Digital marketing membantu bisnis menjangkau calon pelanggan dengan lebih luas melalui media sosial, website, dan berbagai platform digital lainnya. Namun, banyak pemilik bisnis menghadapi masalah yang sama: mereka rutin membuat konten, mengumpulkan banyak like, tetapi belum berhasil meningkatkan jumlah pelanggan dan penjualan.
Situasi seperti ini cukup umum terjadi. Anda mungkin sudah membuat konten setiap hari. Foto produk sudah dibuat secara menarik, video sudah diedit dengan baik, bahkan beberapa konten mendapatkan banyak like dan tayangan. Namun, ketika melihat jumlah pesanan, belum ada perubahan yang nyata.
Lalu, apakah kontennya gagal?
Belum tentu.
Masalahnya mungkin bukan karena banyaknya konten, melainkan karena cara penyusunan strategi di balik konten itu. Konten yang banyak pengunjungnya tidak selalu membuat orang lebih mudah memutuskan untuk membeli. Sementara itu, bisnis tidak hanya membutuhkan perhatian saja. Bisnis memerlukan audiens yang tepat, pesan yang sesuai, rasa percaya, dan arahan yang jelas supaya audiens mau melakukan sesuatu.
Oleh karena itu, penting bagi para pengusaha untuk menyadari bahwa keberhasilan dalam pemasaran tidak hanya ditentukan oleh jumlah likes saja. Konten harus memiliki tujuan yang tegas dan sesuai dengan kebutuhan orang yang akan membeli produk tersebut.
Bagaimana Digital Marketing Membantu Bisnis Mendapatkan Pelanggan?
Menunjukkan bahwa seseorang memberi jawaban atau pernyataan terhadap suatu konten. Namun, ‘like‘ tidak selalu berarti orang tersebut membutuhkan produk atau sudah siap untuk membeli.
Misalnya, sebuah toko menjual sepatu olahraga. Setelah itu, toko itu membuat video yang lucu tentang cara orang membeli sepatu, dan video tersebut mendapat ribuan likes. Konten tersebut berhasil menarik perhatian, tetapi belum tentu membuat orang yang memberikan like membutuhkan sepatu tersebut.
Inilah saatnya perbedaan antara engagement dan konversi menjadi hal yang penting.
Engagement adalah cara audiens berinteraksi dengan konten, misalnya dengan memberi like, tulis komentar, bagikan, atau menyimpan. Sementara itu, konversi berarti audiens melakukan tindakan yang bermanfaat bagi bisnis, seperti menghubungi admin, mengunjungi website, mengisi formulir, atau membeli produk.
Namun, bukan berarti engagement tidak penting. Partisipasi bisa membantu bisnis memupuk perhatian dan hubungan dengan para penonton. Hanya saja, bisnis tidak boleh berhenti di angka tersebut.
Konten yang bagus seharusnya bisa mengajak audiens dari tahap mengenali bisnis, lalu memikirkan produk, hingga akhirnya mengambil langkah tindakan. Oleh karena itu, jumlah likes sebaiknya bukan satu-satunya penentu keberhasilan sebuah konten.
Baca juga: Tren Digital Marketing 2026 yang Wajib Diketahui Bisnis untuk Tetap Kompetitif
Kesalahan Digital Marketing yang Membuat Bisnis Sulit Mendapatkan Pelanggan
Banyak perusahaan sudah menggunakan media sosial, tetapi beraktifitas membuat konten tanpa memiliki tujuan yang jelas. Mereka membuat konten hanya karena merasa harus terus memposting, bukan karena memahami tujuan setiap konten.
Kesalahan pertama adalah terlalu memperhatikan jumlah posting. Pemilik bisnis berpikir bahwa semakin banyak konten yang dibuat, semakin besar kemungkinan mendapatkan pelanggan. Padahal, kualitas pesan dan relevansi konten juga sangat penting.
Kesalahan yang kedua adalah membuat konten yang hanya membahas produk saja. Setiap postingan mencakup harga, promo, fitur, atau foto produk. Akibatnya, audiens merasa terus-menerus melihat iklan.
Padahal, calon pelanggan juga memerlukan informasi yang bisa membantu mereka menyelesaikan masalah. Mereka ingin tahu manfaat dari produk itu, bagaimana cara memilih produk yang sesuai, alasan mengapa produk tersebut pantas dipertimbangkan, serta pengalaman pengguna lain yang sudah mencoba produk tersebut.
Kesalahan berikutnya adalah tidak tahu siapa yang memperhatikan konten tersebut. Bisnis sering membuat konten untuk semua orang. Padahal, semakin jelas target pasar, semakin mudah bisnis membuat pesan yang sesuai.
