Banyak bisnis kini memanfaatkan konten AI untuk Gen Z agar mereka bisa mempercepat produksi konten. Bayangkan sebuah UMKM bisa membuat 20 caption, 10 ide video, dan berbagai desain promosi hanya dalam satu sore. AI generatif membantu pemilik usaha menyiapkan berbagai kebutuhan konten tanpa menghabiskan waktu berjam-jam.
Namun, banyaknya konten belum tentu menarik perhatian audiens. Coba pikirkan: apakah mereka benar-benar mau berhenti dan melihat setiap unggahan? Sebuah konten memang bisa terlihat rapi, memiliki alur yang jelas, dan mengikuti tren media sosial. Namun, tampilan yang rapi belum tentu membuat orang berhenti menggulir layar. Gen Z setiap hari melihat konten dari bisnis, kreator, dan komunitas. Ketika sebuah unggahan terasa mirip dengan konten lain, mereka bisa langsung melewatinya.
Di sinilah konten AI untuk Gen Z menghadapi tantangan. AI membantu bisnis bekerja lebih cepat, tetapi kecepatan produksi tidak otomatis membuat audiens merasa dekat. Gen Z ingin menemukan konten yang relevan dengan keseharian mereka, bukan sekadar unggahan yang muncul karena bisnis ingin terus aktif di media sosial.
Mengapa Bisnis Semakin Banyak Menggunakan AI untuk Membuat Konten?
Kemajuan AI generatif menjadikan proses produksi konten lebih praktis. Pemilik bisnis bisa meminta bantuan AI untuk mencari ide, menyusun kerangka artikel, membuat caption, merancang konsep video, sampai melakukan penyuntingan awal.
Bagi UMKM, kemampuan itu tentu menarik. Tidak semua pemilik usaha punya tim pemasaran khusus. Ada pemilik kedai kopi yang harus mengurus operasional, ada penjual pakaian yang menangani pesanan sendiri, dan ada pemilik jasa lokal yang sekaligus mengelola media sosial.
AI lalu hadir sebagai alat bantu untuk menghemat waktu. Sebagai contoh, pemilik kedai kopi bisa memberi informasi soal menu baru kepada AI dan meminta sejumlah ide konten Instagram. Dalam hitungan detik, AI mampu menyajikan beragam alternatif caption dan konsep video.
Persoalan muncul ketika pemilik bisnis langsung memakai hasil pertama dari AI. Tanpa pengalaman, cerita, atau karakter bisnis, konten tersebut mudah terlihat biasa di mata audiens. Audiens tidak hanya mencari informasi dari sebuah unggahan. Mereka juga ingin melihat cerita dan keunikan yang membuat sebuah bisnis terasa punya karakter sendiri.
Google sendiri tidak melarang pemakaian AI dalam pembuatan konten. Panduannya menegaskan bahwa konten tetap harus memberi nilai yang bermanfaat, orisinal, dan mengutamakan pengguna. Google pun memperingatkan penggunaan AI untuk menghasilkan banyak konten tanpa nilai tambah bagi pengguna. Artinya, persoalannya bukan cuma “AI atau bukan AI?”, melainkan “apa yang bisnis tambahkan setelah memakai AI?”
Kenapa Gen Z Tidak Selalu Menyukai Konten AI?
1. Konten AI untuk Gen Z Terasa Terlalu Generik
Salah satu persoalan yang paling gampang terlihat adalah pemakaian bahasa yang terlalu umum. Sebagai ilustrasi, ada sebuah UMKM yang hendak mempromosikan minuman kopi. AI bisa saja menghasilkan kalimat seperti “Nikmati secangkir kopi berkualitas dengan cita rasa autentik yang cocok menemani aktivitas Anda.”
Kalimat itu memang terdengar rapi. Tetapi, mampukah kalimat tersebut membedakan satu kedai dengan kedai yang lain? Belum pasti. Gen Z bisa menjumpai puluhan konten dengan gaya komunikasi yang mirip hanya dengan menggulir media sosial selama beberapa menit. Saat sebuah konten tidak punya ciri khas, audiens tidak mempunyai alasan yang kuat untuk mengingatnya.
Konten AI untuk Gen Z jangan hanya mengandalkan kalimat yang terdengar keren. Bisnis perlu memasukkan cerita yang mereka alami sendiri. Pemilik kedai, misalnya, bisa menceritakan menu yang paling sering pelanggan pilih, suasana kedai saat hujan, kebiasaan pelanggan mengerjakan tugas, atau pengalaman ketika memulai usaha. Cerita sederhana seperti ini mendekatkan konten dengan kehidupan audiens dan menunjukkan karakter asli bisnis.
