Diskon 15%

Promo Berakhir Dalam:

23JAM
:
59MNT
:
59DTK
Klaim Sekarang →
📁 Digital Marketing

Dulu Googling, Sekarang Tanya AI: Apa Dampaknya?

👤 Lina Faizatus Sholihah • 📅 September 21, 2026

Digital marketing dan AI semakin mengubah cara orang mencari informasi di internet. Dulu, saat ingin mencari rekomendasi laptop untuk kuliah, kita mungkin membuka Google, mengetik beberapa kata kunci, lalu membuka berbagai halaman untuk membandingkan informasi. Sekarang, kita bisa langsung bertanya kepada AI dengan menjelaskan kebutuhan secara lebih lengkap.

Perubahan cara mencari informasi ini membuat pengguna tidak hanya mengandalkan kata kunci singkat. Mereka mulai mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik dan mengharapkan jawaban yang sesuai dengan kebutuhan. Digital marketing dan AI pun ikut mengubah cara orang menemukan informasi, membandingkan pilihan, hingga menentukan keputusan.

Meski begitu, perubahan ini bukan berarti orang berhenti menggunakan Google. Google justru mengembangkan pengalaman pencarian dengan teknologi AI. Pada September 2025, Google menghadirkan AI Mode di Indonesia. Memasuki 2026, Google terus mengembangkan fitur tersebut agar pengguna dapat mengajukan pertanyaan yang lebih kompleks dan melanjutkan pencarian melalui percakapan.

Layanan seperti ChatGPT juga menyediakan fitur pencarian web yang membantu pengguna menemukan informasi terbaru sekaligus melihat sumbernya. Kondisi ini membuat cara orang mencari informasi semakin beragam. Bagi pemilik bisnis, UMKM, kreator konten, mahasiswa, dan pengelola website, perkembangan digital marketing dan AI perlu diperhatikan karena calon pelanggan kini memiliki lebih banyak cara untuk menemukan produk atau merek.

Digital Marketing dan AI Mengubah Kebiasaan Mencari Informasi

Generasi muda sudah terbiasa mencari informasi dengan cara yang cepat. Saat ingin mengetahui sesuatu, mereka tidak selalu bersedia membaca sepuluh artikel lebih dulu. Mereka lebih cenderung mencari jawaban yang langsung memenuhi kebutuhan.

Sebagai contoh, ada mahasiswa yang ingin membeli laptop untuk kuliah Teknologi Informasi dengan anggaran terbatas. Sebelumnya, ia mungkin mengetik:

laptop mahasiswa 5 jutaan

Lalu muncullah banyak hasil pencarian. Ia perlu membuka sejumlah situs, membaca spesifikasi, membandingkan harga, dan memutuskan pilihannya sendiri.

Lewat pencarian berbasis AI, pertanyaannya bisa jadi lebih spesifik:

Saya mahasiswa Teknologi Informasi dengan anggaran Rp5 juta. Laptop seperti apa yang cocok untuk coding, memakai Visual Studio Code, dan sesekali menjalankan emulator Android?

AI mampu memahami konteks pertanyaan itu dan memberi jawaban yang lebih bersifat percakapan. Pengguna pun dapat melanjutkan dengan pertanyaan seperti, “Kalau RAM 8 GB cukup tidak?” atau “Ada pilihan lain yang lebih murah?”

Perbedaan cara bertanya ini penting. Pengguna tidak lagi hanya memasukkan beberapa kata kunci, melainkan mulai menyampaikan niat pencariannya secara menyeluruh.

Google juga mencatat bahwa fitur AI dalam Search membuat orang mencari dengan cara yang berbeda, termasuk mengajukan pertanyaan yang lebih rumit dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Mengapa Digital Marketing dan AI Mengubah Cara Orang Mencari?

Ada sejumlah alasan yang membuat pencarian berbasis AI terasa lebih praktis.

Pertama, pengguna bisa memakai bahasa sehari-hari. Mereka tidak perlu memikirkan kata kunci yang tepat. Mereka cukup menjelaskan masalah yang sedang mereka hadapi.

Kedua, AI mampu membantu menyusun informasi dari berbagai kebutuhan dalam satu percakapan. Pengguna dapat meminta perbandingan, meminta penjelasan ulang, atau mempersempit jawaban sesuai kondisi tertentu.