Selain itu, banyak bisnis tidak memberi petunjuk setelah seseorang menonton konten mereka. Audiens membaca informasi, kemudian selesai. Tidak ada permintaan untuk menghubungi admin, melihat produk, mengunjungi website, atau melakukan aktivitas lainnya.
Akhirnya, konten terlihat hidup, tetapi belum ada jalur yang tegas yang mengarah ke pembelian.
Baca juga: Cara Menggunakan AI untuk Strategi Marketing Bisnis agar Lebih Efektif
5 Cara Digital Marketing Membantu Bisnis Mendatangkan Pelanggan
1. Tidak Memahami Target Audiens
Target audiens adalah kelompok orang yang paling mungkin membutuhkan produk atau layanan yang ditawarkan oleh bisnis Anda.
Jika bisnis tidak tahu siapa yang menonton, maka konten bisa jadi tidak jelas arahnya. Anda mungkin membahas hal yang menurut Anda menarik, tetapi nyatanya tidak memenuhi kebutuhan pelanggan potensial.
Coba pahami masalah, kebutuhan, kebiasaan, dan pertanyaan yang sering diajukan oleh calon pelanggan. Dengan cara itu, Anda bisa membuat konten yang terasa lebih sesuai.
2. Konten Tidak Memiliki Tujuan yang Jelas
Setiap konten sebaiknya memiliki tujuan. Setiap konten dapat memiliki tujuan yang berbeda. Sebagian konten berfungsi memperkenalkan bisnis, sementara konten lainnya memberikan edukasi kepada audiens. Konten juga dapat digunakan untuk membangun kepercayaan atau mendorong calon pelanggan melakukan pembelian.
Tanpa tujuan yang jelas, bisnis akan sulit mengetahui apakah konten yang dibuat itu berhasil atau tidak. Karena itu, sebelum membuat konten, tanyakan terlebih dahulu: apa yang ingin dilakukan audiens setelah melihat konten ini?
Pertanyaan yang mudah tersebut bisa membantu bisnis dalam membuat konten yang lebih tepat sasaran.
3. Tidak Memiliki Call to Action
Call to Action atau CTA adalah pernyataan yang mengajak pendengar untuk melakukan suatu tindakan tertentu.
Contoh seperti, “Hubungi admin untuk tahu informasi lebih lanjut”, “Lihat produk lengkapnya di website”, atau “Konsultasikan kebutuhan Anda lewat WhatsApp”.
Tanpa instruksi selanjutnya, audiens mungkin tertarik tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Oleh karena itu, CTA bisa menjadi jembatan antara ketertarikan dan tindakan.
4. Fokus pada Like, Bukan Konversi
Bener-bener terlihat menyenangkan karena memberikan angka yang mudah dipahami. Namun, bisnis harus memperhatikan metrik yang lebih relevan dengan tujuan usaha.
Perhatikan juga berapa banyak orang yang mengunjungi website, mengirim pesan, bertanya tentang harga, mengisi formulir, atau melakukan pembelian.
Dengan begitu, bisnis bisa tahu apakah kontennya benar-benar membantu menciptakan kesempatan untuk penjualan.
5. Tidak Memiliki Strategi yang Konsisten
Konsisten bukan berarti hanya mengunggah konten setiap hari.
Konsistensi berarti tetap menjaga arah pesan, kualitas informasi, gaya komunikasi, dan tujuan pemasaran. Bisnis harus menciptakan cara yang membuat pembaca tahu siapa kamu, apa yang kamu berikan, dan mengapa mereka seharusnya memperhatikan hal itu.
Strategi yang tetap juga membantu bisnis dalam mengevaluasi hasilnya. Jika cara tersebut menghasilkan keuntungan, bisnis bisa melanjutkan pendekatan itu. Jika hasilnya kurang baik, bisnis dapat memperbaikinya.
Baca juga: AI untuk Digital Marketing UMKM Indonesia: Cara Memanfaatkannya agar Bisnis Lebih Efisien
Konten untuk Engagement vs Konten untuk Mendatangkan Pelanggan
Dalam strategi pemasaran digital, bisnis tidak boleh memilih antara membuat konten yang menarik pengguna atau konten yang berfokus pada penjualan secara mutlak. Keduanya memiliki tugas yang berbeda dan bisa saling melengkapi.
| Konten untuk Engagement | Konten untuk Mendatangkan Pelanggan |
|---|---|
| Fokus mendapatkan like dan interaksi | Fokus mendorong tindakan yang relevan |
| Menghibur audiens | Menawarkan solusi atas masalah audiens |
| Mengejar perhatian dan potensi viral | Membangun kepercayaan dan pertimbangan |
| Mendorong komentar atau bagikan | Mendorong kunjungan website, chat, atau pembelian |
| Membuat audiens tertarik | Membantu audiens memahami manfaat produk |
| Cocok untuk memperluas jangkauan | Cocok untuk mendukung proses konversi |
| Mengutamakan daya tarik konten | Mengutamakan relevansi dan tujuan bisnis |
Misalnya, usaha makanan bisa buat video pendek yang lucu mengenai kebiasaan pelanggan saat memilih masakan. Konten tersebut dapat membantu meningkatkan interaksi.
