Pernah mencari rekomendasi sepatu, tempat makan, produk kecantikan, atau laptop lalu langsung bertanya kepada AI? Kebiasaan ini mulai mengubah cara Gen Z mencari informasi sebelum membeli. Pemasaran AI ikut berkembang karena bisnis perlu memahami cara konsumen menemukan, membandingkan, dan memilih produk melalui teknologi AI. Cukup dengan menjelaskan kebutuhan, konsumen bisa memperoleh rekomendasi sekaligus membandingkan beberapa pilihan.
Bagi Gen Z, proses belanja tidak berhenti pada pertanyaan “mau beli apa?”. Mereka juga ingin mengetahui produk yang sesuai dengan kebutuhan, kelebihan dan kekurangannya, perbandingannya dengan produk lain, hingga kesesuaiannya dengan anggaran. AI membantu mereka mencari berbagai informasi tersebut dalam waktu yang lebih singkat.
Perubahan kebiasaan tersebut membuat bisnis perlu meninjau kembali cara mereka menjangkau konsumen. Sebelumnya, bisnis mengandalkan mesin pencari, media sosial, iklan, atau toko daring untuk memperkenalkan produk. Kini, bisnis juga perlu memastikan informasi produknya mudah ditemukan dan cukup jelas ketika konsumen bertanya kepada AI.
Kenapa AI Mulai Masuk Kebiasaan Belanja Gen Z?
Gen Z tumbuh bersama internet, media sosial, dan beragam layanan digital. Karena itu, mereka terbiasa mencari informasi dengan cara yang cepat dan praktis.
Ketika ingin membeli produk, contohnya, seorang konsumen bisa mencari “rekomendasi skincare untuk kulit berminyak”, “sepatu untuk kuliah yang nyaman”, atau “laptop untuk mahasiswa dengan harga terjangkau”. Kini, pertanyaan seperti itu juga bisa mereka ajukan kepada teknologi AI.
AI kemudian membantu menyusun informasi berdasarkan pertanyaan pengguna. Konsumen tidak hanya mendapatkan daftar tautan, tetapi juga bisa memperoleh rangkuman, perbandingan, alasan rekomendasi, hingga alternatif produk.
Akan tetapi, konsumen tetap perlu memeriksa informasi sebelum mengambil keputusan. AI dapat membantu tahapan pencarian, tetapi konsumen tetap perlu mengecek harga, ketersediaan, ulasan, spesifikasi, dan asal informasi dari bisnis.
Pemasaran AI dan Cara Gen Z Membandingkan Produk
Perubahan lain muncul pada tahap pertimbangan. Konsumen tidak lagi hanya mencari satu produk. Mereka bisa meminta AI membandingkan beberapa pilihan sekaligus.
Contohnya, seseorang ingin membeli laptop untuk kuliah. Ia bisa meminta bantuan AI untuk membandingkan beberapa perangkat berdasarkan harga, kapasitas penyimpanan, daya tahan baterai, dan kebutuhan penggunaan.
Pelajari juga: Gen Z Makin Selektif, Kreator Harus Bikin Konten Apa? Cari tahu bagaimana perubahan perilaku Gen Z memengaruhi cara bisnis membuat konten yang lebih relevan.
Situasi tersebut membuat bisnis tidak cukup hanya mengatakan bahwa produknya “berkualitas” atau “terbaik”. Bisnis perlu menjelaskan keunggulan produk secara konkret agar konsumen memiliki alasan yang jelas sebelum membeli. Semakin lengkap informasi yang bisnis berikan, semakin mudah calon pelanggan menilai apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pemasaran AI Mengubah Cara Konsumen Menemukan Bisnis
Dulu, bisnis berlomba mendapatkan posisi di halaman temuan pencarian. Kini, mereka juga perlu mempertimbangkan bagaimana AI memahami dan menguraikan bisnis kepada pengguna.