Ketiga, pengguna bisa terus melanjutkan percakapan. Saat jawaban pertama belum menjawab kebutuhannya, pengguna cukup menambahkan informasi atau pertanyaan lain tanpa mengulang proses pencarian dari awal.

Pola ini terasa akrab dengan kebiasaan Gen Z. Saat membutuhkan ide tugas, rekomendasi produk, penjelasan materi kuliah, inspirasi konten, atau informasi tentang suatu tempat, mereka dapat langsung menanyakan kebutuhannya dengan kalimat yang natural.

Namun, pengguna tetap perlu mengecek sumber informasi dari AI. AI bisa saja memberikan jawaban yang keliru, kurang lengkap, atau sudah tidak sesuai dengan kondisi terbaru. Saat menemukan informasi penting, pengguna sebaiknya membandingkannya dengan sumber tepercaya sebelum mengambil keputusan.

Digital Marketing dan AI: Google dan AI Bukan Sekadar Pergantian Mesin Pencari

Menggambarkan perubahan ini sebagai “Google versus AI” sebenarnya terlalu menyederhanakan keadaan. Google sendiri tengah memadukan pengalaman mesin pencari dengan AI. AI Overviews dan AI Mode memungkinkan pengguna mendapatkan ringkasan, mengajukan pertanyaan lanjutan, serta membuka sumber yang relevan langsung dari pengalaman pencarian.

Dengan kata lain, garis pemisah antara mesin pencari dan asisten AI kian menipis. Pengguna mungkin masih membuka Google, namun cara mereka memanfaatkannya sudah berubah. Mereka tidak sekadar mengetik “tempat makan Surabaya”, misalnya, tetapi bisa bertanya:

Saya mencari tempat makan di Surabaya untuk makan bersama empat orang, suasananya nyaman untuk ngobrol dan harganya tidak terlalu mahal. Apa saja pilihannya?

Pola pertanyaan seperti ini membuat konteks semakin penting. Bagi pelaku digital marketing dan AI, perubahan tersebut menunjukkan bahwa strategi pemasaran tidak cukup hanya mengejar kata kunci pendek. Bisnis perlu memahami perilaku calon pelanggan, mencari tahu kebutuhan mereka, mengenali masalah mereka, dan memahami alasan mereka mencari informasi.

Pelajari juga: Orang Makin Sering Cari di TikTok, Lalu Apa Kabar Google? Cari tahu bagaimana perubahan kebiasaan pengguna membuat TikTok dan Google sama-sama berperan dalam perjalanan pencarian informasi.

Digital Marketing dan AI Mengubah Cara Orang Menemukan Konten

Dahulu, salah satu sasaran utama SEO adalah meraih posisi tinggi di halaman hasil pencarian. Tujuan itu masih tetap relevan, namun kini perjalanan pengguna bisa jadi lebih panjang dan rumit.

Seseorang mungkin melihat ringkasan AI terlebih dahulu, lalu membuka sumber yang muncul, mengecek media sosial, dan membaca ulasan pelanggan sebelum mengunjungi website bisnis. Pola seperti ini membuat bisnis perlu hadir di beberapa titik digital agar calon pelanggan lebih mudah menemukan informasi tentang produk atau layanan mereka.

Website tetap penting sebab menjadi tempat bisnis menyajikan informasi yang lebih lengkap. Media sosial berperan membangun hubungan dan memperlihatkan aktivitas bisnis. Ulasan pelanggan bisa menumbuhkan kepercayaan. Sedangkan konten informatif mampu menjawab pertanyaan yang timbul sebelum seseorang membeli.

Google juga terus mengembangkan fitur yang membantu pengguna menemukan situs dan konten asli melalui pencarian berbasis AI. Pada 2026, Google menghadirkan Preferred Sources serta fitur lain yang membantu pengguna menemukan konten asli dan sumber tepercaya. Jadi, bisnis tidak cukup hanya membuat banyak artikel. Mereka perlu membuat konten yang punya nilai dan membuat pembaca merasa mendapatkan sesuatu setelah membacanya.

Digital Marketing dan AI: Apakah SEO Masih Relevan?

