Diskon 15%

Promo Berakhir Dalam:

23JAM
:
59MNT
:
59DTK
Klaim Sekarang →
📁 Digital Marketing

Orang Makin Sering Cari di TikTok, Lalu Apa Kabar Google?

👤 Lina Faizatus Sholihah • 📅 September 19, 2026

Pencarian TikTok kini menjadi salah satu cara orang mencari tempat makan. Alih-alih membuka Google, seseorang bisa langsung mengetik nama kota, jenis kuliner, atau rekomendasi tempat nongkrong di TikTok. Setelah itu, muncul berbagai video yang memperlihatkan suasana tempat, menu, harga, hingga komentar para pengunjung.

Kebiasaan semacam ini menjadikan pencarian di TikTok kian menarik untuk dicermati. TikTok bukan lagi sekadar tempat menonton video pendek. Para pengguna turut memanfaatkannya untuk mencari informasi, produk, tempat, tutorial, bahkan referensi sebelum mengambil keputusan.

TikTok mencatat miliaran pencarian setiap hari di platformnya. Angka pencarian itu naik lebih dari 40% dalam setahun. TikTok juga menyebut satu dari empat penggunanya mulai mencari informasi dalam 30 detik pertama setelah membuka aplikasi. Lalu, apakah kebiasaan ini berarti orang mulai meninggalkan Google? Belum tentu.

Pencarian TikTok Muncul karena Orang Ingin Melihat, Bukan Sekadar Membaca

Saat mencari “cafe enak di Jember”, seseorang bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda di Google dan TikTok. Google menampilkan peta, website, artikel, daftar tempat, ulasan, hingga informasi jam operasional. Sementara itu, TikTok menghadirkan video dari pengguna yang sedang mengunjungi cafe tersebut. Dari video itu, calon pengunjung bisa melihat suasana tempat sebelum memutuskan untuk datang.

Dalam waktu singkat, pengguna bisa melihat interior, makanan, suasana, harga, sampai pengalaman pengunjung. Di sinilah pencarian di TikTok terasa berbeda. Pengguna tidak selalu mengetik pertanyaan yang sangat spesifik. Sering kali, mereka hanya ingin melihat gambaran tempat atau produk sebelum menentukan pilihan. Video membuat proses tersebut terasa lebih jelas karena pengguna bisa langsung melihat konteksnya.

Misalnya, seorang mahasiswa sedang mencari sepatu untuk kuliah. Ia cukup mengetik “sepatu kuliah nyaman” di TikTok. Setelah itu, ia bisa melihat video tentang pengalaman pengguna, perbandingan produk, rekomendasi ukuran, serta tampilan sepatu saat seseorang mengenakannya.

Menariknya, proses mencari informasi di TikTok juga bisa membawa pengguna ke hal-hal yang sebelumnya tidak mereka cari. Awalnya, seseorang mungkin hanya ingin mencari rekomendasi tas. Setelah menonton beberapa video, ia malah menemukan merek lokal yang belum pernah ia kenal. Jadi, pengguna tidak selalu memulai pencarian dengan kebutuhan yang sudah jelas. Kadang, sebuah video justru memunculkan rasa penasaran dan membuat mereka ingin mencari tahu lebih banyak.

Orang Masih Mencari di Google, tetapi Cara Mereka Berubah

Semakin banyaknya orang memakai TikTok untuk mencari informasi tidak serta-merta membuat Google kehilangan perannya. Data Google pada 2025 memperlihatkan bahwa Gen Z di Asia Tenggara masih aktif memakai Search. Google pun menyebut Gen Z sebagai pengguna Search yang aktif dalam mencari informasi, mengeksplorasi pilihan, dan mencari produk.

Di Indonesia, Think with Google mengutip riset Google/Kantar tentang kebiasaan Gen Z. Riset tersebut menunjukkan bahwa 95% responden Gen Z mengaku informasi dari YouTube membuat mereka lebih yakin sebelum membeli sesuatu.

Ini berarti perilaku pencarian pengguna tidak berpindah dari satu platform ke platform lain secara sederhana. Seseorang dapat melihat rekomendasi produk di TikTok, lalu mencari nama produk tersebut di Google. Setelah itu, ia membuka marketplace untuk melihat harga dan membaca ulasan. Bahkan, setelah menemukan produk tersebut, pengguna bisa kembali ke TikTok untuk mencari pengalaman orang lain. Jadi, perjalanan pencarian kini bisa berpindah-pindah antarplatform.