Inilah salah satu alasan pemasaran AI mulai mendapat perhatian. Strategi ini tidak sekadar memakai AI untuk membuat konten atau mengotomatiskan pekerjaan pemasaran. Bisnis juga perlu memahami bagaimana konsumen menggunakan AI ketika mencari informasi.
Pelajari juga: Semua Bisnis Pakai AI, Apa Keunggulan UMKM? Cari tahu bagaimana UMKM dapat memanfaatkan AI untuk mendukung strategi bisnis dan pemasaran.
Contohnya, pemilik kedai kopi di Surabaya ingin menjangkau mahasiswa. Ia tidak cukup hanya mengunggah foto menu di media sosial. Ia juga perlu mencantumkan pilihan menu, kisaran harga, lokasi, jam operasional, fasilitas, dan suasana tempat agar calon pelanggan bisa menentukan pilihan dengan lebih mudah.
Informasi yang lengkap membantu konsumen mengambil keputusan. Pada saat yang sama, informasi tersebut menyajikan konteks yang lebih jelas bagi beragam sistem digital yang memproses data bisnis.
Pemasaran AI Dimulai dari Informasi Produk yang Jelas
Bayangkan sebuah UMKM menjual tas lokal. Deskripsi produknya hanya berbunyi:
“Tas kekinian dengan desain menarik dan kualitas terbaik.”
Informasi tersebut terlalu umum. Konsumen masih harus mencari tahu bahan, ukuran, kapasitas, warna, jenis penggunaan, dan harga. Bisnis dapat memperbaikinya dengan menyajikan informasi yang lebih spesifik.
Contohnya:
“Tas selempang berbahan kanvas dengan ukuran 25 x 18 cm. Tas mempunyai tiga kompartemen dan cocok untuk membawa dompet, ponsel, charger, serta perlengkapan kecil untuk aktivitas kuliah.”
Informasi seperti ini membantu konsumen memahami produk tanpa harus menebak-nebak.
Cara UMKM Menyesuaikan Pemasaran AI
Perubahan perilaku konsumen tidak berarti UMKM harus langsung mengeluarkan biaya besar untuk teknologi. Justru, bisnis dapat memulai dari hal yang sederhana.
1. Rapikan Informasi Bisnis
Langkah pertama, rapikan informasi yang berkaitan langsung dengan bisnis dan produk. Calon pelanggan perlu menemukan informasi penting dengan mudah, mulai dari lokasi hingga cara melakukan pemesanan. Karena itu, periksa beberapa bagian berikut secara berkala:
- Nama dan alamat bisnis
- Jam operasional
- Nomor kontak
- Harga atau kisaran harga
- Produk yang tersedia
- Deskripsi dan spesifikasi produk
- Cara pemesanan
- Metode pembayaran
- Kebijakan pengiriman
- Informasi layanan
Informasi yang konsisten membantu pelanggan sekaligus memudahkan bisnis menjaga kredibilitas di beragam platform.
Jika informasi di media sosial berbeda dengan situs web atau toko daring, konsumen bisa kebingungan. Karena itu, bisnis perlu menjalankan pembaruan secara berkala.
2. Buat Konten yang Menjawab Pertanyaan Konsumen
Jangan hanya membuat konten yang berbicara tentang produk. Coba lihat pertanyaan yang biasanya muncul sebelum pembelian.
Bisnis kuliner dapat membahas beberapa hal yang biasanya pelanggan pertimbangkan sebelum memesan, seperti:
- Rekomendasi menu untuk makan siang
- Pilihan makanan dengan rasa yang tidak pedas
- Ukuran porsi setiap menu
- Menu yang tersedia tanpa daging
- Estimasi waktu menunggu pesanan
Sementara itu, bisnis fesyen dapat mengulas ukuran, bahan, cara merawat pakaian, dan rekomendasi penggunaan. Konten semacam ini mempunyai nilai lebih karena menjawab kebutuhan konsumen, bukan sekadar mempromosikan produk.