Jawabannya bukan sekadar “SEO sudah mati”. SEO tetap berkaitan dengan bagaimana mesin pencari menemukan, memahami, dan menampilkan informasi. Akan tetapi, praktiknya kian berkembang.

Jika dulu bisnis berfokus pada pertanyaan seperti:

“Bagaimana caranya agar artikel saya muncul di halaman pertama Google?”

Bisnis dapat mengembangkan pertanyaan tersebut menjadi:

“Bagaimana caranya agar konten saya benar-benar menjadi sumber yang bermanfaat saat orang mencari informasi?”

Pergeseran fokus ini membuat kualitas konten semakin penting. Misalnya, artikel tentang “cara memilih laptop mahasiswa” tidak cukup hanya mengulang kata kunci berkali-kali. Penulis perlu membahas pertimbangan yang benar-benar penting bagi mahasiswa, mulai dari anggaran, prosesor, RAM, penyimpanan, kebutuhan perangkat lunak, ketahanan baterai, hingga penggunaan sehari-hari. Dengan cara ini, penulis tidak hanya mengejar mesin pencari, tetapi juga membantu pembaca menemukan jawaban yang mereka cari.

Apa Dampaknya bagi UMKM Indonesia?

Bagi UMKM, perubahan ini membawa tantangan sekaligus peluang. Sebagai contoh, ada UMKM yang menjual keripik pisang khas daerah. Sebelumnya, pemilik usaha mungkin cuma mengunggah foto produk ke Instagram lalu berharap calon pembeli menemukan akun itu.

Kini, strateginya bisa lebih berkembang. Pemilik usaha dapat membangun website yang memaparkan bahan, varian rasa, ukuran kemasan, cara pemesanan, area pengiriman, serta kisah di balik produknya. Konten media sosial bisa mengulas cara menikmati produk, proses produksi, atau ide oleh-oleh khas daerah.

Saat seseorang mencari “oleh-oleh makanan khas Jawa Timur untuk keluarga”, mereka biasanya membuka beberapa sumber. Mereka membandingkan rekomendasi, membaca ulasan, dan mencari informasi produk. Karena itu, bisnis perlu menyajikan informasi melalui berbagai kanal digital. Konten tersebut membantu calon pelanggan mengenal produk sebelum membeli.

Contoh tersebut tidak berarti AI akan langsung merekomendasikan produk tertentu. Tidak ada jaminan seperti itu. Namun, bisnis dapat memperluas peluang interaksi dengan calon pelanggan ketika mereka menyajikan informasi yang lengkap dan jelas melalui website, media sosial, serta kanal digital lainnya.

Perbandingan Google dan Pencarian AI

Berikut adalah gambaran ringkas tentang perubahan dalam perilaku pencarian serta pengaruhnya terhadap strategi pemasaran:

AspekPencarian melalui GooglePencarian melalui AIDampak terhadap Digital Marketing
Cara bertanyaKata kunci atau frasaPertanyaan lengkap dan kontekstualKonten perlu menjawab kebutuhan secara spesifik
HasilDaftar halaman, gambar, video, dan fitur pencarianJawaban percakapan dengan sumber atau tautanBisnis perlu membangun konten yang informatif dan kredibel
Perilaku penggunaMembuka dan membandingkan beberapa hasilMendapat ringkasan lalu melakukan pertanyaan lanjutanKonten harus memberikan informasi yang benar-benar berguna
Fokus optimasiKata kunci dan relevansi halamanMaksud pencarian, konteks, kualitas, dan sumberSEO perlu berjalan bersama strategi konten
Perjalanan pelangganCenderung berpindah dari satu hasil ke hasil lainDapat dimulai dari jawaban AI lalu menuju sumberWebsite, media sosial, dan sumber eksternal perlu saling mendukung

Perbandingan itu memperlihatkan bahwa digital marketing dan AI bukan sekadar soal pemakaian alat AI untuk menghasilkan konten. Efeknya jauh lebih besar sebab AI turut mengubah cara konsumen menemukan serta menilai informasi.

Konten yang Menjawab Pertanyaan Akan Semakin Penting

Bisnis perlu mengubah cara mereka mencari dan menyusun ide konten. Fokusnya bukan hanya pada kata kunci, tetapi juga pada kebutuhan dan pertanyaan calon pelanggan.