Pencarian TikTok dan Google Menjawab Kebutuhan yang Berbeda

Google dan TikTok punya cara berbeda saat membantu orang mencari informasi. Google cocok untuk pengguna yang sudah tahu apa yang mereka butuhkan. Sementara itu, TikTok lebih cocok bagi orang yang ingin menemukan ide atau rekomendasi lewat video, pengalaman pengguna lain, dan tren.

Cermati perbedaan berikut ini.

AspekGoogleTiktok
Tujuan pencarianMenemukan informasi, jawaban, layanan, atau halaman tertentuMenemukan ide, pengalaman, rekomendasi, tren, dan konten visual
Format informasiWebsite, artikel, peta, gambar, video, forumVideo pendek, komentar, profil, dan konten kreator
Jenis pencarianCenderung lebih spesifik dan informasionalCenderung eksploratif dan berbasis penemuan
Contoh pencarian“harga laptop mahasiswa”, “cafe terdekat”, “cara membuat NPWP”“cafe hidden gem Jember”, “laptop mahasiswa”, “tutorial makeup kuliah”
Peluang bagi bisnisSEO, website, Google Maps, landing page, artikelKonten video, kata kunci, kreator, komentar, dan tren

Perbedaan ini penting bagi pemilik usaha. UMKM yang hanya mengandalkan SEO website memang dapat menjangkau calon pelanggan melalui Google. Namun, calon pelanggan juga bisa mengenal bisnis tersebut lebih dulu lewat video TikTok.

Sebaliknya, bisnis yang hanya mengandalkan konten TikTok tetap membutuhkan sumber lain ketika calon pelanggan ingin mencari informasi yang lebih lengkap. Karena itu, TikTok dan website bisa saling melengkapi dalam perjalanan pelanggan.

Pencarian TikTok Saat Orang Mencari “Bukti” Sebelum Membeli

Menariknya, pengguna kini tidak hanya ingin membaca informasi tentang sebuah produk. Misalnya, saat mencari skincare, seseorang bisa melihat tekstur produk, cara pemakaian, hasil penggunaan, hingga pendapat pengguna lain sebelum menentukan pilihan.

Hal serupa juga terjadi saat orang mencari tempat makan. Foto menu memang berguna, namun video yang menampilkan keadaan restoran, porsi makanan, suasana ruangan, dan harga bisa memberi gambaran yang lebih nyata.

Hal ini membuat pencarian TikTok menarik bagi bisnis yang menjual produk atau pengalaman yang cocok dengan format video. Bisnis kuliner, fesyen, kecantikan, perjalanan, tempat nongkrong, perlengkapan olahraga, hingga produk rumah tangga dapat menggunakan video untuk menarik perhatian calon pelanggan.

Namun, video tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk mencari semua informasi. Saat pengguna ingin mengetahui alamat lengkap, jam operasional, daftar layanan, spesifikasi produk, atau informasi resmi perusahaan, mereka tetap membutuhkan website dan mesin pencarian.

Dampaknya bagi UMKM: Jangan Hanya Menunggu Orang Menemukan Website

Bayangkan sebuah UMKM punya website yang tertata rapi, namun calon pelanggan tak pernah menjumpainya. Sebaliknya, ada usaha kecil yang belum memiliki website dengan desain rumit, tetapi videonya kerap muncul saat orang mencari rekomendasi produk tertentu.

Pelajari juga: Zaman Sekarang, Bisnis yang Tidak Terlihat di Internet Seolah Tidak Ada cari tahu mengapa bisnis perlu hadir di berbagai tempat yang sering calon pelanggan gunakan untuk mencari informasi.

Situasi ini menunjukkan bahwa bisnis perlu memikirkan bagaimana calon pelanggan menemukan mereka, bukan hanya bagaimana mereka melakukan pembelian. TikTok menyebut pencarian di platformnya mencapai miliaran setiap hari. TikTok juga menyediakan iklan di hasil pencarian yang membantu bisnis menjangkau pengguna berdasarkan kueri yang relevan.

Untuk UMKM, situasi ini membuka peluang baru. Bisnis tak perlu langsung membuat video dengan produksi yang rumit. Konten sederhana justru bisa terasa lebih dekat asalkan menyampaikan informasi yang jelas.

Sebagai contoh:

  • Kenali harga menu cafe kami, mulai dari Rp20 ribuan.
  • Coba 3 menu yang cocok untuk makan siang.
  • Ikuti rute menuju toko dari alun-alun.
  • Kenali perbedaan produk A dan produk B.
  • Lihat produk yang paling sering pelanggan pilih.
  • Cari tahu hal penting sebelum membeli produk ini.