2. Konten AI untuk Gen Z Perlu Bahasa yang Natural
Gen Z tidak selalu mengutamakan bahasa yang sempurna. Pada banyak kesempatan, bahasa yang terdengar alami justru lebih efektif menarik perhatian.
Bandingkan dua caption di bawah ini:
Versi pertama:
“Rasakan pengalaman menikmati kopi yang luar biasa lewat perpaduan cita rasa yang membangkitkan selera.”
Versi kedua:
“Deadline menumpuk? Kopi dulu. Kalau tugasmu masih belum beres, setidaknya kamu punya alasan untuk istirahat selama lima menit.”
Versi kedua terasa lebih dekat dengan cara orang berbicara sehari-hari karena menghadirkan situasi yang konkret. Meski begitu, bisnis tidak harus memakai bahasa slang di setiap unggahan. Pilih gaya komunikasi yang sesuai dengan karakter bisnis dan cara audiens berinteraksi. Jika bisnis terlalu sering memakai bahasa formal, kalimat yang terlalu sempurna, atau kata-kata promosi, audiens bisa merasa kontennya kurang dekat dengan keseharian mereka.
3. Konten AI untuk Gen Z Membutuhkan Pengalaman Nyata
AI memang bisa mengolah informasi yang kita berikan. Namun, AI tidak berada di meja kasir saat pelanggan mengeluh karena pesanan mereka terlambat. AI juga tidak ikut melihat ekspresi pelanggan ketika mereka pertama kali mencicipi menu baru. Pemilik bisnis dan timnya yang mengalami momen seperti itu secara langsung.
Karena itu, pengalaman nyata punya peran penting dalam konten AI untuk Gen Z. Pemilik usaha bisa memanfaatkan AI untuk mengolah pengalaman sehari-hari menjadi berbagai ide konten. Misalnya, satu cerita dari pelanggan bisa berkembang menjadi video pendek, caption Instagram, artikel blog, atau carousel. AI membantu mengembangkan idenya, tetapi pemilik usaha tetap membawa cerita dan pengalaman yang sebenarnya.
4. Terlalu Mengikuti Tren
Mengikuti tren memang bisa menolong bisnis memperoleh perhatian. Akan tetapi, tidak semua tren sesuai untuk tiap merek. Persoalan timbul saat bisnis membuat konten semata-mata karena format tertentu sedang populer.
Akibatnya, banyak akun memakai pola pembuka, struktur video, dan gaya bahasa yang nyaris serupa. Gen Z lantas menyaksikan pola itu berulang kali. Konten yang tadinya menarik bisa kehilangan daya tariknya ketika semua akun memakainya.
Oleh sebab itu, bisnis perlu bertanya sebelum mengikuti tren “Apa hubungan tren ini dengan bisnis dan audiens saya?” Bila jawabannya tidak jelas, mungkin bisnis tak perlu ikut hanya agar terlihat mengikuti perkembangan. Akan tetapi, jumlah konten yang banyak tidak selalu berarti perhatian yang banyak pula.
Pelajari juga: Kenapa Video Marketing 2026 yang Banyak Ditonton Belum Tentu Menghasilkan Penjualan? Cari tahu bagaimana jumlah penonton bisa terlihat tinggi, tetapi belum tentu menunjukkan keberhasilan sebuah konten.
5. Tidak Memiliki Karakter Bisnis
Setiap bisnis punya cerita masing-masing. Warung makan keluarga tentu memiliki pengalaman yang berbeda dari kedai kopi yang baru memulai usaha. Toko pakaian lokal juga punya karakter sendiri, begitu pula penjual produk digital. Begitu juga dengan orang yang mengubah hobinya menjadi bisnis. Pengalaman mereka tentu berbeda dari pemilik usaha yang sudah menjalankan bisnis selama bertahun-tahun.
Akan tetapi, AI tidak serta-merta memahami semua karakter tersebut. Apabila bisnis hanya memberi prompt seperti “buatkan caption Instagram untuk produk saya”, hasilnya kemungkinan masih bersifat umum. Sebaliknya, bila bisnis menyampaikan informasi mengenai target pelanggan, gaya bahasa, riwayat usaha, permasalahan pelanggan, keunggulan produk, serta contoh komunikasi sebelumnya, AI bisa menghasilkan bahan yang jauh lebih relevan.
Contoh Konten AI untuk Gen Z pada UMKM di Indonesia
Bayangkan terdapat sebuah kedai kopi mungil di dekat area kampus. Sang pemilik hendak mempromosikan menu kopi susu yang baru. Ia meminta AI untuk membuat caption yang menyasar mahasiswa dan Gen Z.