Hindari hanya bertanya:

“Calon pelanggan sedang mencari informasi apa?”

Sertakan juga pertanyaan:

“Calon pelanggan sedang menghadapi masalah apa?”

Sebagai contoh, toko sepatu lokal tidak perlu hanya membuat artikel tentang “sepatu olahraga murah”.

Bisnis tersebut bisa menyusun konten seperti:

  • Cara memilih sepatu untuk mahasiswa yang sering berjalan kaki.
  • Perbedaan antara sepatu lari dan sepatu untuk aktivitas sehari-hari.
  • Apa yang perlu kamu cek sebelum membeli sepatu secara daring?
  • Cara menentukan ukuran sepatu saat membeli melalui marketplace.

Topik-topik tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kreator konten juga bisa memakai pendekatan serupa. Mereka tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga membuat konten yang menjawab pertanyaan dan membantu audiens mendapatkan informasi.

Website Tetap Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Kanal

Kemajuan AI tidak menyebabkan website kehilangan perannya. Website bisa menjadi sumber informasi utama yang memaparkan bisnis secara menyeluruh. Akan tetapi, bisnis juga harus memperhitungkan media sosial, marketplace, video, ulasan pelanggan, serta beragam sumber digital lain.

Pelajari juga: Bisnis Menarik Perhatian Pengunjung Lewat Website bisnis dapat menarik perhatian pengunjung dengan menyusun informasi secara jelas dan membuat halaman website lebih nyaman untuk dijelajahi.

Bayangkan seorang calon pelanggan menemukan suatu produk lewat TikTok. Setelah itu, ia mencari nama produk tersebut di Google. Kemudian, ia membaca website dan menyimak ulasan sebelum berbelanja melalui marketplace.

Perjalanan semacam ini memperlihatkan bahwa pemasaran digital tidak hanya bergerak melalui satu kanal. Oleh sebab itu, bisnis sebaiknya tidak memilih antara SEO, media sosial, atau AI secara terpisah. Ketiganya bisa menjadi bagian dari strategi yang saling mendukung.

Tantangan Digital Marketing dan AI bagi Kreator dan Pemilik Bisnis

Perkembangan AI turut mempermudah proses produksi konten. Dengan AI, siapa saja bisa mencari ide, membuat judul, menyusun rangkuman, hingga menulis draf artikel dalam waktu singkat. Namun, kemudahan ini juga punya tantangan. Orang bisa menghasilkan banyak konten tanpa benar-benar meningkatkan kualitasnya. Ketika banyak bisnis membuat artikel dengan informasi yang hampir sama, pengguna akan kesulitan menemukan sumber yang benar-benar memberi mereka informasi baru.

Pelajari juga: AI Bisa Bikin 100 Konten, Tapi Bisakah Bikin Konsumen Percaya? Cari tahu mengapa penggunaan AI untuk membuat banyak konten tetap membutuhkan kualitas, relevansi, dan kepercayaan dari konsumen.

Di titik inilah pengalaman, keahlian, data yang jelas, contoh nyata, sudut pandang, dan informasi relevan mulai memainkan peran penting. Google juga menekankan pentingnya konten asli, sumber tepercaya, dan perspektif langsung dalam pencarian berbasis AI. AI bisa membantu bisnis mencari ide dan membuat konten, tetapi pemilik bisnis tetap harus memilih informasi yang benar-benar berguna bagi audiens.

Peluang Digital Marketing dan AI bagi Bisnis

Perubahan dalam perilaku pencarian memang menimbulkan tantangan, namun sekaligus membuka peluang. Usaha kecil bisa memanfaatkan AI untuk membantu riset ide konten, menyusun pertanyaan pelanggan, mencari variasi topik, atau merapikan struktur artikel. Setelah itu, pemilik bisnis dapat menambahkan pengalaman nyata serta informasi yang benar-benar berasal dari bisnisnya.

Sebagai contoh, pemilik kedai kopi bisa memakai AI untuk mencari tahu pertanyaan yang sering pelanggan sampaikan. Namun, pemilik bisnis tetap perlu memberikan informasi yang akurat tentang menu, harga, jam operasional, lokasi, dan pengalaman pelanggan berdasarkan kondisi nyata di kedainya.

