Diskon 15%

Promo Berakhir Dalam:

23JAM
:
59MNT
:
59DTK
Klaim Sekarang →
📁 Digital Marketing

Diskon 50%, Kok Bisnis Belum Tentu Untung?

👤 Lina Faizatus Sholihah • 📅 September 21, 2026

Diskon 50 persen kerap tampak sebagai cara instan untuk memikat pembeli. Angka besar di poster promo memang gampang membuat pelanggan berhenti menggulir, membuka toko, lalu menambahkan produk ke keranjang. Untuk pemilik UMKM, lonjakan pesanan tentu terasa menyenangkan. Akan tetapi, ada satu hal yang sering terlewat: penjualan yang ramai belum pasti mendatangkan keuntungan yang besar.

Bayangkan seorang pemilik toko pakaian yang menjual kemeja dengan harga Rp100.000. Di hari biasa, ia masih bisa memperoleh selisih yang lumayan dari tiap produk yang terjual. Lalu, ia menerapkan promo potongan 50 persen. Harga kemeja pun turun menjadi Rp50.000 dan pembeli segera berdatangan.

Sekilas, promo tersebut terlihat sukses. Pesanan bertambah, omzet naik, dan toko tampak semakin ramai. Namun, pemilik bisnis tidak bisa langsung menganggap promo itu menguntungkan. Mereka perlu menghitung biaya produksi, kemasan, layanan marketplace, sampai biaya promosi. Setelah semua pengeluaran masuk hitungan, barulah pemilik bisa melihat berapa keuntungan yang benar-benar mereka dapatkan.

Mengapa Diskon 50 Persen Terlihat Begitu Menarik?

Dari perspektif pelanggan, diskon 50 persen menimbulkan kesan bahwa mereka memperoleh kesempatan untuk membeli produk dengan harga yang jauh lebih murah. Sebagai contoh, produk yang harganya Rp100.000 menjadi Rp50.000. Selisih Rp50.000 tersebut terasa nyata, sehingga pelanggan lebih mudah tertarik.

Untuk UMKM, promosi semacam ini juga dapat membantu menarik perhatian terhadap produk. Kedai kopi bisa memanfaatkannya untuk mendatangkan pelanggan baru. Toko pakaian dapat menggunakannya saat ingin mengurangi stok tertentu. Sementara itu, toko online mampu memadukan promo dengan momentum 9.9, 10.10, 11.11, atau 12.12.

Akan tetapi, pelaku usaha perlu memandang promo sebagai alat penjualan, bukan hanya cara menurunkan harga. Apabila pemilik bisnis langsung memotong harga tanpa menghitung biaya, promo malah bisa menekan margin. Bahkan, makin banyak produk yang terjual, makin besar pula keuntungan yang hilang.

Diskon 50 Persen Belum Tentu Membuat Bisnis Untung

Mari kita pakai contoh yang sederhana. Sebuah UMKM menjual tas dengan harga normal Rp100.000. Biaya produksi untuk satu tas adalah Rp60.000. Dengan demikian, pemilik mendapat selisih Rp40.000 sebelum menghitung biaya lain seperti kemasan, biaya layanan marketplace, iklan, dan operasional.

Saat pemilik memberi diskon 50 persen, harga jualnya menjadi Rp50.000.

Ini berarti:

Harga jual setelah diskon – biaya produk = keuntungan kotor

Rp50.000 – Rp60.000 = -Rp10.000

Pada ilustrasi itu, tiap tas yang terjual justru menimbulkan selisih negatif Rp10.000 sebelum biaya tambahan lainnya. Persoalannya bukan terletak pada diskon itu sendiri. Masalah timbul saat bisnis memberi potongan harga tanpa memahami batas aman harga jual.

Pemilik bisnis juga perlu memahami bahwa omzet dan keuntungan bukan hal yang sama. Omzet menunjukkan total uang dari seluruh penjualan, sedangkan keuntungan menunjukkan sisa uang setelah pemilik membayar biaya usaha. Jadi, jangan langsung menganggap omzet besar berarti bisnis sudah menghasilkan banyak keuntungan.

Bagaimana Diskon 50 Persen Memengaruhi Margin Keuntungan?

