Diskon 15%

Promo Berakhir Dalam:

23JAM
:
59MNT
:
59DTK
Klaim Sekarang →
📁 Media Sosial

Gen Z Makin Selektif, Kreator Harus Bikin Konten Apa?

👤 Lina Faizatus Sholihah • 📅 September 22, 2026

Gen Z semakin selektif ketika memilih konten yang ingin mereka tonton, simpan, bagikan, atau bahkan jadikan referensi sebelum membeli sesuatu. Kreator Gen Z menghadapi tantangan yang berbeda pada 2026 karena audiens tidak hanya mencari konten yang menarik secara visual, tetapi juga ingin mendapatkan alasan untuk terus menonton.

Scroll cepat membuat kreator mempunyai waktu singkat untuk mencuri perhatian. Akan tetapi, perhatian saja tidak cukup. Setelah berhasil membuat seseorang berhenti menggulir layar, konten juga perlu menyajikan sesuatu yang terasa sesuai. Bisa berupa informasi, hiburan, pengalaman, sudut pandang, atau solusi atas persoalan yang mereka hadapi.

TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts memang menawarkan ruang besar bagi kreator untuk menjangkau audiens. Meski begitu, banyaknya pilihan konten membuat persaingan semakin padat. Karena itu, kreator perlu memahami bukan hanya apa yang sedang tren, tetapi juga mengapa audiens mau peduli terhadap konten tersebut.

Mengapa Kreator Gen Z Perlu Memahami Audiens?

Gen Z terbiasa menemukan beragam informasi melalui internet. Mereka bisa berpindah dari video hiburan ke konten edukasi, kemudian melihat ulasan produk hanya dalam beberapa menit.

Kondisi tersebut memberi audiens banyak pilihan. Ketika sebuah video membosankan, terasa terlalu artifisial, atau tidak menawarkan manfaat yang jelas, audiens bisa langsung menggulir ke video berikutnya.

Di samping itu, Gen Z juga semakin terbiasa membandingkan informasi dari berbagai asal. Ketika ingin membeli produk kecantikan, contohnya, mereka dapat melihat ulasan kreator, membaca komentar, mencari video lain, lalu membandingkan pengalaman pengguna sebelum mengambil keputusan.

Pelajari juga: Dulu Googling, Sekarang Tanya AI: Apa Dampaknya? Cari tahu bagaimana AI mengubah kebiasaan orang mencari informasi dan menemukan referensi di internet.

Kebiasaan tersebut memberi tantangan bagi kreator. Konten tidak cukup hanya mengandalkan tampilan yang menarik. Kreator perlu memahami kebutuhan audiens dan menyampaikan pesan dengan cara yang terasa masuk akal.

Audiens Tidak Selalu Mencari Konten yang Sempurna

Konten dengan produksi sederhana tetap dapat menarik perhatian jika kreator menyampaikan cerita yang sesuai.

Video seseorang mencoba makanan UMKM lokal, contohnya, tidak harus memakai kamera profesional. Kreator dapat memperlihatkan makanan, menguraikan rasa, menyebutkan kisaran harga, lalu menyajikan pengalaman secara jujur.

Strategi seperti itu terasa lebih dekat karena audiens dapat membayangkan pengalaman yang sama. Bahkan, bagian sederhana seperti ekspresi, komentar spontan, atau situasi di lokasi dapat membuat konten terasa lebih manusiawi.

Keaslian Konten Jadi Hal yang Perlu Diutamakan

Autentisitas menjadi salah satu unsur penting dalam membangun hubungan dengan audiens. Gen Z dapat menemukan banyak konten dengan format yang serupa. Karena itu, kreator perlu menyajikan sudut pandang yang membedakan kontennya dari video lain.

Contohnya, banyak kreator mengulas tempat makan. Akan tetapi, setiap kreator dapat mengambil strategi berbeda. Ada yang fokus pada harga, ada yang membahas porsi, ada yang mencari makanan untuk mahasiswa, dan ada pula yang membandingkan beberapa tempat dalam satu kawasan.

