UMKM Indonesia kini semakin beralih ke digital marketing. Langkah ini bukan lagi sekadar tren sesaat. Perubahan tersebut terjadi karena kebiasaan konsumen telah bergeser secara signifikan.
Dulu, UMKM mengandalkan lokasi strategis, spanduk, atau promosi dari mulut ke mulut. Kini, calon pelanggan menemukan bisnis melalui video pendek, pencarian Google, marketplace, media sosial, ulasan, hingga rekomendasi algoritma.
Perubahan tersebut membuat digital marketing sulit dipisahkan dari aktivitas bisnis sehari-hari. Namun, alasan UMKM masuk ke ranah digital tidak sesederhana anggapan bahwa “semua orang sudah online”. Faktor ekonomi, teknologi, perilaku konsumen, dan persaingan ketat mendorong keputusan ini.
Data BPS melalui Statistik E-Commerce 2024 menunjukkan aktivitas perdagangan elektronik terus berkembang. Marketplace terbukti membantu memperluas pasar dengan biaya operasional relatif rendah, meskipun membawa risiko ketergantungan.
Di sisi konsumen, Indonesia memiliki basis pengguna digital yang sangat besar. DataReportal mencatat ada 212 juta pengguna internet pada awal 2025. Angka itu mencakup penetrasi sebesar 74,6% dari total populasi. Selain itu, jumlah identitas pengguna media sosial mencapai sekitar 143 juta atau 50,2% dari populasi. Angka-angka ini mempertegas mengapa pergeseran strategi bisnis menjadi sebuah keharusan.
Lalu, apa sebenarnya pendorong utama UMKM Indonesia beralih ke digital marketing? Artikel ini akan membahas penyebab utamanya. Kami juga akan mengulas data pendukung serta cara UMKM memanfaatkan strategi ini secara tepat, bukan sekadar mengikuti tren.
Digital Marketing Berubah dari Pilihan Menjadi Kebutuhan
Salah satu penyebab utama UMKM beralih ke digital marketing adalah perubahan fungsi internet. Internet kini bukan sekadar sarana mencari informasi.
Internet telah menjadi tempat konsumen menemukan produk, membaca ulasan, dan membandingkan harga. Konsumen juga berkomunikasi dengan penjual, melakukan transaksi, hingga mencari rekomendasi melalui internet. Ketika perilaku pelanggan berubah, cara bisnis mendapatkan pelanggan harus ikut beradaptasi.
Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang konsumen yang ingin membeli makanan ringan. Ia mungkin melihat video produk di media sosial terlebih dahulu. Konsumen itu lalu membuka profil bisnis untuk melihat komentar pelanggan. Selanjutnya, ia mengecek harga di marketplace dan menghubungi WhatsApp sebelum membeli.
Dalam situasi tersebut, pelanggan sudah melewati beberapa titik kontak digital. Hal ini terjadi bahkan sebelum transaksi benar-benar berlangsung.
Jika UMKM tidak hadir di kanal-kanal tersebut, peluang untuk ditemukan calon pembeli menjadi jauh lebih kecil. Inilah alasan pertama mengapa digital marketing semakin penting. Pelanggan kini telah berpindah ke ruang digital. Oleh karena itu, bisnis pun wajib hadir di tempat mereka mencari informasi dan mengambil keputusan.
Jumlah Pengguna Internet Membuat Pasarnya Terlalu Besar untuk Diabaikan
Besarnya pengguna internet Indonesia menciptakan pasar yang sulit diabaikan oleh UMKM. DataReportal mencatat 212 juta orang menggunakan internet di Indonesia pada awal 2025, yang artinya sekitar tiga dari empat penduduk Indonesia telah memiliki akses internet.
Media sosial juga memiliki posisi penting dengan sekitar 143 juta identitas pengguna pada Januari 2025. Instagram memiliki potensi jangkauan iklan sekitar 103 juta pengguna di Indonesia, sementara data TikTok menunjukkan potensi jangkauan sekitar 108 juta pengguna dewasa. Meskipun angka tersebut merupakan data jangkauan iklan platform dan bukan jumlah pengguna aktif bulanan, data ini menawarkan berbagai peluang yang sebelumnya sulit pelaku usaha peroleh lewat pemasaran konvensional.