Kemudian, bisnis bisa membuat konten lain yang menjelaskan menu, harga, lokasi, keistimewaan produk, atau cara melakukan pemesanan. Konten ini bertujuan untuk mendekatkan diri pada penjualan.
Dengan menggabungkan keduanya, bisnis tidak hanya mencari perhatian. Bisnis juga bisa mempererat hubungan dan mengarahkan para pengguna untuk melakukan tindakan tertentu.
Bagaimana Mengubah Strategi Konten agar Mendatangkan Pelanggan?
Langkah pertama adalah berhenti membuat konten hanya karena jadwal posting memaksa kamu untuk melakukannya. Mulailah dengan menentukan masalah apa yang ingin Anda bantu selesaikan.
Misalnya, bisnis jasa pembuatan website bisa membuat konten yang membahas kesalahan umum yang sering dilakukan oleh pemilik usaha saat membuat website. Setelah memberikan penjelasan, bisnis bisa menjelaskan cara website profesional membantu calon pembeli mencari informasi dengan lebih mudah.
Langkah berikutnya adalah membuat konten sesuai dengan tahapan kebutuhan audiens.
Orang yang baru mulai belajar bisnis membutuhkan materi yang menjelaskan dan memberi pengetahuan. Audiens yang sudah tertarik membutuhkan informasi yang bisa membantu mereka memilih dan membandingkan berbagai opsi yang tersedia. Sementara itu, para pengguna yang sudah siap membeli memerlukan informasi yang jelas tentang produk, harga, cara memesan, serta langkah-langkah selanjutnya.
Selain itu, gunakan bukti yang bisa membuat orang percaya. Testimoni, portofolio, studi kasus, penjelasan tentang proses kerja, serta penjelasan mengenai layanan dapat membantu calon pelanggan merasa lebih percaya.
Kemudian, arahkan audiens dengan CTA yang sesuai. Jangan meminta audiens membeli barang jika mereka baru pertama kali mengenal bisnis tersebut. Berikan tindakan yang lebih lembut, seperti membaca artikel, mengunjungi website, menyimpan informasi, atau menghubungi admin untuk bertanya.
Strategi seperti ini membuat perjalanan audiens terasa lebih alami.
Bagaimana Digital Marketing Membantu Bisnis Memahami Customer Journey?
Strategi pemasaran digital yang efektif harus memahami seluruh proses yang dialami oleh calon pelanggan.
Perjalanan pelanggan adalah proses yang menjelaskan bagaimana seseorang mulai mengetahui tentang bisnis hingga akhirnya membuat keputusan untuk melakukan sesuatu. Tidak semua orang langsung membeli setelah melihat satu konten.
Seseorang mungkin awalnya menemukan bisnis melalui akun media sosial. Setelah itu, dia mencari informasi tambahan lewat website. Kemudian, ia melihat testimoni pelanggan. Setelah merasa yakin, dia menghubungi admin untuk bertanya. Jika mendapat jawaban yang benar, barulah dia melakukan pembelian.
Oleh karena itu, bisnis harus menyiapkan konten untuk setiap tahapan tersebut.
Pada awalnya, gunakan konten yang membantu menjelaskan masalah dan memberikan informasi yang berguna. Pada tahap pertimbangan, jelaskan solusi yang bisnis tawarkan, manfaat yang pelanggan dapatkan, keunggulan produk atau layanan, pengalaman pelanggan, serta informasi yang membantu calon pelanggan mengambil keputusan pembelian.
Selanjutnya, di tahap pengambilan keputusan, berikan informasi yang jelas tentang harga, paket, cara melakukan pembelian, promo jika ada, serta tindakan yang mudah dilakukan untuk mengikuti.
Dengan memahami perjalanan pelanggan, bisnis tidak akan terburu-buru menyimpulkan bahwa sebuah konten tidak berhasil hanya karena tidak langsung menghasilkan penjualan.