Sebelum membuat promo, pemilik usaha perlu menghitung margin yang mereka dapatkan dari setiap produk. Misalnya, sebuah kedai kopi menjual kopi susu seharga Rp20.000. Pemilik kedai mengeluarkan Rp10.000 untuk bahan, gelas, tutup, sedotan, dan kebutuhan produksi lainnya. Dari penjualan tersebut, kedai masih memiliki selisih Rp10.000 sebelum pemilik menghitung biaya operasional lain.

Apabila kedai memberi potongan 50 persen, pelanggan cukup membayar Rp10.000. Dalam keadaan itu, harga jual sudah setara dengan biaya produksi. Dengan kata lain, kedai belum memperoleh keuntungan dari penjualan tersebut. Saat pemilik masih harus menanggung biaya listrik, sewa tempat, gaji, aplikasi pengantaran, atau biaya promosi, hasil akhirnya bisa berubah menjadi kerugian. Oleh sebab itu, pemilik UMKM harus menghitung margin terlebih dahulu sebelum menetapkan besaran potongan.

Harga NormalDiskonHarga Setelah DiskonBiaya ProdukSelisih Sebelum OperasionalRisiko
Rp100.0000%Rp100.000Rp60.000Rp40.000Margin relatif lebih longgar
Rp100.00020%Rp80.000Rp60.000Rp20.000Margin mulai berkurang
Rp100.00030%Rp70.000Rp60.000Rp10.000Ruang keuntungan semakin kecil
Rp100.00040%Rp60.000Rp60.000Rp0Tidak ada selisih untuk biaya lain
Rp100.00050%Rp50.000Rp60.000-Rp10.000Berisiko mengalami kerugian

Tabel itu hanya memakai ilustrasi yang sederhana. Pada praktiknya, pemilik usaha harus mencantumkan semua biaya yang terkait dengan produk dan transaksi.

Kesalahan UMKM Saat Memberikan Diskon

1. Fokus pada Jumlah Pesanan Setelah Diskon 50 Persen

Pesanan yang datang memang menandakan bahwa promo berhasil menarik perhatian pelanggan. Akan tetapi, pemilik tidak seharusnya hanya berhenti pada angka transaksi.

Sebelum menjalankan promo, toko tersebut mencatat 20 transaksi dengan keuntungan Rp30.000 dari setiap transaksi. Setelah pemilik memberikan promo, jumlah transaksi naik menjadi 50. Namun, keuntungan dari setiap transaksi justru turun menjadi Rp5.000. Artinya, promo memang berhasil menarik lebih banyak pembeli, tetapi pemilik tetap perlu menghitung total keuntungan untuk mengetahui hasil sebenarnya.

2. Menganggap Diskon 50 Persen Tidak Memengaruhi Keuntungan

Kesalahan lain terjadi ketika pemilik toko langsung menganggap seluruh hasil penjualan sebagai uang yang bisa mereka gunakan. Misalnya, sebuah toko online mencatat penjualan sebesar Rp5 juta selama periode promo. Angka tersebut memang terlihat cukup besar, tetapi pemilik masih harus membayar biaya barang, kemasan, operasional, layanan platform, iklan, dan kebutuhan lainnya. Setelah pemilik mengurangi seluruh pengeluaran tersebut, keuntungan yang tersisa bisa jauh lebih kecil dari angka penjualannya.

3. Ikut Memberikan Diskon 50 Persen karena Kompetitor

Pemilik UMKM kadang-kadang mengamati toko lain memberi diskon besar, kemudian meniru tindakan tersebut. Belum tentu strategi itu sesuai untuk setiap bisnis. Tiap produk punya biaya produksi dan margin yang tidak sama. Oleh sebab itu, pemilik harus menghitung keadaan bisnisnya sendiri sebelum menetapkan potongan.

Pelajari juga: Affiliate Makin Ramai, Bisnis Pilih Endorse atau Tidak? Cari strategi promosi lain dan pilih cara yang paling sesuai untuk menjangkau pelanggan tanpa terus mengandalkan potongan harga.

4. Memberikan Potongan untuk Semua Produk

Memberikan promo untuk semua produk memang tampak mudah. Akan tetapi, strategi itu bisa menurunkan keuntungan pada produk yang sebenarnya permintaannya masih tinggi. Pemilik usaha dapat menentukan produk tertentu sebagai produk promo. Dengan cara itu, bisnis tetap punya produk berharga normal guna mempertahankan keuntungan.