Bagi UMKM, jangkauan pasar yang fleksibel ini mengubah cara bisnis beroperasi. Sebuah usaha makanan di kota kecil, misalnya, tidak lagi hanya memiliki pelanggan yang tinggal beberapa kilometer dari tokonya. Dengan strategi digital yang tepat, bisnis tersebut dapat:
- menjangkau konsumen di kota lain;
- mendapatkan pelanggan dari pencarian online;
- menjual melalui marketplace;
- membangun komunitas melalui media sosial;
- menerima pesanan melalui WhatsApp;
- menggunakan iklan untuk menjangkau target tertentu.
Biaya dan Efisiensi Menjadi Alasan Penting
Digital marketing juga menarik bagi UMKM karena memberikan fleksibilitas dalam mengatur anggaran pemasaran. Pebisnis konvensional sering kali mengeluarkan biaya di awal untuk mencetak materi promosi, memasang media luar ruang, atau menggunakan saluran dengan jangkauan yang sulit diukur. Sebaliknya, digital marketing memungkinkan bisnis memulai dari skala yang lebih kecil.
UMKM dapat membuat konten sendiri menggunakan smartphone dan menguji iklan dengan anggaran terbatas. Mereka juga dapat melihat metrik secara langsung, seperti jumlah orang yang melihat iklan, mengunjungi profil, menghubungi bisnis, hingga melakukan transaksi. Meskipun demikian, bukan berarti digital marketing selalu murah karena persaingan iklan digital semakin tinggi dan biaya mendapatkan pelanggan dapat meningkat ketika banyak bisnis menargetkan audiens yang sama.
Namun, keunggulan utamanya tetap terletak pada fleksibilitas dan kemampuan mengukur hasil, sehingga UMKM dapat menguji sebuah ide sebelum mengalokasikan anggaran lebih besar. Sebagai contoh, sebuah bisnis dapat mengeluarkan Rp100.000 untuk menguji dua jenis iklan. Jika iklan A menghasilkan lebih banyak inquiry dan transaksi daripada iklan B, Anda dapat mengarahkan anggaran lebih banyak ke iklan A. Pendekatan semacam ini memudahkan Anda mengukur hasil secara jauh lebih baik daripada sekadar memasang promosi tanpa mengetahui efektivitas akhirnya.
Baca Juga: Cara Mengukur ROI Digital Marketing untuk Bisnis agar Anggaran Marketing Lebih Menguntungkan
Marketplace Membuka Akses Pasar yang Lebih Luas
Perkembangan marketplace menjadi salah satu penyebab kuat UMKM semakin masuk ke dunia digital karena platform ini menyediakan infrastruktur yang sebelumnya harus dibangun sendiri oleh bisnis. UMKM tidak perlu langsung memiliki website dengan sistem pembayaran, katalog, dan mekanisme transaksi yang kompleks, sebab marketplace telah menyediakan sebagian besar fasilitas tersebut. BPS pun menyebut bahwa usaha mikro mendominasi aktivitas e-commerce di Indonesia, di mana mereka memanfaatkan platform ini untuk memperluas jangkauan pasar dengan biaya operasional yang relatif rendah.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, pelaku usaha perlu memperhatikan sejumlah konsekuensi yang ada. BPS menyoroti risiko penggunaan marketplace, termasuk ketergantungan terhadap platform, perubahan kebijakan, keterbatasan akses terhadap data pelanggan, dan persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu, UMKM sebaiknya tidak mengandalkan marketplace sebagai satu-satunya aset digital yang mereka miliki.
Meskipun marketplace sangat baik untuk mendapatkan dan mengonversi pelanggan, bisnis tetap perlu membangun aset mandiri melalui website, WhatsApp, database pelanggan, komunitas, dan brand sendiri.
Media Sosial Mengubah Cara UMKM Menjual Produk
Media sosial menjadi faktor lain yang mempercepat peralihan UMKM menuju digital marketing karena alasannya sederhana: konsumen tidak hanya menggunakannya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk menemukan produk. Berbagai format seperti video pendek, live streaming, review, testimoni, konten edukasi, dan rekomendasi kreator terbukti mampu memengaruhi keputusan pembelian. Perubahan ini semakin terlihat jelas pada tren video commerce saat ini.
