Diskon 15%

Promo Berakhir Dalam:

23JAM
:
59MNT
:
59DTK
Klaim Sekarang →
📁 Digital Marketing

Hashtag Makin Sedikit, Tapi Kok Konten Tetap Bisa Ditemukan?

👤 Lina Faizatus Sholihah • 📅 September 17, 2026

Pernahkah Anda memperhatikan unggahan di Instagram atau TikTok sekarang? Banyak kreator tidak lagi memenuhi caption dengan belasan bahkan puluhan tanda pagar seperti dulu. Beberapa tahun lalu, kreator kerap menambahkan banyak tanda pagar dalam satu unggahan dengan harapan lebih banyak orang melihat kontennya. Kini, mereka mulai memilihnya secara lebih selektif. Hashtag makin sedikit, tetapi pengguna tetap menemukan konten saat mencari topik tertentu. Jadi, apa yang sebenarnya membantu konten tersebut menjangkau pengguna?

Perubahan ini tidak lantas membuat hashtag kehilangan seluruh fungsinya. Sebaliknya, cara pengguna menemukan konten di media sosial terus berkembang. Platform tidak lagi hanya mengandalkan tanda pagar untuk memahami sebuah unggahan. Kata-kata dalam caption, informasi profil, topik konten, aktivitas pengguna, dan interaksi dengan konten juga membantu platform menentukan hasil yang relevan.

TikTok kini tidak hanya mengandalkan halaman For You untuk menampilkan konten kepada pengguna. Banyak orang juga membuka fitur pencarian saat ingin mencari informasi atau topik tertentu. Dalam laporan TikTok World 2025, TikTok mencatat miliaran pencarian setiap hari di platformnya. Jumlah pencarian tersebut naik lebih dari 40% dalam satu tahun. Memasuki 2026, TikTok terus mengembangkan fitur pencarian. Pengguna mengetik topik yang mereka cari, lalu TikTok menampilkan berbagai konten yang berkaitan dengan topik tersebut.

Hashtag Makin Sedikit, Apa yang Sebenarnya Berubah?

Cara orang memakai hashtag sekarang mulai berubah. Kreator tidak lagi mengandalkan banyak tanda pagar untuk menjangkau audiens. Dulu, banyak orang mengira jumlah tag yang lebih banyak akan memperbesar peluang konten muncul di hadapan pengguna. Kini, Instagram mendorong penggunaan yang lebih selektif. Pada akhir 2025, Instagram menetapkan batas maksimal lima hashtag untuk unggahan dan Reels.

Instagram juga menyarankan kreator memilih tanda pagar yang lebih sedikit dan spesifik. Jadi, kreator tidak perlu memenuhi caption dengan daftar tagar generik yang panjang. Ruang yang lebih terbatas membuat kreator perlu memilihnya dengan lebih cermat. Namun, hal ini bukan berarti kreator tidak bisa menjangkau audiens melalui pencarian.

Instagram sebelumnya menjelaskan cara kerja sistem Search ketika pengguna mencari sesuatu. Sistem Search mencocokkan kata pencarian dengan informasi dalam akun, mulai dari nama pengguna, nama profil, bio, caption, hashtag, hingga lokasi. Instagram juga melihat aktivitas pengguna dan popularitas hasil pencarian saat menyusun daftar hasil Search.

Jadi, hashtag hanya menjadi salah satu bagian dalam sistem pencarian media sosial. Perubahan ini juga mengikuti kebiasaan pengguna yang semakin beragam. Sekarang, orang tidak selalu membuka halaman tanda pagar ketika mencari konten. Mereka bisa langsung mengetik pertanyaan atau kebutuhan, misalnya “rekomendasi kopi Surabaya”, “cara membuat konten TikTok”, “baju kondangan wanita”, atau “ide bekal anak”. Karena itu, kreator perlu menjelaskan topik konten secara jelas. Kejelasan topik membantu pengguna mengenali isi konten dan membantu platform menghubungkan konten dengan pencarian yang relevan.

Bagaimana Pengguna Menemukan Konten Tanpa Banyak Hashtag?

Beberapa faktor membuat pengguna tetap menemukan konten meskipun kreator tidak memakai banyak hashtag.