Pelajari juga: Produk Bagus Belum Laku? Ini Strategi Promosinya cari tahu strategi promosi yang bisa membantu bisnis memperkenalkan produk kepada calon pelanggan dengan lebih tepat.
3. Manfaatkan AI dalam Strategi Pemasaran AI
AI juga dapat membantu bisnis membaca pola pertanyaan dan kebutuhan pelanggan. Pemilik UMKM dapat memakai teknologi AI untuk mengelompokkan pertanyaan yang sering masuk melalui pesan pelanggan. Dari sana, bisnis bisa mengetahui informasi apa yang masih kurang.
Contohnya, pelanggan berkali-kali bertanya tentang ukuran produk. Artinya, halaman produk mungkin belum menguraikan ukuran secara cukup detail.
Bisnis kemudian dapat memperbaiki informasi tersebut. Tahapan ini membuat penggunaan AI tidak berhenti pada pembuatan teks. Bisnis juga dapat memanfaatkannya untuk menaikkan pengalaman pelanggan.
Pemasaran AI Tetap Membutuhkan Sentuhan Manusia
Ada anggapan bahwa ketika bisnis mulai memakai AI, semua tahapan pemasaran harus berjalan otomatis. Padahal, strategi tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap bisnis.
Pemasaran AI sebaiknya membantu pekerjaan manusia, bukan menggantikan seluruh proses berpikir. Pemilik bisnis tetap perlu menentukan target pelanggan, memahami karakter produknya, memilih gaya komunikasi, serta memastikan informasi yang muncul tetap akurat.
AI dapat membantu membuat beberapa alternatif ide konten. Akan tetapi, manusia tetap perlu memilih ide yang paling sesuai dengan karakter bisnis. Begitu juga dengan chatbot. Teknologi tersebut dapat menjawab pertanyaan sederhana, tetapi pelanggan tetap membutuhkan jalur komunikasi dengan manusia ketika menghadapi persoalan yang lebih kompleks.
Bedanya Pemasaran Konvensional, Digital, dan AI
Tabel berikut memperlihatkan perbedaan cara setiap strategi menjangkau konsumen.
| Pendekatan | Fokus Utama | Contoh Aktivitas | Peran AI |
|---|---|---|---|
| Pemasaran konvensional | Menjangkau konsumen secara langsung | Brosur, spanduk, promosi di lokasi | Tidak menjadi bagian utama |
| Pemasaran digital | Menjangkau konsumen melalui kanal digital | Media sosial, situs web, iklan digital, toko daring | Membantu beberapa proses |
| Pemasaran AI | Memahami dan merespons kebutuhan konsumen dengan bantuan AI | Personalisasi, analisis pelanggan, chatbot, rekomendasi, pengembangan konten | Menjadi bagian dari strategi |
Perbedaan tersebut bukan berarti bisnis harus meninggalkan strategi sebelumnya. Justru, ketiganya dapat saling melengkapi sesuai kebutuhan.
Bisnis lokal, contohnya, tetap dapat memakai promosi di sekitar lokasi sambil membangun kehadiran digital dan memanfaatkan AI untuk memahami pelanggan.
Pemasaran AI Perlu Berangkat dari Data yang Benar
Teknologi AI membutuhkan informasi untuk membuahkan keluaran yang sesuai. Karena itu, bisnis perlu memperhatikan kualitas data yang mereka gunakan. Contohnya, toko elektronik mencantumkan spesifikasi produk yang sudah tidak sesuai dengan stok terbaru. Ketika bisnis memakai informasi tersebut dalam beragam materi pemasaran, kesalahan dapat menyebar ke lebih banyak kanal.
Karena itu, pemilik bisnis perlu menjalankan pemeriksaan secara rutin. Perbarui harga, stok, spesifikasi, alamat, layanan, serta informasi lain yang mengalami perubahan. Jangan menganggap pekerjaan tersebut sebagai hal kecil karena informasi yang salah dapat memengaruhi keputusan konsumen.