Konten semacam itu tidak sekadar mengejar jumlah tayangan. Konten juga membantu menjawab pertanyaan yang mungkin timbul sebelum transaksi.

Apa yang Bisa Bisnis Lakukan agar Calon Pelanggan Mudah Menemukannya?

Pergeseran dalam perilaku pencarian bukanlah alasan bagi bisnis untuk menyusun strategi yang sepenuhnya baru dari awal. Sebaliknya, bisnis bisa mengaitkan strategi yang telah mereka miliki.

Optimalkan SEO Website

Situs web tetap penting untuk memberikan informasi yang lebih lengkap kepada calon pelanggan. Gunakan kata kunci sesuai kebutuhan mereka. Buat halaman produk yang jelas, tulis artikel yang informatif, cantumkan kontak dan alamat, lalu jawab pertanyaan yang sering muncul sebelum pelanggan membeli.

Apabila seseorang menemukan bisnis lewat TikTok, situs web bisa menjadi tempat untuk melakukan pengecekan lebih lanjut.

Buat Konten untuk Mendukung Pencarian TikTok

Hindari sekadar membuat video dengan pesan “produk kami bagus”. Cobalah ganti pendekatannya dengan konten yang dapat menjawab kebutuhan.

Sebagai contoh:

“Sedang cari cafe untuk nugas di Jember? Berikut tiga hal yang perlu kamu perhatikan.”

atau:

“Ingin beli laptop untuk kuliah? Jangan cuma melihat kapasitas RAM.”

Konten semacam ini punya konteks pencarian yang lebih jelas.

Masukkan Kata Kunci Secara Natural

Kata kunci tidak hanya penting untuk artikel di website. Pelaku bisnis juga bisa menggunakan istilah yang sering audiens gunakan saat mencari informasi, baik pada judul video, teks di dalam video, deskripsi, maupun isi pembicaraan.

Sebagai contoh, sebuah kedai kopi di Lumajang tidak sekadar menulis “Menu Baru”. Bisnis bisa memakai konteks yang lebih jelas, misalnya “Rekomendasi kopi susu di Yogyakarta”, asalkan memang sesuai dengan isi videonya. Yang terpenting bukanlah memasukkan kata kunci sebanyak mungkin. Pastikan kata tersebut benar-benar mewakili isi konten.

Pelajari juga: Hashtag Makin Sedikit, Tapi Kok Konten Tetap Muncul? Cari tahu bagaimana bisnis dapat membantu audiens menemukan konten melalui kata kunci dan strategi yang tepat.

Jangan Lupakan Lokasi

Untuk usaha lokal, informasi lokasi punya peran penting. Saat seseorang mencari “laundry dekat kampus”, “cafe dekat alun-alun”, atau “tempat makan di Yogyakarta”, mereka tentu ingin segera mengetahui lokasi dan informasi penting lainnya.

Karena itu, cantumkan nama kota atau lokasi jika memang relevan. Pastikan informasi di TikTok, website, Google Business Profile, dan platform lain tetap konsisten agar calon pelanggan tidak menerima informasi yang berbeda.

Jangan Memisahkan TikTok dari Website

Ada pandangan bahwa website menjadi kurang penting apabila konten TikTok sudah berhasil menarik perhatian. Padahal, keduanya bisa memiliki fungsi yang berbeda. TikTok bisa berperan sebagai pintu masuk. Website dapat menjadi tempat bagi calon pelanggan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap. Sebagai contoh, seseorang menemukan sebuah jasa desain lewat video TikTok. Ia merasa tertarik, namun tetap ingin melihat portofolio, layanan, harga, dan cara menghubungi bisnis tersebut.

Pada titik itu, website dapat memberikan informasi yang lebih terstruktur. Di sisi lain, website juga bisa mengarahkan pengunjung ke akun TikTok untuk melihat contoh konten atau aktivitas terbaru bisnis. Ketika keduanya saling terhubung, bisnis punya lebih banyak kesempatan untuk menemani calon pelanggan dari tahap mencari informasi hingga mengenal bisnis lebih jauh.

Pelajari juga: Kenapa Website Bisnis Gagal Mempertahankan Pengunjung? Cari tahu cara membuat website tetap menarik setelah calon pelanggan datang dari Google atau media sosial.

Pencarian TikTok Sekarang Lebih Mirip Perjalanan daripada Satu Klik

Dahulu, kita kerap membayangkan proses pencarian seperti ini:

Google → kunjungi situs web → memperoleh informasi.

Kini, alur perjalanan itu bisa berubah menjadi:

TikTok → tonton video → cari nama produk → buka Google → periksa situs web → baca ulasan → balik ke media sosial → beli.