Perbedaan sudut pandang membuat topik yang sama terasa baru. Kreator juga perlu berhati-hati ketika mempromosikan produk. Jika sebuah konten terlalu fokus pada ajakan membeli tanpa memberikan alasan yang jelas, audiens dapat kehilangan ketertarikan.

Sebaliknya, kreator dapat memasukkan produk ke dalam pengalaman yang lebih natural. Contohnya, kreator fesyen dapat memperlihatkan cara memilih pakaian untuk kuliah, bekerja, atau hangout. Kreator teknologi dapat memperlihatkan pengalaman memakai sebuah perangkat dalam aktivitas sehari-hari.

Pelajari juga: Produk Bagus Belum Laku? Ini Strategi Promosinya sudah punya produk bagus, tetapi masih sulit menarik perhatian pelanggan? Cari tahu strategi promosi yang bisa membantu UMKM menjangkau audiens dengan lebih efektif.

Oleh sebab itu, promosi tidak hanya membicarakan produk, tetapi juga menunjukkan konteks penggunaannya.

Konten Seperti Apa yang Perlu Dibuat Kreator Gen Z?

Tidak ada satu format yang selalu berhasil untuk semua audiens. Namun, kreator dapat mengembangkan beberapa jenis konten yang memiliki alasan kuat untuk ditonton.

Jenis KontenAlasan menarik bagi Gen ZContoh penerapan
Edukasi singkatMemberikan informasi secara cepatTips, tutorial, atau penjelasan sederhana
Konten pengalamanMembuat audiens melihat sudut pandang nyataReview makanan atau produk
Konten interaktifMengajak audiens ikut berpartisipasiPolling, Q&A, atau pertanyaan di komentar
Konten hiburanMemberikan pengalaman menonton yang ringanSketsa, cerita lucu, atau tren yang relevan
Konten perbandinganMembantu audiens menentukan pilihanPerbandingan produk, harga, atau fitur

Format tersebut dapat muncul dalam berbagai kategori. Kreator kuliner dapat membuat video perbandingan menu. Kreator kecantikan dapat menunjukkan rutinitas penggunaan produk. Sementara itu, kreator teknologi dapat menjelaskan fitur perangkat melalui contoh penggunaan sehari-hari.

Yang terpenting, format harus mengikuti kebutuhan audiens, bukan sekadar mengikuti format yang sedang ramai.

Jangan Hanya Mengikuti Tren

Tren memang dapat membantu kreator menarik perhatian audiens. Namun, kreator tidak selalu perlu mengikuti setiap tren yang muncul. Misalnya, banyak pengguna TikTok mungkin sedang menggunakan audio tertentu. Kreator bisnis kuliner tidak harus memakai audio tersebut hanya karena akun lain menggunakannya. Kreator bisa mengambil unsur yang sedang populer, lalu mengaitkannya dengan topik yang sesuai dengan karakter audiens.

Strategi tersebut membuat konten tetap mengikuti perkembangan platform tanpa kehilangan identitas. Mereka juga perlu memahami bahwa tren mempunyai umur yang pendek. Konten yang hanya mengandalkan tren mungkin menarik perhatian dalam waktu singkat, tetapi belum tentu membangun hubungan jangka panjang dengan audiens.

Karena itu, kreator dapat menggabungkan konten berbasis tren dengan konten yang tetap relevan dalam jangka panjang. Audiens masih bisa menemukan tutorial, pengalaman, ulasan, cerita, dan penjelasan tentang persoalan tertentu meskipun tren tersebut sudah berakhir.

Cerita Membuat Konten Terasa Lebih Dekat

Cerita sederhana dapat menjadi pembeda ketika banyak akun mengulas topik yang sama. Bayangkan sebuah UMKM menjual sambal lokal. Kreator tidak hanya perlu memperlihatkan kemasan dan harga. Mereka dapat menceritakan rasa sambal, tingkat kepedasan, cara menikmatinya, atau pengalaman mencoba sambal tersebut bersama makanan tertentu.