Menurut laporan e-Conomy SEA 2025, volume transaksi video commerce Indonesia meningkat 90% secara tahunan menjadi 2,6 miliar transaksi, sementara jumlah penjual dan toko daring meningkat 75% menjadi sekitar 800 ribu. Angka ini memberikan sinyal penting bahwa konten dan transaksi kini semakin menyatu. Konsumen tidak selalu harus mencari produk dengan niat membeli sejak awal, melainkan dapat menemukannya secara tidak sengaja ketika sedang menikmati konten.
Bagi UMKM, dinamika ini menciptakan peluang baru di mana produk tidak harus selalu dijual melalui iklan langsung. Bisnis dapat memanfaatkan konten untuk menunjukkan masalah, memberikan solusi, memperlihatkan proses, membangun kepercayaan, baru kemudian mengarahkan konsumen menuju pembelian.
Perubahan Perilaku Konsumen Memaksa UMKM Beradaptasi
Perubahan perilaku konsumen mungkin menjadi penyebab paling mendasar dari peralihan UMKM ke digital marketing. Konsumen saat ini memiliki lebih banyak pilihan serta akses informasi yang sangat luas. Sebelum memutuskan untuk membeli, mereka biasanya membandingkan berbagai aspek seperti:
- harga dan kualitas;
- ulasan dan reputasi penjual;
- lokasi dan kecepatan pengiriman;
- promo serta pengalaman pelanggan lain.
Hal ini menandakan bahwa persaingan tidak lagi terbatas pada toko fisik yang berada di sebelahnya, sebab UMKM lokal kini bersaing langsung dengan penjual dari kota lain yang menawarkan produk serupa. Akibatnya, visibilitas digital menjadi semakin penting. BPS mengatakan bahwa usaha mikro mendominasi aktivitas e-commerce di Indonesia, serta memanfaatkan platform tersebut untuk memperluas jangkauan pasar dengan biaya operasional yang relatif rendah.
Pembayaran Digital Membuat Perjalanan Pelanggan Semakin Praktis
Digitalisasi pemasaran juga semakin kuat karena didukung oleh perubahan sistem pembayaran yang kian inklusif. Bank Indonesia mencatat bahwa hingga Semester I 2025, QRIS telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant, dengan 93,16% di antaranya merupakan UMKM. Pada periode tersebut, transaksi QRIS bahkan mencapai 6,05 miliar transaksi dengan nilai mencapai Rp579 triliun, yang menunjukkan bahwa pembayaran digital kini sudah sangat lekat dengan aktivitas bisnis sehari-hari.
Bagi bisnis, keseluruhan proses transaksi menjadi jauh lebih sederhana dan terintegrasi. Berbagai fungsi pendukung kini berjalan selaras: konten kreatif dapat menarik perhatian audiens, WhatsApp memudahkan komunikasi langsung, marketplace atau website memfasilitasi transaksi, dan QRIS mempercepat proses pembayaran. Pelaku usaha kemudian dapat menggunakan kembali seluruh rangkaian aktivitas serta data transaksi yang terkumpul untuk evaluasi bisnis ke depan.
Dengan demikian, digital marketing tidak berdiri sendiri sebagai strategi yang terpisah. Ia telah menjadi bagian utuh dari ekosistem bisnis digital yang semakin terintegrasi dan memudahkan perjalanan konsumen.
Persaingan yang Semakin Ketat Mendorong UMKM Masuk ke Digital
Ada faktor lain yang sering luput dibahas: UMKM tidak hanya masuk ke digital karena melihat peluang, tetapi juga karena takut tertinggal. Ketika kompetitor mulai aktif membuat video, menjalankan iklan, menggunakan marketplace, dan mendapatkan review pelanggan, bisnis yang tidak melakukan apa pun berisiko kehilangan perhatian pasar. Persaingan digital ini menciptakan efek domino yang unik: satu bisnis membuat konten, kompetitor melihatnya lalu membuat konten yang lebih menarik, bisnis pertama merespons dengan meningkatkan kualitas konten, hingga keduanya mulai menggunakan iklan dan pasar pun menjadi semakin kompetitif.
