Masalah digital marketing bisnis bisa terjadi jika strategi pemasaran online tidak mencapai tujuan yang diharapkan. Usaha bisa saja sudah biasa membuat konten, mengelola iklan, aktif di media sosial, atau menjual barang melalui platform marketplace. Namun, penjualan online masih mengalami naik turun dan sulit mencapai angka yang stabil.
Kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa konsumen kehilangan minat terhadap produk. Bisnis mungkin memiliki produk yang baik, tetapi cara promosinya belum mencapai orang-orang yang seharusnya membelinya. Selain itu, cara seseorang mengenali produk hingga akhirnya memutuskan untuk membelinya juga bisa memengaruhi jumlah penjualan yang terjadi.
Oleh karena itu, para pengusaha harus memperhatikan pemasaran secara lebih luas. Pemilik bisnis sering mengabaikan beberapa hal, mulai dari menentukan target pelanggan hingga mengukur hasil dari data pemasaran.
Mengapa Masalah Digital Marketing Bisnis Bisa Mempengaruhi Omzet?
Omzet online terbentuk dari beberapa tahapan yang saling terkait. Bisnis membutuhkan pengunjung atau traffic, tetapi memiliki traffic saja tidak cukup. Pengunjung juga perlu menunjukkan ketertarikan pada penawaran, percaya pada bisnis, sesuai dengan target pelanggan, dan akhirnya membeli produk.
Misalnya, sebuah usaha kecil menengah mendapatkan ribuan pengunjung ke website dalam satu bulan. Angka tersebut memang terlihat menjanjikan. Namun, jika sebagian besar pengunjung tidak tertarik dengan produk yang bisnis tawarkan, traffic yang tinggi belum tentu menghasilkan penjualan.
Bisnis yang memiliki jumlah pengunjung lebih sedikit bisa mendapatkan penjualan yang lebih baik selama mereka mampu menjangkau calon pelanggan yang sesuai. Oleh karena itu, para pemilik bisnis harus memperhatikan tingkat konversi, yaitu persentase pengunjung yang melakukan tindakan sesuai dengan tujuan bisnis, misalnya membeli produk atau menghubungi admin.
Strategi membuat konten, perjalanan pelanggan, pesanan ulang, serta konsistensi dalam pemasaran juga berpengaruh pada omzet. Jika salah satu bagian tidak berjalan lancar, hasil penjualan bisa berubah meskipun bisnis masih terus melakukan promosi.
5 Masalah Digital Marketing Bisnis yang Sering Tidak Disadari
1. Target Audiens Bisnis Belum Jelas
Masalah digital marketing bisnis yang sering terjadi adalah bisnis berusaha menjangkui semua orang. Pemilik bisnis mungkin berpikir bahwa menargetkan lebih banyak konsumen akan memperbesar peluang penjualan.
Padahal, pesan iklan yang terlalu umum bisa membuat fokusnya hilang. Calon pelanggan akan lebih tertarik jika bisnis menjelaskan manfaat produk sesuai dengan kebutuhan mereka.
Misalnya, sebuah perusahaan menawarkan barang berkualitas tinggi dengan harga yang relatif mahal. Jika bisnis menggunakan kalimat seperti “produk berkualitas untuk semua orang”, pesan tersebut mungkin tidak menarik bagi pelanggan yang benar-benar mencari produk premium.
Pemilik bisnis harus mengetahui pelanggan yang ingin dituju dengan lebih jelas. Bisnis bisa mengenali kebutuhan, masalah, kebiasaan, kemampuan untuk membeli, serta alasan seseorang memilih produk tertentu. Dengan tujuan yang lebih jelas, bisnis bisa membuat konten dan penawaran yang lebih sesuai.
2. Terlalu Fokus pada Traffic dan Followers
Pengikut bertambah, tayangan meningkat, dan pengunjung website juga semakin banyak, memang terasa positif. Namun, angka tersebut belum otomatis menghasilkan omzet.
Misalnya, sebuah akun mendapatkan ribuan tayangan dari konten hiburan. Konten tersebut berhasil menarik perhatian banyak orang, tetapi hanya sebagian kecil penonton yang benar-benar membutuhkan produk yang bisnis jual. Akhirnya, bisnis memperoleh banyak interaksi, tetapi penjualan tidak meningkat secara signifikan.
Justru, jumlah pengunjung yang lebih sedikit bisa menghasilkan lebih banyak transaksi jika pengunjung itu benar-benar membutuhkan produk tersebut. Oleh karena itu, bisnis harus membandingkan jumlah pengunjung dengan leads dan transaksi.
Pemilik bisnis juga perlu memperhatikan conversion rate. Jika banyak orang mengunjungi halaman produk tetapi hanya sedikit yang membeli, bisnis harus mencari tahu bagian mana yang membuat calon pembeli berhenti.
Baca juga: Media Sosial 2026: Kenapa Bisnis yang Cuma Rajin Posting Makin Susah Ditemukan?