Baca juga: Konsumen Makin Sering Mencari Produk Secara Online, Apa yang Harus Dilakukan Bisnis?
Pentingnya Call to Action untuk Mengubah Audiens Menjadi Pelanggan
CTA adalah bagian kecil dalam konten, tetapi bisa memberikan dampak besar terhadap pengalaman audiens.
Bayangkan seseorang membaca artikel yang menjelaskan manfaat menggunakan jasa pemasaran digital. Ia merasa informasi tersebut relevan dengan bisnisnya. Namun, setelah membaca sampai bagian akhir, tidak ada penjelasan tentang langkah apa yang harus diambil selanjutnya.
Audiens akhirnya meninggalkan halaman tersebut.
Berbeda jika konten itu memberi petunjuk, misalnya mengunjungi website untuk melihat layanan, menghubungi admin untuk berdiskusi, atau membaca informasi yang lebih lengkap. Audiens memiliki pilihan yang jelas.
CTA tidak selalu harus berbentuk ajakan membeli. Anda bisa menyesuaikan strateginya berdasarkan tujuan konten dan letak audiens dalam perjalanan pelanggan.
Contohnya:
- “Pelajari strategi selengkapnya di website kami.”
- “Hubungi admin untuk mendiskusikan kebutuhan bisnis Anda.”
- “Lihat layanan kami dan pilih yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.”
- “Konsultasikan kebutuhan pemasaran digital Anda melalui WhatsApp.”
Yang paling penting, CTA harus tegas, sesuai dengan konteks, dan mudah untuk dilakukan.
Evaluasi Konten: Jangan Hanya Melihat Jumlah Like
Setelah menerapkan strategi baru, bisnis harus mengevaluasi kembali. Jangan hanya melihat konten yang mendapat like paling banyak.
Perhatikan juga konten mana yang berhasil menarik pengunjung ke website, pertanyaan melalui WhatsApp, permintaan penawaran, pendaftaran, hingga proses transaksi.
Dari data tersebut, Anda bisa lihat pola yang lebih jelas. Sebuah konten mungkin hanya mendapat sedikit like, tetapi bisa menarik beberapa pelanggan berkualitas. Sebaliknya, konten yang mendapatkan ribuan likes mungkin tidak menghasilkan satu pun pesanan pembelian.
Evaluasi membantu bisnis membuat keputusan dengan melihat hasil yang sebenarnya, bukan hanya tebakan atau perkiraan saja.
Selain itu, jangan takut melakukan eksperimen. Uji berbagai macam topik, format, cara menyampaikan, ajakan bertindak, dan penawaran yang ada. Kemudian, bandingkan hasilnya.
Pada akhirnya, strategi konten yang bagus bukan berarti selalu menghasilkan konten yang viral. Strategi yang baik adalah strategi yang membantu bisnis mencapai tujuan dengan lebih jelas dan terukur.
Digital Marketing Membantu Bisnis Mendatangkan Pelanggan
Banyaknya konten dan jumlah like yang tinggi tidak selalu bisa membuat pelanggan semakin bertambah. Like memang menunjukkan ada perhatian dan interaksi, tetapi bisnis perlu strategi yang lebih lengkap agar perhatian itu bisa tumbuh menjadi peluang jual.
Oleh karena itu, pemilik bisnis perlu mengenali target audiens, menentukan tujuan setiap konten, membangun kepercayaan pelanggan, menggunakan CTA yang jelas, memahami perjalanan pelanggan, serta mengevaluasi hasil konten secara rutin.
Digital marketing bukan hanya tentang mengunggah banyak konten secara terus menerus. Di dalamnya terdapat langkah-langkah untuk memahami audiens, menyampaikan informasi yang tepat, memperkuat hubungan, dan mengajak calon pelanggan untuk melakukan tindakan tertentu.
Jadi, jika konten Anda sudah banyak tapi pelanggan masih tidak bertambah, jangan langsung bilang bahwa media sosial tidak efektif. Yang mungkin perlu diperbaiki bukanlah jumlah kontennya, melainkan cara strategi di balik pembuatan konten itu.
Jika Anda ingin mengetahui strategi pemasaran digital yang tepat untuk bisnis Anda, kunjungi website kami untuk mendapatkan informasi dan solusi mengenai pemasaran digital
Selain itu, Anda juga dapat langsung berkonsultasi dengan tim Isee Digital Marketing melalui WhatsApp admin
Jangan biarkan konten bisnis Anda hanya ramai di media sosial. Dengan strategi yang tepat, setiap konten dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk membangun kepercayaan, menjangkau audiens yang tepat, dan mendatangkan lebih banyak pelanggan.