Tidak semua orang melewati urutan yang serupa. Sebagian memulainya dari Google. Sebagian lagi menemukan produk lewat TikTok. Ada juga yang menerima rekomendasi dari teman, lalu memakai Google untuk menelusuri informasi lebih jauh.

Oleh sebab itu, strategi digital marketing harus meninjau perilaku pengguna secara lebih menyeluruh. Data Digital 2025 dari DataReportal mencatat 212 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2025, dengan penetrasi internet mencapai 74,6% dari populasi.

Data dari perangkat periklanan TikTok juga mencatat jangkauan iklan hingga 108 juta pengguna dewasa di Indonesia pada periode tersebut. Angka ini tidak sama dengan jumlah pengguna aktif bulanan. Namun, jangkauan tersebut tetap menunjukkan peluang yang cukup besar bagi bisnis untuk bertemu calon pelanggan melalui TikTok. Karena itu, bisnis di Indonesia perlu memahami berbagai titik temu dengan calon pelanggan.

Bukan Soal Google atau TikTok, tetapi Di Mana Pelanggan Mencari

Pertanyaan “Google atau TikTok?” sebenarnya tidak sepenuhnya tepat.

Pertanyaan yang lebih bermanfaat bagi pemilik bisnis adalah:

“Saat calon pelanggan membutuhkan produk saya, di mana mereka kemungkinan akan mencarinya?”

Jika jawabannya Google, perkuat SEO dan website. Jika audiens juga aktif mencari rekomendasi di TikTok, buat konten yang membantu mereka mengenal bisnis Anda.

Apabila bisnis bergantung pada pelanggan lokal, pastikan informasi lokasi dan jam operasional tetap konsisten. Jika produk memerlukan banyak pertimbangan, sediakan informasi yang lebih lengkap di website. Dengan begitu, bisnis tidak harus memilih satu platform lalu mengabaikan yang lain.

Pencarian TikTok, Lalu Apa Kabar Google?

Google tetap menempati posisi penting dalam perjalanan pencarian. Bahkan, data Google pada 2025 memperlihatkan bahwa Gen Z masih memakai Search untuk mencari informasi, menjajaki pilihan, dan berbelanja.

Akan tetapi, cara orang menemukan informasi memang kian bervariasi. TikTok menawarkan pengalaman pencarian yang memadukan video, rekomendasi, komunitas, dan tren. Google menyediakan ekosistem pencarian yang lebih luas melalui website, peta, video, gambar, serta beragam sumber informasi.

Maka, hadirnya pencarian TikTok tidak lantas membuat Google berakhir. Perubahannya justru ada pada perilaku pengguna yang kini bisa berpindah platform sesuai kebutuhan.

Bagi bisnis, hadir secara “online” saja belum cukup. Pemilik bisnis juga perlu bertanya, apakah calon pelanggan bisa menemukan bisnis mereka ketika sedang mencari informasi?

Ingin menjangkau calon pelanggan yang mencari produk atau layanan Anda di Google dan TikTok? Kunjungi Isee Digital Marketing dan cari tahu strategi digital marketing yang sesuai dengan bisnis Anda.

Punya pertanyaan tentang strategi digital marketing? Hubungi WhatsApp Isee Digital Marketing di wa.me/6289508029834.

Kesimpulan

Perubahan dalam cara orang mencari informasi membuat internet tak lagi terasa seperti satu pintu yang hanya mengarah ke Google. Pengguna bisa memperoleh rekomendasi lewat video, memeriksa informasi melalui mesin pencarian, membaca ulasan, kemudian kembali ke media sosial sebelum menentukan pilihan.

Pencarian di TikTok menunjukkan bahwa konten juga bisa menjadi titik awal orang mencari informasi. Namun, hal ini tidak berarti Google kehilangan perannya. Bagi UMKM dan pemilik bisnis, memilih satu platform saja bukan satu-satunya pilihan. Pelaku bisnis perlu memahami kebiasaan pengguna dan hadir di tempat calon pelanggan mencari informasi.

TikTok membantu bisnis menjangkau calon pelanggan lewat konten visual dan pengalaman komunitas. Di sisi lain, website memberikan informasi yang lebih lengkap. Google membantu pengguna mencari berbagai sumber, lokasi, layanan, dan informasi saat mereka membutuhkan jawaban yang lebih spesifik.

Pada akhirnya, yang berubah bukan hanya platform pencariannya. Cara orang menemukan, membandingkan, dan memercayai sebuah bisnis turut berubah.

Dipercaya oleh Partner Global

Google Partner
Meta Business
TikTok Shop