3. Konten Banyak, tetapi Tidak Mengarahkan ke Pembelian
Bisnis perlu membuat konten secara rutin. Namun, konsistensi sendiri belum cukup jika tiap konten tidak memiliki tujuan yang jelas.
Sebagian konten bisa menjelaskan permasalahan yang dihadapi oleh calon pembeli. Konten berikutnya bisa memberi pemahaman dan mengenalkan cara-cara penyelesaian. Setelah calon pelanggan tahu manfaat produk, bisnis bisa mengajak mereka melihat produk, bertanya kepada pihak admin, atau langsung membeli.
Alur tersebut membantu bisnis mengarahkan audiens dari tahap mengenal sampai ke tahap mempertimbangkan produk. Jadi, bisnis tidak hanya membuat konten untuk mendapatkan likes, tetapi juga mengarahkan pengikut agar memahami langkah yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Call to action atau CTA juga harus muncul secara alami. Setelah menjelaskan manfaat produk, misalnya, bisnis bisa mengajak pembaca untuk melihat informasi produk lebih lanjut atau menghubungi admin.
Konten juga perlu membangun kepercayaan. Bisnis dapat menjelaskan cara kerja produk, menjawab pertanyaan yang sering diajukan, menyajikan informasi dengan jelas, dan memberikan alasan yang membuat calon pelanggan lebih percaya sebelum membeli.
Baca juga: Viral Cepat, Dilupakan Juga Cepat: Cara UMKM Tetap Diingat Konsumen
4. Customer Journey Terlalu Rumit
Proses belanja yang terlalu lama atau rumit dapat membuat calon pembeli kehilangan minat. Perjalanan seorang pelanggan menggambarkan bagaimana seseorang mulai mengenal bisnis, sampai akhirnya memutuskan untuk membeli produk dan kembali menggunakan layanan tersebut.
Bayangkan calon konsumen melihat produk di Instagram. Ia kemudian bertanya melalui DM. Admin mengarahkannya ke WhatsApp. Setelah itu, calon pembeli perlu menanyakan lagi soal harga, meminta katalog, mengisi formulir, lalu menunggu instruksi selanjutnya sebelum bisa membeli.
Semakin banyak langkah yang tidak penting, semakin besar kemungkinan calon pelanggan berhenti sebelum menyelesaikan proses.
Bisnis dapat menyederhanakan proses tersebut. Informasi penting seperti harga, jenis produk, cara melakukan pemesanan, metode pembayaran, serta cara menghubungi admin sebaiknya mudah untuk dicari.
Jika calon pelanggan membutuhkan bantuan, admin harus memberikan petunjuk yang mudah dipahami. Petunjuk yang jelas membuat pelanggan merasa lebih nyaman karena mereka tahu langkah yang harus dilakukan.
5. Bisnis Tidak Mengevaluasi Data secara Berkala
Masalah lain terjadi ketika pemilik bisnis hanya memperhatikan nilai pendapatan akhir bulan tanpa mencari tahu sumber dari angka tersebut. Padahal, data pemasaran bisa membantu bisnis mengetahui kanal mana yang benar-benar memberikan hasil yang baik.
Pemilik bisnis dapat mulai mengevaluasi jumlah leads, tingkat konversi, biaya per lead, biaya akuisisi pelanggan, pesanan ulang, serta omzet dari setiap saluran.
Biaya per lead menunjukkan jumlah uang yang bisnis keluarkan untuk mendapatkan satu calon pelanggan. Sementara itu, biaya akuisisi pelanggan membantu bisnis menghitung jumlah uang yang mereka keluarkan untuk mendapatkan pelanggan baru.
Bisnis juga perlu memperhatikan repeat order. Jika seorang pelanggan hanya membeli sekali, bisnis harus melihat kembali pengalaman pelanggan setelah beli dan mencari cara untuk tetap menjaga hubungan dengan pelanggan tersebut.
Likes dan followers tetap bisa jadi informasi tambahan. Namun, bisnis sebaiknya tidak menganggap dua angka tersebut sebagai satu-satunya penanda keberhasilan pemasaran.
Baca juga: Digital Marketing 2026: Dulu Kejar Google, Sekarang Harus Kejar AI Juga?
Gejala Masalah Digital Marketing Bisnis dan Penyebabnya
| Gejala yang Terlihat | Kemungkinan Masalah | Hal yang Perlu Dievaluasi |
|---|---|---|
| Traffic tinggi tetapi penjualan rendah | Audiens tidak sesuai atau conversion rate rendah | Target audiens dan landing page |
| Followers bertambah tetapi omzet tetap | Konten tidak mengarah pada pembelian | Content funnel dan CTA |
| Iklan ramai klik tetapi sedikit transaksi | Pesan iklan atau penawaran kurang relevan | Targeting, penawaran, dan landing page |
| Banyak chat tetapi sedikit closing | Proses penjualan kurang efektif | Respons admin dan sales process |
| Pelanggan membeli sekali lalu tidak kembali | Retensi pelanggan rendah | After-sales dan strategi repeat order |
Tabel tersebut menunjukkan bahwa satu gejala bisa disebabkan oleh beberapa hal yang berbeda. Traffic tinggi, misalnya, belum tentu menjadi masalah. Bisnis harus memeriksa apakah pengunjung yang datang berasal dari calon pelanggan yang tepat dan apakah halaman tujuan mampu mengajak mereka untuk membeli.