Cerita membantu audiens memahami konteks. Audiens tidak hanya melihat produk, tetapi juga mengetahui pengalaman kreator saat menggunakannya. Hal serupa berlaku pada konten fesyen. Kreator dapat mengangkat persoalan yang dekat dengan keseharian, seperti bingung memilih pakaian untuk kuliah, ingin tampil rapi dengan anggaran terbatas, atau mencari pakaian yang cocok untuk berbagai aktivitas. Dari persoalan tersebut, kreator bisa memperkenalkan produk sebagai salah satu solusi.

Relevansi Lebih Penting daripada Sekadar Ramai

Konten yang ramai belum tentu sesuai bagi setiap orang. Karena itu, kreator perlu bertanya sebelum membuat konten:

  • Persoalan apa yang ingin saya bahas?
  • Siapa yang paling membutuhkan informasi ini?
  • Apa manfaat yang akan audiens dapatkan?
  • Mengapa audiens perlu menonton konten ini sampai selesai?
  • Apa yang membuat konten ini berbeda dari konten serupa?

Pertanyaan tersebut membantu kreator memperluas ide dengan lebih terarah.

Bagaimana Kreator Gen Z Memahami Kebutuhan Audiens?

Kreator tidak harus menebak kebutuhan audiens. Mereka bisa membaca berbagai tanda dari aktivitas akun. Komentar dapat menunjukkan pertanyaan yang sering muncul, sedangkan pesan dari audiens bisa membuka ide untuk konten berikutnya. Selain itu, perhatikan konten yang sering audiens simpan atau bagikan. Respons tersebut dapat membantu kreator melihat topik yang benar-benar menarik perhatian dan berguna bagi mereka.

Kreator juga dapat memperhatikan bagian video yang memancing respons. Jika audiens sering bertanya tentang harga, kreator dapat membuat konten khusus mengenai harga dan perbandingan. Jika banyak orang meminta tutorial, kreator dapat membuat seri yang mengulas langkah-langkahnya. Dengan cara tersebut, audiens ikut membantu membentuk arah konten.

Dengarkan Komentar, Bukan Hanya Jumlah Pengikut

Jumlah pengikut memang dapat memperlihatkan ukuran sebuah akun, tetapi angka tersebut tidak selalu menggambarkan kebutuhan audiens. Kreator dapat memperhatikan komentar seperti “ini beli di mana?”, “ada versi murahnya?”, “cocok untuk pemula tidak?”, atau “boleh bahas yang versi lokal?”. Pertanyaan seperti itu dapat menjadi asal ide yang sangat dekat dengan kebutuhan nyata audiens. Bahkan, satu komentar dapat berkembang menjadi beberapa konten.

Contoh Strategi Konten untuk Kreator di Indonesia

Kreator dapat menerapkan strategi berdasarkan kategori yang mereka pilih. Untuk kategori kuliner, contohnya, kreator dapat membuat seri “makan enak dengan uang terbatas”. Konten tersebut dapat menampilkan pilihan makanan, harga, porsi, lokasi, dan pengalaman saat mencobanya.

Untuk kategori fesyen, kreator dapat membuat konten “satu pakaian untuk beberapa acara”. Konten tersebut membantu audiens melihat cara memakai produk dalam situasi berbeda.

Sementara itu, kreator teknologi dapat mengulas fitur perangkat berdasarkan kebutuhan pengguna. Alih-alih menguraikan spesifikasi secara panjang, kreator dapat memperlihatkan manfaat fitur ketika seseorang kuliah, bekerja, membuat konten, atau menjalankan bisnis.

UMKM juga dapat memanfaatkan strategi serupa ketika bekerja sama dengan kreator. Mereka tidak harus meminta kreator membuat iklan yang terlalu formal. UMKM dapat menyajikan ruang bagi kreator untuk menyampaikan pengalaman menggunakan produk dengan gaya komunikasi yang sesuai dengan audiensnya.