Dengan demikian, AI berperan sebagai alat bantu, bukan pengganti pengetahuan bisnis. Pendekatan itu menjadikan strategi digital marketing dan AI lebih berfokus pada kebutuhan pengguna, bukan sekadar mengejar jumlah konten.

Apa yang Bisa Bisnis Lakukan Mulai Sekarang?

Perubahan dalam pencarian tidak berarti UMKM harus langsung mengubah seluruh strategi pemasaran. UMKM bisa memulai dari beberapa langkah sederhana dan menjalankannya secara bertahap.

1. Petakan pertanyaan pelanggan

Catat pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul lewat WhatsApp, komentar di media sosial, marketplace, maupun percakapan langsung. Setelah itu, gunakan pertanyaan tersebut untuk mencari ide konten yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

2. Buat Konten Digital Marketing dan AI dengan Konteks yang Jelas

Jangan hanya terpaku pada satu kata kunci. Cari tahu siapa yang membutuhkan informasi tersebut, pahami masalah mereka, lalu tentukan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

3. Perkuat website

Pastikan pelanggan menemukan informasi penting seperti produk, layanan, lokasi, kontak, harga, dan jawaban atas pertanyaan yang sering mereka ajukan.

4. Gunakan AI dalam Strategi Digital Marketing

AI bisa membantu dalam melakukan riset, menyusun kerangka, mencari variasi ide, atau mempermudah proses produksi. Akan tetapi, verifikasi kembali faktanya dan sesuaikan hasilnya dengan situasi bisnis.

5. Bangun kredibilitas

Gunakan informasi yang jelas, sertakan pengalaman nyata, dan pilih sumber tepercaya. Jangan membuat klaim tanpa bukti yang jelas.

6. Jangan meninggalkan SEO

Optimasi mesin pencari masih tetap krusial. Akan tetapi, arahkan SEO pada kebutuhan pengguna, struktur informasi, relevansi, serta kualitas konten, bukan hanya mengulang kata kunci.

7. Evaluasi perilaku audiens

Cermati halaman yang paling sering mendapat kunjungan, pertanyaan pelanggan, konten yang menarik banyak interaksi, serta sumber trafik. Setelah itu, gunakan data tersebut untuk menentukan topik konten berikutnya.

Kesimpulan

Pergeseran dari pencarian lewat Google menjadi bertanya kepada AI memperlihatkan bahwa perilaku pencarian pengguna tengah mengalami perkembangan. Masyarakat semakin terbiasa mengajukan pertanyaan secara utuh, meminta konteks, serta memperoleh jawaban yang lebih langsung.

Di sisi lain, Google turut memasukkan AI ke dalam pengalaman Search, jadi perubahan ini bukan hanya perpindahan antarplatform. Dalam konteks digital marketing dan AI, pelaku usaha perlu meninjau ulang cara mereka menyusun konten. SEO masih berperan, namun strategi konten harus melangkah lebih jauh dengan memahami maksud pencarian, menyajikan informasi yang berguna, membangun kredibilitas, dan menghadirkan pengalaman digital yang konsisten.

Bagi Gen Z, mahasiswa, UMKM, kreator, dan pemilik bisnis, perubahan ini bukan alasan untuk meninggalkan strategi digital yang sudah mereka gunakan. Justru, perubahan ini membuka peluang untuk membuat konten yang lebih sesuai dengan pertanyaan nyata pengguna. AI dapat membantu proses tersebut, tetapi pembuat konten tetap menentukan kualitasnya melalui informasi yang jelas, konteks yang kuat, dan manfaat bagi pembaca.

Sudahkah strategi SEO dan konten bisnis Anda mengikuti perubahan cara orang mencari informasi dengan AI? Jika Anda ingin menyesuaikan strategi digital marketing dengan perkembangan tersebut, kunjungi Isee Digital Marketing untuk mengenal layanan yang tersedia.

Masih bingung menentukan langkah berikutnya? Hubungi admin melalui WhatsApp di wa.me/6289508029834 dan diskusikan kebutuhan digital marketing bisnis Anda bersama tim Isee Digital Marketing.

Dipercaya oleh Partner Global

Google Partner
Meta Business
TikTok Shop