Di samping itu, bisnis perlu berhati-hati saat memasukkan data pelanggan ke layanan AI. Gunakan informasi yang memang bisnis butuhkan untuk analisis dan jangan membagikan data pribadi yang tidak membantu proses tersebut.
Contoh Penerapan untuk Bisnis di Indonesia
UMKM bisa mulai memanfaatkan AI untuk menyelesaikan pekerjaan sederhana.
UMKM Kuliner
Sebuah kedai makanan dapat memakai AI untuk membantu mengkaji pertanyaan pelanggan. Jika banyak pelanggan mencari menu di bawah harga tertentu, bisnis dapat mempertimbangkan paket yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Bisnis juga dapat membuat konten berdasarkan pertanyaan yang sering muncul, seperti rekomendasi menu untuk makan siang atau pilihan makanan untuk dibawa pulang.
Bisnis Fesyen
Toko pakaian dapat memanfaatkan AI untuk membantu membuat rekomendasi berdasarkan kebutuhan pelanggan.
Contohnya, pelanggan mencari pakaian untuk kuliah dengan gaya kasual. Bisnis dapat menyiapkan panduan produk berdasarkan ukuran, warna, bahan, dan cara memadukannya.
Akan tetapi, bisnis tetap perlu menyajikan informasi produk secara akurat. Jangan membiarkan AI membuat klaim tentang bahan atau kualitas yang tidak sesuai dengan produk sebenarnya.
Bisnis Kecantikan
Toko kosmetik dapat membuat panduan berdasarkan kebutuhan konsumen, contohnya cara memilih produk berdasarkan jenis kulit atau kebutuhan riasan.
Konten tersebut membantu pelanggan memahami produk sebelum membeli. Bisnis juga perlu menghindari klaim berlebihan serta memeriksa sumber informasi sebelum mencantumkannya dalam konten.
Kesalahan Bisnis Saat Menggunakan AI
Mengikuti perkembangan AI bukan berarti bisnis harus menggunakan setiap teknologi yang sedang populer. Ada beberapa kesalahan yang justru dapat mengurangi kualitas pemasaran.
Mengandalkan AI Tanpa Pemeriksaan
AI dapat membuahkan informasi yang terlihat meyakinkan, tetapi bisnis tetap perlu memeriksa hasilnya. Jangan langsung mengunggah deskripsi produk, artikel, atau jawaban pelanggan tanpa pengecekan. Pastikan informasi sesuai dengan kondisi bisnis.
Membuat Semua Konten Terlihat Sama
AI dapat membantu membuat konten lebih cepat. Akan tetapi, terlalu bergantung pada pola yang sama bisa membuat komunikasi bisnis terasa generik. Bisnis perlu mempertahankan karakter merek, pengalaman nyata, dan sudut pandang manusia. Konsumen Gen Z dapat menemukan banyak pilihan produk dalam waktu singkat. Karena itu, keunikan komunikasi tetap mempunyai peran penting.
Mengejar Teknologi, tetapi Melupakan Pelanggan
Kesalahan lainnya adalah memakai AI hanya karena sedang populer. Kenali dulu masalah pelanggan sebelum memilih teknologi yang akan bisnis gunakan. Jika pelanggan sering menanyakan stok, bisnis bisa memperbaiki sistem informasi stok. Jika pelanggan membutuhkan bantuan memilih produk, bisnis dapat mempertimbangkan fitur rekomendasi. Dengan begitu, teknologi hadir untuk menyelesaikan masalah nyata, bukan sekadar mengikuti tren.
Pemasaran AI Harus Mengikuti Cara Konsumen Mencari Informasi
Perubahan terbesar bukan hanya muncul dari teknologi AI, tetapi dari perubahan perilaku konsumen. Gen Z dapat berpindah dari media sosial ke mesin pencari, dari toko daring ke forum, lalu memakai AI untuk membandingkan pilihan. Mereka tidak selalu mengikuti jalur pembelian yang sama.