Pelajari juga: Bagaimana Kreator Membantu UMKM Menarik Perhatian Audiens? Cari tahu cara affiliate dan endorse membuka peluang promosi bagi UMKM melalui kreator.

Kesalahan yang Sering Kreator Lakukan

Beberapa kesalahan dapat membuat konten sulit mempertahankan perhatian audiens.

Pertama, kreator terlalu mengejar tren. Mereka memakai format atau audio tertentu tanpa menghubungkannya dengan topik utama akun.

Kedua, kreator terlalu sering membuat promosi langsung. Jika hampir setiap video berisi ajakan membeli, audiens dapat merasa lelah.

Ketiga, kreator kurang memahami audiens. Mereka terlalu fokus membahas topik yang mereka sukai tanpa mempertimbangkan kebutuhan pengikut.

Keempat, kreator terlalu fokus pada jumlah penayangan. Padahal, komentar, simpanan, bagikan, dan percakapan dengan audiens juga dapat menyajikan informasi penting.

Kelima, kreator mengabaikan identitas akun. Ketika setiap konten mengikuti tren yang berbeda, audiens bisa kesulitan memahami alasan untuk mengikuti akun tersebut.

Langkah Praktis Kreator Gen Z Mengembangkan Konten

Kreator tidak perlu mengubah seluruh strategi dalam satu waktu. Mulailah dengan mengevaluasi konten yang sudah ada, lalu lihat unggahan mana yang paling banyak mendapat respons. Setelah itu, cari pola dari respons tersebut untuk mengetahui topik yang paling menarik perhatian audiens. Misalnya, audiens mungkin lebih sering mengomentari konten cerita, menyimpan tutorial, atau membagikan konten perbandingan. Gunakan temuan tersebut sebagai acuan untuk mengembangkan ide konten berikutnya.

Setelah menemukan pola, kembangkan beberapa variasi dari topik tersebut. Selanjutnya, buat beberapa kelompok konten. Contohnya, kreator dapat membagi konten menjadi edukasi, pengalaman, hiburan, dan promosi. Pembagian tersebut membantu akun mempunyai variasi tanpa kehilangan arah.

Mereka juga dapat menjalankan eksperimen kecil. Coba ubah pembukaan video, durasi, gaya penyampaian, atau sudut pengambilan cerita. Kemudian, bandingkan respons audiens untuk melihat strategi yang paling sesuai.

Di samping itu, jangan takut memperbarui strategi. Kebiasaan audiens dan karakter platform dapat berubah. Strategi yang berhasil beberapa bulan lalu belum tentu membuahkan respons yang sama pada periode berikutnya.

Kreator Perlu Membuat Konten yang Punya Alasan

Ujungnya, mereka tidak harus mengejar konten yang selalu viral. Mereka perlu membuat konten yang punya alasan kuat untuk ditonton.

Audiens mungkin berhenti karena visual yang menarik, tetapi mereka akan terus menonton ketika konten menyajikan informasi, hiburan, pengalaman, atau cerita yang sesuai.

Karena itu, kreator perlu menempatkan audiens sebagai bagian penting dalam tahapan pembuatan konten. Dengarkan pertanyaan mereka, pahami kebutuhannya, amati respons terhadap konten, lalu gunakan temuan tersebut untuk memperluas ide berikutnya.

Gen Z memang semakin selektif. Akan tetapi, kondisi tersebut juga membuka peluang bagi kreator yang mampu menghadirkan konten yang jujur, relevan, dan memiliki nilai bagi audiens.

Sudah mencoba berbagai tren, tetapi konten masih belum menarik perhatian Gen Z? Cari strategi digital marketing yang lebih terarah melalui Isee Digital Marketing.

Ingin berdiskusi langsung tentang strategi konten untuk bisnis Anda? Hubungi admin Isee Digital Marketing melalui WhatsApp di  wa.me/6289508029834.

Dipercaya oleh Partner Global

Google Partner
Meta Business
TikTok Shop