, konsumen tidak punya alasan untuk memilih Anda selain karena faktor harga yang paling murah. Membangun identitas brand yang kuat membantu Anda membuat toko lebih mudah diingat oleh konsumen sekaligus menciptakan nilai tawar tersendiri di pasaran.
Apa yang Harus Dilakukan UMKM Sekarang?
Dalam menjalankan strategi umkm di marketplace saat ini, fokuskan langkah bisnis Anda pada dua hal utama:
- Pertama, diferensiasi: Berikan alasan yang jelas mengapa konsumen harus memilih produk Anda dibandingkan kompetitor.
- Kedua, konversi (conversion): Optimalkan listing, visual, ulasan (review), penawaran, dan pengalaman pembelian secara keseluruhan.
- Ketiga, retensi (retention): Jangan hanya mengejar pembeli baru, tetapi bangun alasan kuat agar pelanggan lama mau kembali berbelanja.
Setelah ketiga fondasi tersebut kuat, barulah Anda bisa meningkatkan trafik (traffic) melalui iklan, media sosial (social media), pemasaran kreator (creator marketing), SEO, atau saluran (channel) pemasaran lainnya. Dengan begitu, kunjungan yang datang akan memiliki peluang jauh lebih besar untuk berubah menjadi transaksi nyata dan pelanggan setia.
Baca juga: Bagaimana Cara Scaling Bisnis Online untuk UMKM agar Tumbuh Lebih Cepat dan Stabil?
Checklist Strategi UMKM di Marketplace
Sebelum meningkatkan budget iklan, pastikan aspek-aspek penting berikut sudah terpenuhi dengan baik:
- Anda harus membangun fondasi dan visual produk yang kuat dengan cara menentukan positioning yang jelas, menghadirkan alasan kuat bagi pembeli untuk memilih produk Anda, serta menyediakan foto utama yang menarik, foto tambahan untuk menjawab keraguan, judul yang informatif, deskripsi yang spesifik, dan video produk.
- Anda perlu mengelola rating dan ulasan dengan baik, memastikan promo tidak merusak margin keuntungan, serta mengidentifikasi produk utama toko Anda.
- Anda harus memantau dan mengukur data conversion rate, average order value, serta repeat order secara berkala untuk mengevaluasi performa bisnis.
- Pada tahap ekspansi dan branding, Anda perlu mendatangkan sumber trafik dari luar marketplace dan mulai membangun identitas brand Anda sendiri.
Kesimpulan: Saatnya Menyusun Ulang Strategi UMKM di Marketplace
Persaingan UMKM di marketplace semakin ketat, tetapi Anda dapat mengatasi kondisi tersebut dengan menerapkan strategi umkm di marketplace yang tepat agar pelaku usaha tidak harus selalu menjual produk dengan harga termurah. Justru ketika jumlah penjual bertambah, Anda akan semakin kesulitan mempertahankan strategi yang hanya mengandalkan perang harga. Data menunjukkan bahwa ekosistem e-commerce Indonesia terus berkembang. UMKM mendominasi pelaku e-commerce dengan porsi 96,91%, sementara ekonomi digital Indonesia hampir mencapai US$100 miliar pada 2025 dengan sektor e-commerce yang menyumbangkan kontribusi sekitar US$71 miliar.
Pada saat yang sama, video commerce berkembang sangat cepat. Volume transaksinya di Indonesia meningkat 90% menjadi 2,6 miliar transaksi pada 2025, sementara jumlah penjual dan toko online yang menggunakannya mencapai sekitar 800 ribu. Artinya, peluang yang ada sangatlah besar, namun cara untuk memenangkannya kini sudah mulai berubah.
UMKM perlu berhenti berpikir:
“Bagaimana supaya produk saya muncul paling atas?”
Dan mulai beralih berpikir:
“Bagaimana supaya ketika konsumen melihat produk saya, mereka punya alasan kuat untuk memilihnya?”
Jawabannya bukanlah satu trik instan. Anda membutuhkan kombinasi positioning, listing yang kuat, visual yang meyakinkan, ulasan (review), konten video, promosi yang sehat, pengalaman pelanggan (customer experience), data, serta strategi retensi (retention). Anda juga harus memposisikan marketplace sebagai salah satu mesin penjualan, bukan satu-satunya fondasi bisnis yang Anda miliki.
Jika Anda ingin mengembangkan strategi digital marketing yang lebih terukur untuk membantu bisnis menghadapi persaingan marketplace, Isee Digital Marketing dapat membantu menyusun strategi berdasarkan karakter bisnis, target pasar, dan data performa yang akurat.
Pelajari lebih lanjut melalui website
Atau konsultasikan kebutuhan bisnis Anda melalui WhatsApp
Jika Anda memiliki pertanyaan seputar strategi di atas atau ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai perkembangan bisnis Anda, silakan tulis di kolom komentar bawah ya!