Karena itu, UMKM tidak cukup hanya sekadar “hadir” di ranah digital, melainkan harus memiliki pembeda yang kuat. Pembeda tersebut dapat berupa:
- kualitas produk dan harga;
- pelayanan dan kecepatan;
- cerita brand (brand story) dan keahlian;
- komunitas serta pengalaman pelanggan;
- atau positioning yang sangat spesifik.
AI Menurunkan Hambatan bagi UMKM
Perkembangan AI menjadi faktor terbaru yang semakin mempercepat digitalisasi UMKM. Sebelumnya, bisnis kecil mungkin membutuhkan waktu lama untuk melakukan riset konten, menulis copy, membuat variasi headline, atau menganalisis data, namun kini AI dapat membantu meringankan berbagai pekerjaan tersebut. Bahkan, laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat bahwa 80% pengguna di Indonesia berinteraksi dengan alat berbasis AI setiap hari, menunjukkan bahwa teknologi ini sudah sangat lekat dengan aktivitas digital masyarakat.
Bagi UMKM, kehadiran AI dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung berbagai operasional harian, seperti:
- mencari ide dan menyusun kalender konten;
- membuat draft caption dan merancang variasi iklan;
- menganalisis komentar pelanggan dan membuat FAQ;
- merangkum laporan pemasaran serta membantu riset kompetitor;
- membuat kerangka artikel dan mengembangkan ide video.
Namun, ada satu hal penting yang harus diperhatikan: AI tidak boleh menjadi alasan untuk membuat konten yang semakin generik. Jika semua bisnis menggunakan AI dengan instruksi (prompt) yang sama, hasilnya tentu akan terlihat seragam. Oleh karena itu, UMKM tetap perlu memasukkan pengalaman nyata, bahasa pelanggan, cerita pemilik bisnis, data internal, dan keunikan produk ke dalam konten mereka. Singkatnya, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan sebagai pengganti strategi bisnis yang autentik.
Digital Marketing Membantu UMKM Mengukur Pelanggan dengan Lebih Baik
Salah satu perbedaan terbesar antara pemasaran tradisional dan digital adalah kemampuan dalam membaca data, di mana UMKM kini dapat mulai melihat perjalanan pelanggan secara lebih konkrit melalui berbagai tahapan terukur:
| Tahap | Contoh pertanyaan | Metrik |
|---|---|---|
| Awareness | Berapa banyak orang melihat bisnis? | Reach, impressions |
| Interest | Apakah mereka tertarik? | Views, saves, comments |
| Consideration | Apakah mereka mencari informasi lebih lanjut? | Profile visits, product views |
| Conversion | Apakah mereka membeli? | Orders, conversion rate |
| Retention | Apakah mereka kembali? | Repeat order |
| Profit | Apakah strategi menguntungkan? | CAC, ROAS, margin |
Dengan ketersediaan data tersebut, UMKM dapat membuat keputusan bisnis yang jauh lebih rasional. Sebagai ilustrasi, sebuah konten yang memiliki 100.000 views tetapi hanya menghasilkan dua transaksi mungkin bagus untuk membangun awareness, namun belum tentu efektif sebagai konten penjualan. Sebaliknya, video yang hanya memiliki 10.000 views tetapi mampu menghasilkan 100 inquiry dan 20 transaksi bisa jauh lebih bernilai bagi bisnis. Inilah alasan mengapa pebisnis sebaiknya tidak mematok jumlah views semata sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dalam digital marketing.
Apa yang Sebenarnya Dicari UMKM dari Digital Marketing?
Jika Anda menggabungkan berbagai faktor di atas, Anda dapat meringkas alasan UMKM beralih ke digital marketing menjadi beberapa kebutuhan utama yang solusinya terjawab melalui teknologi:
| Kebutuhan UMKM | Solusi Digital Marketing |
|---|---|
| Menjangkau pelanggan baru | Social media, SEO, iklan digital |
| Memperluas pasar | Marketplace, website |
| Membangun kepercayaan | Review, testimoni, konten edukasi |
| Meningkatkan penjualan | Social commerce, ads, marketplace |
| Menghemat waktu | AI dan otomatisasi |
| Memahami pelanggan | Analytics dan data |
| Mempermudah pembayaran | QRIS dan pembayaran digital |
| Mempertahankan pelanggan | WhatsApp, CRM, komunitas |
Baca Juga: Peluang Digital Marketing bagi UMKM Indonesia di Tengah Perubahan Teknologi
Dengan kata lain, UMKM tidak beralih ke digital marketing hanya karena teknologi terlihat modern semata, melainkan karena teknologi tersebut benar-benar membantu menyelesaikan berbagai masalah bisnis yang nyata di lapangan.