Cara Menghitung Harga Setelah Diskon

Sebenarnya, menghitung harga setelah potongan itu cukup mudah.

Pakai rumus berikut:

Harga setelah diskon = harga normal – (harga normal × persentase diskon)

Sebagai contoh, sebuah toko menjual sepasang sepatu dengan harga Rp200.000 dan memberi diskon 30 persen.

Berikut perhitungannya:

Rp200.000 × 30% = Rp60.000

Selanjutnya:

Rp200.000 – Rp60.000 = Rp140.000

Dengan demikian, pelanggan membayar sebesar Rp140.000.

Setelah memperoleh harga itu, pemilik usaha tetap harus membandingkannya dengan total biaya produk. Tahap ini krusial sebab harga setelah diskon belum memperlihatkan laba.

Apabila total biaya produk sebesar Rp120.000, pemilik cuma punya selisih Rp20.000 sebelum menghitung biaya lainnya. Lewat cara itu, pemilik bisa menilai apakah suatu promo memang layak atau sekadar tampak menarik di mata pelanggan.

Bagaimana Diskon 50 Persen Berdampak pada UMKM?

Bayangkan ada sebuah kedai kopi kecil di Surabaya yang menjual kopi susu dengan harga Rp20.000. Untuk menarik pelanggan baru, pemilik lalu memberi potongan sebesar 50 persen.

Setelah promo berjalan, pelanggan cukup membayar Rp10.000. Kedai mengeluarkan Rp7.000 untuk bahan dan kemasan, sehingga pemilik hanya memiliki selisih Rp3.000 dari setiap penjualan. Namun, pemilik belum bisa menyebut selisih tersebut sebagai keuntungan bersih karena masih ada biaya operasional lain yang perlu mereka perhitungkan.

Kedai masih menanggung biaya lain, misalnya listrik, air, sewa, gaji, perawatan peralatan, dan biaya pemasaran. Oleh sebab itu, pemilik dapat menerapkan promo dengan batasan-batasan tertentu. Sebagai contoh, promo hanya berlaku pada jam sepi atau khusus untuk pelanggan baru.

Dengan cara tersebut, pemilik dapat menentukan tujuan promo dengan lebih jelas. Misalnya, pemilik toko pakaian dapat memberikan potongan besar untuk menghabiskan stok model lama yang belum laku. Namun, pemilik tidak perlu memangkas harga produk yang masih sering pelanggan cari. Strategi ini membantu toko menjaga harga jual produk yang tetap menarik banyak pembeli.

Sementara itu, toko online di marketplace bisa menghadapi biaya tambahan dari berbagai layanan. Karena itu, pemilik perlu menghitung hasil transaksi setelah memperhitungkan semua biaya yang relevan.

Strategi Promo agar UMKM Tetap Mendapat Untung

1. Hitung Margin Sebelum Memberikan Diskon 50 Persen

Jangan menetapkan besaran persentase diskon semata-mata karena angkanya tampak menarik. Terlebih dahulu hitung harga jual, biaya produk, biaya operasional, serta biaya transaksi. Setelah itu, tetapkan batas potongan yang tetap menyisakan ruang untuk memperoleh keuntungan.

2. Berikan Diskon 50 Persen pada Produk Tertentu

Pemilik tidak perlu memberikan promo untuk semua produk. Mereka bisa memilih produk dengan margin lebih longgar atau produk yang ingin mereka kenalkan kepada pelanggan baru. Cara ini membuat bisnis tetap leluasa mempertahankan harga produk lainnya.

3. Terapkan Minimum Pembelian

Alih-alih memberi potongan besar tanpa syarat, bisnis bisa menetapkan jumlah pembelian minimum. Sebagai ilustrasi, pelanggan memperoleh potongan Rp25.000 setelah berbelanja minimal Rp150.000. Strategi itu mampu menaikkan nilai transaksi sekaligus membatasi pengaruh potongan terhadap keuntungan.

4. Gunakan Bundling

Bundling bisa menjadi pilihan ketika bisnis ingin memberi kesan hemat tanpa harus menurunkan harga satu produk secara berlebihan. Sebagai contoh, kedai kopi dapat menyediakan satu kopi dan satu camilan dalam satu paket. Toko pakaian dapat memadukan atasan dengan aksesori tertentu. Dengan cara itu, pelanggan memperoleh nilai lebih dan bisnis masih punya ruang untuk mengatur margin.