Hasil pertamanya mungkin seperti ini “Sudah siap mencoba varian kopi susu terbaru kami? Nikmati kombinasi rasa kopi dan susu yang pas untuk menemani aktivitas harian Anda.” Kalimat itu sebenarnya tidak memiliki kesalahan. Akan tetapi, konten tersebut belum memperlihatkan alasan mengapa kedai ini berbeda.
Kini, pemilik memberi konteks tambahan “Mayoritas pelanggan kami adalah mahasiswa. Menu ini kami ciptakan setelah banyak pelanggan meminta kopi yang tidak terlalu manis. Banyak pelanggan umumnya datang seusai kelas sore dan mengerjakan tugas di kedai.”
AI lantas bisa membantu mengembangkan cerita itu. Hasil akhirnya dapat berupa konten yang mengulas bagaimana menu tersebut lahir dari kebiasaan pelanggan. Pemilik juga bisa menambahkan video proses pembuatan, komentar pelanggan, atau suasana kedai setelah jam kuliah. Di sinilah konten AI untuk Gen Z jadi lebih menarik. AI tetap berperan, namun manusia menyediakan bahan yang membuat konten itu punya konteks.
Konten AI untuk Gen Z: Generik vs Sentuhan Manusia
| Konten Terlalu Generik | Konten Dengan Sentuhan Manusia | Dampaknya bagi Audiens |
|---|---|---|
| “Nikmati produk berkualitas dengan harga terbaik.” | Menjelaskan alasan pemilik memilih bahan tertentu dan bagaimana prosesnya. | Audiens mendapatkan cerita yang lebih nyata. |
| Menggunakan bahasa promosi yang sama di setiap unggahan. | Menggunakan gaya komunikasi yang sesuai karakter bisnis. | Akun lebih mudah dikenali. |
| Mengikuti semua tren media sosial. | Memilih tren yang sesuai dengan produk dan pelanggan. | Konten terasa lebih relevan. |
| Hanya menjelaskan fitur produk. | Menunjukkan pengalaman pelanggan menggunakan produk. | Audiens lebih mudah memahami manfaat. |
| Membuat banyak caption dengan struktur sama. | Mengombinasikan cerita, edukasi, hiburan, dan promosi. | Konten terasa lebih beragam. |
| Mengandalkan informasi umum dari AI. | Memasukkan pengalaman pemilik dan kondisi lokal. | Konten memiliki keunikan. |
AI Bukan Masalahnya, Cara Menggunakannya yang Menentukan
Sebenarnya, AI bisa menjadi alat yang amat berguna bagi para pemilik bisnis. Tantangan akan timbul saat bisnis menempatkan AI sebagai pengganti sepenuhnya atas kreativitas manusia. Padahal, bisnis bisa membagi pekerjaan dengan cara yang lebih cerdas.
AI mampu membantu mencari ide, menghasilkan sejumlah alternatif judul, menyusun kerangka, mengubah satu ide menjadi berbagai format, atau membantu menemukan sudut pandang baru. Sementara itu, manusia tetap berperan penting dalam memberi konteks, memeriksa fakta, menetapkan karakter komunikasi, memilih ide yang tepat, dan melakukan penyuntingan akhir.
Pelajari juga: AI vs Kreativitas Manusia: Apakah Digital Marketing Masih Membutuhkan Sentuhan Manusia? Untuk memahami bagaimana bisnis dapat memanfaatkan AI tanpa menghilangkan kreativitas manusia.
Google pun menekankan pentingnya konten yang berisi informasi orisinal, pengalaman langsung, analisis yang bernilai, serta manfaat yang jelas bagi pembaca. Dengan pola itu, AI berperan sebagai asisten kreatif, bukan sebagai satu-satunya sumber kreativitas.
Bagaimana Bisnis Membuat Konten AI untuk Gen Z Lebih Menarik?
UMKM dan pemilik bisnis bisa mencoba beberapa langkah sederhana agar konten AI mereka lebih menarik bagi audiens.
1. Masukkan Pengalaman Nyata ke dalam Prompt
Hindari hanya menulis “Buatkan caption untuk produk kopi.” Sertakan informasi seperti “Pelanggan sasaran kami adalah mahasiswa berusia 18–24 tahun. Mereka biasanya datang seusai kuliah. Produk ini punya cita rasa kopi yang lebih ringan, dan kami membuatnya sebab pelanggan menginginkan opsi yang tidak terlalu manis.”
Makin relevan konteks yang kamu berikan, makin gampang AI menolong menciptakan ide yang cocok.