Bagaimana UMKM Sebaiknya Memulai Digital Marketing?
Tidak semua UMKM memiliki sumber daya untuk langsung menjalankan strategi digital yang kompleks, sehingga pendekatan bertahap tentu jauh lebih realistis.
Tentukan Masalah Bisnis Terlebih Dahulu
Jangan memulai dengan pertanyaan “Harus pakai Instagram atau TikTok?”, melainkan mulailah dengan bertanya “Masalah bisnis apa yang ingin saya selesaikan?”. Jika masalahnya adalah kurang dikenal, fokus pertama dapat berupa awareness. Jika banyak orang melihat tetapi sedikit yang membeli, fokusnya mungkin pada conversion, dan jika pelanggan hanya membeli sekali, fokusnya perlu bergeser ke retention.
Pilih Kanal Berdasarkan Pelanggan
Tidak semua bisnis harus aktif di semua platform, sebab Anda perlu menggunakan kanal berdasarkan perilaku target pasar. Pebisnis visual dapat memfokuskan pemasaran pada Instagram atau TikTok, pemilik produk kebutuhan khusus dapat mengoptimalkan SEO dan Google, sedangkan pelaku bisnis dengan transaksi cepat dapat mengandalkan marketplace dan WhatsApp. Intinya, kunci keberhasilan bukan pada jumlah kanal, melainkan pada ketepatan memilih kanal.
Buat Konten yang Menjawab Pertanyaan Pelanggan
Daripada hanya mengunggah pengumuman monoton seperti “Kami meluncurkan produk terbaru”, buatlah konten edukatif seperti “Mengapa produk ini cocok untuk pemula?”, “Apa perbedaan varian A dan B?”, atau “3 kesalahan yang sering pembeli buat sebelum membeli produk ini”. Konten semacam ini memiliki peluang jauh lebih besar untuk membantu pelanggan dalam proses pengambilan keputusan pembelian.
Hubungkan Konten dengan Transaksi
Setiap konten memang tidak harus langsung berjualan, tetapi bisnis perlu memiliki jalur yang jelas. Sebagai contoh, alur pemasaran dapat berjalan dari Video edukasi → profil → katalog → WhatsApp → transaksi → repeat order, atau melalui jalur TikTok → product page → marketplace → pembelian → review. Dengan alur tersebut, aktivitas konten memiliki hubungan yang lebih terukur dengan tujuan bisnis.
Gunakan Data untuk Memperbaiki Strategi
Setiap bulan, usahakan untuk mengevaluasi beberapa aspek penting secara berkala:
- konten dengan performa terbaik dan sumber pelanggan terbanyak;
- produk yang paling sering ditanyakan dan memiliki conversion tertinggi;
- biaya mendapatkan pelanggan serta jumlah repeat order.
Untuk melakukan ini, Anda tidak perlu menggunakan dashboard yang rumit di awal, karena Anda pun bisa mencatat datanya menggunakan spreadsheet sederhana secara konsisten.
Jangan Sampai UMKM Terjebak dalam Digital Marketing
Peralihan ke ranah digital memang menawarkan banyak peluang besar bagi pelaku usaha, tetapi juga membawa sejumlah jebakan yang harus Anda hindari. Setidaknya ada lima jebakan utama yang sering menjerat UMKM:
- Mengejar followers tanpa strategi penjualan – Akun dengan banyak pengikut belum tentu memiliki fondasi bisnis yang sehat jika tidak dikonversi menjadi penjualan.
- Terlalu bergantung pada marketplace – Meskipun membantu memperluas pasar, bisnis tetap perlu membangun hubungan langsung dan aset mandiri dengan pelanggan.