1. Kata kunci pada caption

Caption bisa memberi gambaran yang jelas tentang isi sebuah unggahan. Misalnya, akun kedai kopi membuat konten dengan topik “rekomendasi kopi susu di Surabaya”. Kalimat tersebut langsung menjelaskan topik konten, sedangkan deretan hashtag umum belum tentu memberi informasi yang sama.

Instagram sudah menjelaskan bahwa sistem Search memperhatikan kata yang pengguna masukkan saat mencari sesuatu. Sistem tersebut kemudian mencocokkan kata pencarian dengan caption dan informasi lain di profil. Karena itu, pilih bahasa yang biasa muncul dalam pencarian audiens saat menulis caption. Hindari kalimat yang hanya mengejar kesan menarik tanpa menjelaskan isi konten.

2. Teks yang muncul dalam konten

Kata kunci pun bisa muncul lewat teks yang ada di video atau gambar. Sebagai contoh, sebuah video UMKM makanan menampilkan tulisan “Menu sarapan praktis untuk anak kos”.

Pengguna yang mencari topik serupa punya konteks lebih jelas saat menemukan video itu. Meski begitu, kreator tetap harus memastikan teksnya selaras dengan isi konten. Jangan mencantumkan kata kunci populer yang sebenarnya tidak relevan hanya untuk mengejar pencarian.

3. Topik dan konteks konten

Algoritma media sosial tidak hanya melihat satu bagian dari sebuah konten. Platform juga membaca topik konten dan menghubungkannya dengan minat pengguna. TikTok, misalnya, menyediakan fitur Creator Search Insights. Fitur tersebut menunjukkan topik yang sering orang cari di TikTok. Kreator bisa melihat daftar topik itu, lalu mencari ide dari topik yang belum banyak muncul di TikTok. Jadi, kreator perlu memahami topik yang sedang menarik perhatian audiens sebelum membuat konten.

Pelajari juga: “FYP Terus, Tapi Kok Nggak Laku?” Ini yang Sering Salah dari Konten TikTok cari tahu bagaimana kreator bisa mengoptimalkan konten TikTok agar tidak hanya mengejar FYP, tetapi juga menarik perhatian audiens.

4. Relevansi dengan pencarian pengguna

Bayangkan ada orang yang mengetik “cara memilih sunscreen untuk kulit berminyak”. Konten yang membahas secara gamblang cara memilih sunscreen untuk kulit berminyak punya konteks yang lebih kuat daripada konten yang sekadar menyertakan hashtag populer seperti #fyp atau #viral.

Karena itu, kreator perlu memahami search intent atau tujuan pengguna saat melakukan pencarian. Apa yang sebenarnya mereka cari? Bisa jadi mereka membutuhkan informasi, rekomendasi, tutorial, inspirasi, atau produk tertentu. Dari kebutuhan tersebut, kreator bisa memilih topik dan format konten yang paling sesuai untuk audiensnya.

5. Interaksi pengguna

Interaksi turut memainkan peran dalam perjalanan suatu konten. Setelah melihat konten, orang bisa menyukai, menyimpan, membagikannya, berkomentar, menonton, atau mengunjungi profil.

Meta menerangkan bahwa sistem peringkat Instagram memperhitungkan seberapa besar kemungkinan pengguna melakukan beragam tindakan pada sebuah unggahan, misalnya menyukai, menyimpan, berkomentar, atau membuka profil.

Akan tetapi, jangan menafsirkan hal ini sebagai “makin banyak interaksi, pasti makin tinggi jangkauannya”. Tiap sistem punya banyak sinyal dan mekanisme yang bisa berubah.

6. Profil akun yang jelas

Profil juga memberi petunjuk tentang bidang sebuah akun. Misalnya, akun bisnis bisa menjelaskan bidang usahanya sejak bagian bio. Daripada menulis “just sharing my life”, pemilik kedai bisa menulis “Kedai kopi dan makanan ringan | Surabaya”. Bio tersebut langsung memberi tahu calon audiens tentang usaha, produk, dan lokasi yang mereka tawarkan.

7. Perilaku pengguna di platform

Media sosial kini makin bersifat personal. Konten yang tampil untuk seseorang belum pasti muncul dengan cara serupa bagi orang lain. TikTok memaparkan bahwa pengguna bisa membangun pengalaman For You lewat aktivitas seperti menyukai, menyimpan, mencari topik, dan menikmati konten yang relevan. Oleh sebab itu, strategi konten tidak cukup jika hanya memikirkan hashtag. Kreator pun perlu memahami kebiasaan audiens yang hendak mereka jangkau.