5. Berikan Voucher untuk Pembelian Berikutnya

Tidak semua manfaat promosi perlu berasal dari diskon langsung. Perusahaan bisa menyediakan voucher untuk transaksi selanjutnya. Strategi itu mampu membuat pelanggan kembali berbelanja sekaligus mempertahankan harga pada transaksi pertama.

Pelajari juga: Mending Live 2 Jam atau Posting 20 Konten? Cari tahu cara memilih aktivitas promosi yang sesuai dengan tujuan bisnis agar pemilik usaha dapat menggunakan waktu dan tenaga secara lebih efektif.

6. Manfaatkan Momentum Promo Secara Terukur

Tanggal kembar seperti 9.9, 10.10, 11.11, dan 12.12 sering menarik perhatian pembeli di marketplace. Namun, pemilik usaha tidak harus memberikan potongan paling besar hanya karena kompetitor menawarkan promo serupa. Pemilik dapat menyusun penawaran yang lebih spesifik, seperti potongan untuk produk tertentu, voucher dengan minimum pembelian, atau paket bundling.

7. Evaluasi Keuntungan, Bukan Sekadar Transaksi

Setelah promosi berakhir, jangan cuma memperhatikan banyaknya pesanan. Bandingkanlah penjualan sebelum promo dengan penjualan selama promo. Selanjutnya, hitunglah pengeluaran biaya serta keuntungan yang masih tersisa. Dengan begitu, pemilik bisa menilai apakah promosi sungguh menguntungkan bisnis atau sekadar menambah aktivitas transaksi.

Pelajari juga: Follower Banyak Belum Tentu Laku: Apa yang Berubah dari Instagram Bisnis di 2026? Cari tahu bagaimana pemilik bisnis dapat mengubah perhatian audiens menjadi penjualan, bukan sekadar mengejar jumlah pengikut.

Kapan UMKM Sebaiknya Memberikan Diskon 50 Persen?

Diskon bisa menjadi strategi yang bermanfaat apabila bisnis memiliki tujuan yang jelas. Contohnya, sebuah toko pakaian hendak menghabiskan stok model lama. Sebuah kedai kopi ingin memperkenalkan menu baru. Sebuah bisnis kecantikan ingin memperkenalkan layanan tertentu. Sebuah toko online ingin menarik pelanggan baru. Setiap kondisi memerlukan strategi promo yang tidak sama.

Pemilik usaha juga perlu memilih waktu yang tepat untuk menjalankan promo. Mereka bisa memanfaatkan akhir bulan, menjelang hari raya, atau momentum belanja tertentu untuk menarik pelanggan. Namun, pemilik tetap perlu menghitung batas margin sebelum menentukan besar potongan. Dengan begitu, promo tidak hanya berfungsi untuk menarik transaksi. Setiap promo juga memiliki tujuan bisnis yang jelas dan dapat pemilik ukur.

Jangan Biarkan Diskon Menggerus Keuntungan

Pada akhirnya, strategi promosi bukan soal siapa yang memberi potongan paling besar. Sebuah bisnis harus menemukan keseimbangan antara harga yang menarik bagi pelanggan dan keuntungan yang sehat untuk usaha.

Diskon 50 persen memang mampu menarik perhatian, namun pemilik usaha tetap harus menghitung dampaknya pada harga jual dan margin. Apabila biaya produk sudah hampir menyamai harga setelah diskon, potongan yang besar bisa membuat ruang keuntungan makin sempit.

Oleh sebab itu, sebelum menempelkan tulisan “diskon besar” pada poster atau marketplace, hitung dulu biaya dan keuntungan yang masih tersisa. Dengan cara itu, promosi bisa menolong bisnis meraih tujuannya tanpa mengorbankan kondisi keuangan usaha.

Promo sudah ramai, tapi keuntungan belum maksimal? Temukan strategi digital marketing yang tepat bersama Isee Digital Marketing.

Mau ngobrol soal strategi promosi bisnis Anda? Hubungi admin Isee Digital Marketing melalui WhatsApp di wa.me/6289508029834 .

Dipercaya oleh Partner Global

Google Partner
Meta Business
TikTok Shop