- Mengikuti semua tren – Tidak semua tren di TikTok, Instagram, atau AI relevan dengan karakteristik dan kebutuhan semua jenis bisnis.
- Menggunakan AI secara berlebihan – Konten yang dibuat terlalu cepat oleh AI tanpa sentuhan autentik belum tentu efektif dan justru terlihat generik.
- Tidak menghitung keuntungan – Peningkatan omzet penjualan belum tentu membuat profit ikut meningkat jika biaya iklan, diskon, komisi platform, dan operasional ikut melonjak.
Dengan mengenali berbagai jebakan tersebut, UMKM dapat melangkah ke dunia digital dengan strategi yang jauh lebih matang, efisien, dan berkelanjutan.
Arah Digital Marketing UMKM Indonesia ke Depan
Peralihan UMKM ke digital marketing kemungkinan akan terus berkembang seiring semakin terintegrasinya internet, media sosial, e-commerce, pembayaran digital, dan AI. Namun, bentuknya akan bergeser di mana digital marketing tidak lagi sekadar tentang “Bagaimana mendapatkan traffic?”, melainkan berkembang menjadi pertanyaan yang lebih strategis: “Bagaimana mengubah perhatian menjadi hubungan, dan hubungan menjadi nilai bisnis?”
Ke depan, setiap elemen digital akan memiliki peran yang saling melengkapi:
- media sosial semakin berperan dalam discovery (penemuan produk);
- marketplace tetap diandalkan untuk memfasilitasi transaksi;
- website berfungsi sebagai aset digital mandiri milik bisnis;
- WhatsApp dan CRM membantu menjaga hubungan jangka panjang;
- AI membantu meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan;
- data membantu menentukan arah keputusan bisnis yang lebih rasional;
- sementara brand dan kepercayaan konsumen akan menjadi pembeda utama.
Kesimpulan: UMKM Beralih ke Digital Karena Konsumennya Sudah Berubah
Jadi, UMKM Indonesia semakin beralih ke digital marketing bukan tanpa alasan, melainkan karena ada perubahan besar di belakangnya. Mulai dari jumlah pengguna internet dan media sosial yang semakin besar, marketplace yang membuka akses pasar lebih luas, video commerce yang mempertemukan konten dengan transaksi, hingga QRIS yang membuat pembayaran semakin praktis. Belum lagi faktor persaingan yang memaksa bisnis mencari cara baru untuk mendapatkan perhatian, serta kehadiran AI yang menurunkan hambatan bagi UMKM dalam menjalankan berbagai aktivitas pemasaran.
Data BPS menunjukkan bahwa usaha mikro mendominasi aktivitas e-commerce, sementara data ekonomi digital memperlihatkan pertumbuhan transaksi dan perilaku digital yang semakin kuat. Namun, digital marketing tentu bukan sekadar memindahkan promosi dari brosur ke Instagram, melainkan sebuah perubahan mendasar tentang bagaimana cara bisnis menemukan, memahami, melayani, dan mempertahankan pelanggan.
UMKM yang ingin mendapatkan manfaat maksimal sebaiknya tidak mengejar semua platform sekaligus. Mulailah dengan memahami pelanggan, menentukan masalah bisnis, memilih kanal yang tepat, membuat konten yang relevan, menghubungkan konten dengan transaksi, menggunakan AI secara bijak, dan mengukur hasil berdasarkan dampaknya terhadap bisnis. Dengan pendekatan tersebut, digital marketing bukan hanya menjadi sarana promosi, melainkan dapat menjadi bagian utuh dari mesin pertumbuhan bisnis Anda.
Bagi Anda yang ingin membantu bisnis membangun strategi digital marketing yang lebih terarah, Isee Digital Marketing dapat menjadi partner untuk mengembangkan strategi pemasaran digital yang sesuai dengan kebutuhan dan target bisnis Anda.
Pelajari lebih lanjut melalui website
Atau untuk konsultasi langsung dengan admin, Anda dapat menghubungi WhatsApp
Fenomena umkm beralih digital marketing ini membuktikan bahwa adaptasi teknologi adalah kunci utama kelangsungan bisnis di era modern.
Jika Anda memiliki pertanyaan seputar strategi digital marketing atau ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai perkembangan bisnis, silakan tulis di kolom komentar di bawah ya!