Bukan Berarti Hashtag Tidak Berguna

Melihat penggunaan hashtag yang semakin sedikit, sebagian orang mungkin menganggapnya sudah tidak berguna. Padahal, anggapan tersebut terlalu sederhana. Tanda pagar masih membantu pengguna mengenali topik sebuah konten dan mencari unggahan dengan tema tertentu. Instagram pun masih menyediakan halaman khusus serta fitur pencarian terkait tanda pagar. Karena itu, kreator sebaiknya tidak mengandalkan elemen ini sebagai satu-satunya cara untuk menjangkau audiens.

Sebagai contoh, sebuah toko pakaian memakai:

#fashion #fashionista #style #ootd #viral #fyp #explore #trending

Deretan hashtag itu memang terlihat ramai. Namun, banyak hashtag belum tentu membuat orang langsung memahami produk sebuah akun. Karena itu, akun sebaiknya memilih hashtag sesuai dengan produk, lokasi, atau kategori kontennya. Misalnya, toko fesyen lokal bisa memilih hashtag sesuai jenis produk dan wilayah penjualannya. Dengan cara ini, hashtag membantu pengguna mengenali topik konten, sementara kualitas konten tetap menjadi fokus utama.

Strategi Hashtag yang Lebih Relevan pada 2026

Saat jumlah hashtag semakin sedikit, kreator perlu mengubah cara mereka membuat konten. Mereka tidak perlu memenuhi caption dengan banyak tanda pagar. Lebih baik, kreator fokus menjelaskan topik dengan bahasa yang jelas dan langsung. Dengan begitu, pengguna bisa langsung mengetahui isi konten, sementara sistem pencarian mendapat gambaran tentang topik tersebut.

1. Pilih hashtag yang benar-benar relevan

Pilihlah hashtag yang mencerminkan isi dari konten tersebut. Apabila membuat konten mengenai kedai kopi di Malang, pakailah istilah yang berhubungan dengan kopi, kedai, produk, atau lokasi itu. Jangan memakai hashtag populer yang tidak relevan hanya karena jumlah pencariannya banyak.

2. Gunakan kata kunci yang sesuai dengan topik

Sebelum menyusun konten, pahami dulu bagaimana audiens mengungkapkan kebutuhan mereka. Sebagai contoh, target audiens bisa jadi mencari “ide konten Instagram untuk UMKM”, bukan “strategi pemasaran digital bisnis kecil”. Makna keduanya memang serupa, namun pengguna dapat memakai istilah yang berbeda saat mencari. Sisipkan kata kunci utama secara alami di caption, judul visual, atau bagian video yang relevan.

3. Buat caption yang menjawab kebutuhan audiens

Caption tidak harus panjang. Yang penting, pembaca langsung tahu isi kontennya. Daripada menulis “Kalian wajib coba ini!”, coba tulis “Sedang mencari ide sarapan murah untuk anak kos? Coba tiga menu praktis dengan bahan sederhana.” Kalimat kedua terasa lebih jelas karena langsung menyebut topik dan kebutuhan pembaca.

4. Perkuat isi konten, bukan hanya hashtag

Jangan membuat konten yang isinya kosong lalu berharap hashtag bisa menutupinya. Buat pembuka yang langsung menarik perhatian, gunakan visual yang jelas, sajikan informasi yang berguna, dan ajak audiens berinteraksi dengan cara yang sesuai.

TikTok juga menekankan pentingnya kreativitas dan relevansi dalam sebuah konten. Ketika konten menjawab pertanyaan atau kebutuhan audiens, orang punya alasan untuk menonton sampai selesai, menyimpan, membagikan, atau kembali mengunjungi akun tersebut. Respons seperti ini juga bisa memberi kreator gambaran tentang minat audiens.

Pelajari juga: Kenapa Konten AI Cepat Dibuat, tapi Belum Tentu Disukai Gen Z? Cari tahu bagaimana kreator bisa memanfaatkan AI tanpa mengabaikan kualitas, kreativitas, dan kebutuhan audiens.

5. Evaluasi performa dan perilaku audiens

Jangan cuma berfokus pada besarnya jumlah tayangan. Perhatikan pula konten yang memicu simpanan, komentar, kunjungan profil, klik, atau respons lain yang selaras dengan tujuanmu.