Karena itu, bisnis perlu membangun kehadiran digital yang konsisten di beragam titik perjalanan pelanggan. Situs web perlu menyediakan informasi yang lengkap. Media sosial perlu memperlihatkan karakter bisnis. Toko daring perlu menyajikan detail produk. Sementara itu, layanan pelanggan perlu memberikan jawaban yang jelas.
AI kemudian dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Dalam konteks ini, pemasaran AI bukan sekadar tentang membuat iklan menggunakan kecerdasan buatan. Konsepnya lebih luas, yaitu bagaimana bisnis menggunakan teknologi untuk memahami kebutuhan konsumen, memberikan informasi yang sesuai, dan menciptakan pengalaman yang lebih sesuai.
Jadi, Bisnis Harus Ngapain?
Jawabannya bukan langsung membeli teknologi AI yang mahal. Bisnis bisa memulainya dari hal yang lebih sederhana, yaitu memahami cara pelanggan menemukan dan mempertimbangkan sebuah produk.
Cari tahu pertanyaan yang paling sering muncul dari pelanggan. Setelah itu, rapikan informasi bisnis dan buat konten yang bisa menjawab kebutuhan mereka. Manfaatkan AI untuk membantu menganalisis pertanyaan pelanggan, mencari ide, atau mempercepat pekerjaan yang memang sesuai dengan kemampuannya.
Setelah strategi berjalan, lihat perubahan yang terjadi. Perhatikan apakah pelanggan lebih mudah menemukan produk, apakah pertanyaan yang sama mulai berkurang, dan apakah mereka semakin memahami produk sebelum membeli. Interaksi tersebut juga dapat membantu bisnis menemukan pola kebutuhan pelanggan yang sebelumnya belum terlihat.
Evaluasi ini membantu bisnis melihat hasil strategi secara lebih nyata. Jangan hanya melihat apakah bisnis sudah menggunakan AI atau belum. Perhatikan respons pelanggan dan lihat manfaat yang bisnis dapatkan setelah menerapkan strategi tersebut.
Pada akhirnya, pemasaran AI bukan perlombaan untuk menjadi bisnis yang paling cepat menggunakan teknologi. Bisnis perlu memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan menggabungkannya dengan pemahaman terhadap pelanggan. Dengan cara tersebut, AI dapat membantu pekerjaan pemasaran tanpa menghilangkan sentuhan manusia dalam membangun hubungan dengan konsumen.
Kesimpulan
Cara Gen Z berbelanja terus berubah. Mereka tidak hanya mengandalkan mesin pencari atau media sosial untuk menemukan produk, tetapi juga mulai memanfaatkan AI untuk mencari informasi, meminta rekomendasi, dan membandingkan pilihan.
Perubahan tersebut membuat bisnis perlu memperhatikan kualitas informasi digital mereka. Deskripsi produk, konten, data bisnis, layanan pelanggan, hingga pengalaman pengguna perlu saling menopang.
UMKM tidak harus langsung menerapkan teknologi yang rumit. Bisnis dapat memulai dari langkah sederhana, seperti merapikan informasi, memahami pertanyaan pelanggan, membuat konten yang sesuai, dan memakai AI untuk membantu pekerjaan yang membutuhkan kajian.
Teknologi dapat mempercepat tahapan, tetapi pemahaman terhadap pelanggan tetap menjadi dasar. Ketika bisnis mampu menggabungkan keduanya, mereka mempunyai peluang untuk mengikuti perubahan cara konsumen mencari dan memilih produk.
Ingin menyesuaikan strategi bisnis dengan cara Gen Z mencari produk melalui AI? Kunjungi Isee Digital Marketing dan pelajari strategi digital marketing yang relevan untuk bisnis Anda.
Masih punya pertanyaan tentang strategi yang cocok untuk bisnis Anda? Hubungi WA Admin Isee Digital Marketing di wa.me/6289508029834 untuk mendiskusikannya.