2. Gunakan Gaya Komunikasi Bisnis Sendiri
Kalau bisnis Anda biasa berkomunikasi dengan gaya santai, berikan AI beberapa contoh caption yang pernah Anda gunakan. Untuk gaya bahasa yang sederhana dan hangat, jelaskan juga karakter tersebut agar AI bisa mengikutinya. Jangan biarkan AI menentukan identitas bisnis dari awal. Gunakan AI sebagai alat bantu untuk mengembangkan gaya komunikasi yang sudah Anda bangun.
3. Masukkan Cerita Pelanggan
Cerita pelanggan juga bisa menjadi bahan konten yang menarik. Misalnya, ada pelanggan yang membeli produk untuk hadiah, menemukan kedai dari rekomendasi teman, atau punya pengalaman unik setelah menggunakan sebuah layanan. Setelah mendapat izin dari pelanggan, bisnis bisa mengangkat cerita tersebut ke media sosial agar kontennya terasa lebih nyata dan dekat.
4. Sesuaikan Konten dengan Kebiasaan Gen Z
Gen Z punya kebiasaan dan selera yang beragam. Jadi, jangan menganggap semua Gen Z akan menyukai gaya komunikasi yang sama. Coba lihat komentar, pertanyaan, respons terhadap konten, serta topik yang sering menarik perhatian audiens Anda. Data dari akun bisnis bisa membantu Anda memahami apa yang sebenarnya mereka sukai, sehingga Anda tidak perlu hanya menebak dari asumsi tentang Gen Z.
5. Periksa dan Edit Hasil AI Sebelum Publikasi
Jangan buru-buru menekan tombol “unggah”.
Periksa lagi hasil dari AI lalu ajukan pertanyaan:
- Apakah kalimat ini sudah benar-benar mencerminkan bisnis saya?
- Apakah ada informasi yang terkesan terlalu umum?
- Apakah contoh tersebut benar-benar sesuai dengan kondisi pelanggan?
- Apakah ada bagian yang terasa berlebihan?
- Apakah konten ini mampu memberi alasan bagi audiens untuk berhenti menggulir?
6. Jangan Menggunakan Satu Pola untuk Semua Konten
Konten di media sosial perlu memiliki variasi. Saat ini, bisnis bisa membagikan kisah dari pelanggan. Esoknya, mereka dapat menyajikan tips singkat. Setelah itu, bisnis dapat menyiapkan video di balik layar, menjawab pertanyaan pelanggan, atau memperlihatkan proses produksi. AI mampu membantu menciptakan variasi tersebut, namun strategi kontennya tetap harus berlandaskan pemahaman terhadap audiens.
7. Pertahankan Identitas dan Karakter Bisnis
Pada akhirnya, orang tidak hanya mengikuti produk. Mereka juga ingin mengenal cerita, nilai, gaya komunikasi, dan pengalaman yang ada di balik sebuah bisnis.
Karena itu, jangan sampai penggunaan AI membuat semua unggahan terlihat sama. Manfaatkan AI untuk mempercepat pekerjaan, tetapi tetap tambahkan sudut pandang dan pengalaman bisnis Anda sendiri. Google juga mendorong bisnis untuk menghadirkan konten yang unik dan bermanfaat, bukan sekadar mengulang informasi umum.
Kecepatan Bukan Satu-satunya Ukuran Keberhasilan Konten
AI memang telah mengubah cara bisnis dalam membuat konten. Pemilik UMKM yang tadinya perlu berjam-jam mencari ide kini bisa mendapatkan banyak pilihan dalam waktu yang singkat. Akan tetapi, jumlah konten yang banyak tidak selalu berarti perhatian yang banyak pula.
Konten AI untuk Gen Z tetap memerlukan sentuhan manusia supaya memiliki konteks, karakter, dan pengalaman nyata. AI bisa membantu bisnis melangkah lebih cepat, namun manusia tetap yang menentukan arah konten tersebut.
Jadi, jangan hanya sibuk menghitung jumlah konten yang bisa AI hasilkan dalam sehari. Coba tanyakan hal yang lebih penting: apakah konten tersebut cukup menarik hingga audiens mau berhenti menggulir, membaca, menonton, atau mengingat bisnis Anda?
Sebab dalam pemasaran digital, kecepatan produksi memanglah penting. Tetapi, relevansi, keaslian, kreativitas, dan hubungan dengan audiens tetap menjadi bagian krusial dari strategi konten yang berkelanjutan.
Sudah memakai AI untuk membuat konten, tetapi masih bingung cara membuatnya lebih relevan dengan audiens? Cari tahu strategi pemasaran digital yang bisa Anda terapkan melalui Isee Digital Marketing.
Masih punya pertanyaan tentang strategi konten untuk bisnis? Yuk, hubungi admin Isee Digital Marketing melalui WhatsApp di wa.me/6289508029834 dan ceritakan kebutuhan bisnis Anda.