Sebagai contoh, video A meraih 20.000 tayangan, namun hanya sedikit orang yang membuka profil. Sedangkan video B memperoleh 8.000 tayangan, tetapi mendatangkan lebih banyak kunjungan profil dan pertanyaan produk. Bagi akun bisnis, angka yang kedua dapat memberi gambaran yang lebih bermanfaat mengenai minat calon pelanggan.

Perbandingan Strategi Hashtag Lama dan Strategi 2026

Strategi LamaStrategi yang Lebih Relevan pada 2026Fokus
Menggunakan banyak hashtagMenggunakan hashtag yang lebih spesifik dan relevanKetepatan topik
Mengejar hashtag populerMemahami kata yang benar-benar dicari audiensSearch intent
Menyalin daftar hashtag dari konten lainMenyesuaikan hashtag dengan isi setiap kontenRelevansi
Mengandalkan hashtag untuk jangkauanMenggabungkan kata kunci, konten, profil, dan interaksiPenemuan konten
Caption sangat singkat tanpa konteksCaption menjelaskan topik dan kebutuhan audiensKonteks
Fokus pada jumlah tayanganMelihat berbagai bentuk respons audiensKualitas performa
Membuat konten berdasarkan tren sajaMenggabungkan tren dengan kebutuhan audiensNilai konten

Contoh Kasus di Indonesia

Bayangkan sebuah UMKM yang menjual rice bowl di Surabaya dan ingin memperoleh pelanggan lewat Instagram serta TikTok. Dengan pendekatan lama, pemilik usaha mungkin membuat video dengan caption singkat seperti “Menu baru kami sudah hadir!” lalu menambahkan banyak hashtag umum.

Cara tersebut sebenarnya tidak salah. Namun, caption itu masih memberikan sedikit informasi kepada calon pelanggan. Pemilik usaha bisa membuat video berjudul “Rice Bowl Ayam Pedas untuk Makan Siang di Surabaya”. Setelah itu, mereka bisa menulis caption yang menjelaskan pilihan menu, kisaran harga jika ada, lokasi toko, jam operasional, dan alasan menu tersebut cocok untuk makan siang.

Pelajari juga: Dulu Hanya Membuat Konten, Kini Membangun Bisnis: Ketika Content Creator Menjadi Pengusaha Cari tahu bagaimana kreator dapat mengembangkan konten menjadi bagian dari strategi bisnis dan membangun peluang usaha melalui media sosial.

Kreator tetap bisa memakai hashtag sebagai pelengkap konten, tetapi jumlahnya tidak perlu berlebihan. Misalnya, toko fesyen lokal bisa mengurangi hashtag generik lalu membuat konten “3 outfit kuliah yang nyaman untuk cuaca panas”. Konten tersebut langsung membahas kebutuhan audiens yang lebih spesifik.

Kedai kopi juga bisa memakai pendekatan yang sama. Konten “Rekomendasi kopi susu untuk pemula” langsung menjelaskan tujuan konten. Sebaliknya, unggahan yang hanya menampilkan segelas kopi dan deretan hashtag belum memberi gambaran yang jelas tentang topiknya.

Contoh-contoh tersebut bukan jaminan konten akan viral. Tujuannya adalah memperlihatkan bagaimana kreator dapat mengubah fokus dari sekadar mengejar hashtag menjadi memahami kebutuhan pencarian audiens.

Kesalahan Kreator Saat Memakai Hashtag

Terlalu banyak hashtag yang tidak relevan

Kreator tidak perlu mengejar jumlah hashtag. Instagram bahkan membatasi hashtag dalam unggahan dan Reels hingga maksimal lima. Karena itu, menambahkan hashtag sebanyak-banyaknya tidak lagi menjadi pilihan yang masuk akal. Kreator bisa memilih beberapa hashtag yang sesuai dengan topik dan isi konten.

Mengejar hashtag populer tanpa melihat konteks

Hashtag populer memang punya banyak pengikut, tetapi belum tentu cocok untuk semua akun. Akun kuliner lokal, misalnya, tidak bisa hanya mengandalkan hashtag umum untuk menarik calon pelanggan. Pemilik akun perlu memilih hashtag yang sesuai dengan topik, lokasi usaha, dan orang yang ingin mereka tarik.