Oleh karena itu, pemilik bisnis tidak boleh langsung mengubah seluruh strategi hanya karena satu metrik terlihat kurang baik. Bisnis harus menilai seluruh perjalanan pelanggan agar pemilik bisnis dapat menemukan bagian yang paling perlu diperbaiki.
Apakah Omzet Tidak Stabil Selalu Berarti Strategi Marketing Gagal?
Tidak selalu. Fluktuasi dalam omzet bisnis bisa terjadi karena beberapa hal. Musim tertentu, tren pasar, kemampuan beli konsumen, waktu promo, dan sifat produk bisa memengaruhi banyaknya penjualan.
Bisnis yang menjual peralatan sekolah, seperti buku dan tas, seringnya mengalami peningkatan pesanan sebelum masa sekolah dimulai. Setelah masa itu selesai, penjualan mungkin kembali memburuk. Kondisi tersebut tidak berarti otomatis menunjukkan bahwa strategi pemasaran gagal.
Namun, pengusaha tetap harus mengecek faktor-faktor yang bisa mereka atur. Jika penjualan menurun karena bisnis menghentikan promosi, mengubah target pasar, memperumit proses belanja, atau membuat konten yang tidak lagi mendatangkan calon pelanggan, pemilik bisnis dapat mengambil langkah berdasarkan hasil evaluasi.
Dengan cara ini, para pengusaha dapat mengidentifikasi faktor eksternal dan memperbaiki masalah internal yang masih bisa mereka kendalikan.
Cara Mengatasi Masalah Digital Marketing Bisnis
Setelah memahami masalah digital marketing bisnis, pemilik bisnis tidak harus langsung mengubah seluruh strategi mereka. Mulailah dari bagian yang paling berpengaruh terhadap penjualan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Tentukan target konsumen. Kenali orang yang paling membutuhkan produk dan alasan mereka membelinya.
- Periksa sumber traffic. Cari tahu kanal mana yang mengarahkan pengunjung dan calon pelanggan.
- Evaluasi konten yang menghasilkan leads. Jangan hanya melihat konten dengan likes tertinggi.
- Ukur conversion rate. Bandingkan jumlah calon pelanggan dengan jumlah transaksi.
- Sederhanakan customer journey. Kurangi langkah-langkah yang tidak penting mulai dari proses mencari informasi hingga saat membeli.
- Bandingkan performa setiap channel. Cari tahu kanal mana yang menghasilkan leads, transaksi, dan omzet.
- Bangun strategi retensi pelanggan. Jaga hubungan dengan pelanggan yang sudah pernah beli agar mereka mau beli lagi.
- Lakukan evaluasi secara berkala. Bisnis perlu menentukan perubahan strategi berikutnya berdasarkan hasil evaluasi.
Bisnis tidak harus mengubah semuanya sekaligus. Jika masalah utamanya terletak pada target pasar, bisnis bisa mulai memperbaiki cara membagi audiensnya terlebih dahulu. Jika ada masalah saat proses pembelian, bisnis bisa mempermudah alur tersebut terlebih dahulu sebelum mencoba metode lainnya.
Baca juga: Promosi Bisnis Menggunakan Influencer: Wajib atau Sekadar Pilihan?
Kesimpulan
Pemilik bisnis tidak selalu menjual produk yang buruk ketika omzet online mereka tidak konsisten. Masalah digital marketing bisnis dapat muncul ketika pemilik bisnis belum menentukan target pembeli dengan jelas, belum mengubah pengunjung website menjadi pelanggan, belum membuat konten dengan tujuan yang jelas, membuat perjalanan pembeli terlalu rumit, atau belum menganalisis data secara teratur.
Oleh karena itu, pemilik bisnis harus memandang pemasaran sebagai suatu proses yang berkelanjutan. Setiap tahap berperan dalam membantu calon pelanggan memahami bisnis, mempertimbangkan produk, melakukan pembelian, dan kembali menjadi pelanggan.
Penilaian secara rutin bisa membantu bisnis mengetahui masalah-masalah yang paling berpengaruh terhadap penjualan. Dengan cara itu, pemilik bisnis bisa menyesuaikan strategi mereka sesuai dengan keadaan sebenarnya, bukan hanya mengandalkan jumlah likes, followers, atau views.
Jika ingin mengulik lebih jauh masalah digital marketing bisnis dan strategi pemasaran yang lebih terarah, Anda dapat mengunjungi website resmi kami
Atau berkonsultasi langsung dengan admin melalui WhatsApp di
Dengan evaluasi yang tepat, bisnis dapat menemukan kelemahan, memperbaikinya, dan mengarahkan strategi pemasaran online secara lebih efektif.