Mengabaikan kata kunci dalam caption

Terlalu fokus pada hashtag bisa membuat kreator melupakan elemen penting lain dalam konten. Instagram juga menjelaskan bahwa sistem Search membaca kata yang pengguna masukkan ke kolom pencarian. Kata tersebut membantu sistem memahami maksud pencarian dan menyusun hasil yang sesuai.

Membuat konten hanya untuk algoritma

Audiens tidak hanya terdiri dari algoritma. Manusia masih berperan sebagai pihak yang menonton, membaca, menyimpan, dan membagikan konten. Apabila konten tampak penuh kata kunci namun tidak menyajikan informasi yang bermanfaat, pengguna punya lebih sedikit alasan untuk bertahan.

Tidak memahami maksud pencarian audiens

Individu yang menulis “cara membuat kopi susu” memerlukan jawaban yang tidak sama dengan orang yang menulis “kopi susu terdekat”. Kedua pencarian itu sama-sama membicarakan kopi, namun kebutuhan masing-masing berbeda. Sebelum menetapkan format dan pesan konten, kreator harus memahami perbedaan tersebut.

Jadi, Apakah Hashtag Masih Penting?

Jawabannya masih, hanya saja peran hashtag sekarang lebih spesifik. Perubahan ini menunjukkan bahwa kreator perlu mengubah cara mereka memakai hashtag dalam strategi konten. Instagram masih menyediakan fitur hashtag, sementara TikTok juga masih memasukkan hashtag dalam sistem pencariannya. Jadi, kreator tetap bisa memakai hashtag sebagai salah satu cara untuk membantu pengguna menemukan konten yang sesuai.

Namun, TikTok menegaskan bahwa menambahkan banyak hashtag tidak otomatis memperluas jangkauan konten. Kreator sebaiknya memilih hashtag sesuai dengan isi konten. Perkembangan fitur pencarian juga menunjukkan pentingnya kata kunci, konteks, perilaku pengguna, dan kualitas konten. TikTok menyediakan Creator Search Insights. Melalui fitur ini, kreator bisa melihat topik yang sering menarik perhatian audiens lalu mengembangkan ide konten dari topik tersebut.

Maka dari itu, strategi yang lebih masuk akal adalah memadukan beberapa elemen: pahami kebutuhan audiens, pakai kata kunci yang sesuai, buat konten yang menjawab pertanyaan, optimalkan informasi profil, gunakan hashtag secara relevan, kemudian evaluasi respons audiens.

Kesimpulan

Perubahan penggunaan hashtag menunjukkan bahwa kreator perlu mengubah cara mereka membangun strategi konten. Hashtag makin sedikit bukan berarti hashtag kehilangan fungsi, tetapi kreator kini perlu memilihnya dengan lebih cermat. Selain hashtag, kata kunci, caption, topik, profil, perilaku pengguna, dan kualitas konten ikut membantu pengguna menemukan konten.

Karena itu, kreator tidak perlu memenuhi unggahan dengan banyak tanda pagar. Fokuskan strategi pada konten yang menjelaskan topik secara jelas dan sesuai dengan kebutuhan audiens. Saat pengguna mencari informasi, mereka tidak hanya melihat hashtag. Mereka juga memasukkan kata tertentu ke kolom pencarian dan memilih konten yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pada akhirnya, hashtag tetap memiliki tempat dalam strategi SEO media sosial, tetapi kreator sebaiknya tidak menjadikannya sebagai satu-satunya cara untuk menjangkau audiens. Pilih hashtag yang relevan, gunakan kata kunci secara natural, buat caption yang jelas, lalu evaluasi respons audiens secara berkala. Dengan cara tersebut, kreator dapat membangun strategi penemuan konten yang lebih menyeluruh.

Ingin tahu bagaimana strategi SEO media sosial dapat membantu konten bisnis Anda menjangkau audiens yang tepat? Kunjungi Isee Digital Marketing untuk mempelajari layanan dan solusi digital marketing yang tersedia.

Masih bingung memilih hashtag, kata kunci, atau strategi konten untuk akun bisnis Anda? Hubungi WhatsApp Admin Isee Digital Marketing di wa.me/6289508029834.untuk berkonsultasi mengenai kebutuhan digital marketing Anda.

Dipercaya oleh Partner Global

Google Partner
Meta Business
TikTok Shop