Pernah menemukan produk menarik di TikTok, tetapi belum langsung checkout? Pola belanja Gen Z tidak berhenti setelah mereka melihat produk di media sosial. Mereka biasanya mencari review di Google, membandingkan harga, lalu membaca komentar pembeli sebelum mengambil keputusan. Kebiasaan ini semakin umum di kalangan Gen Z. Mereka tidak sekadar melihat produk, tetapi mencari informasi yang cukup sebelum benar-benar membeli.
Di 2026, perjalanan pelanggan Gen Z bisa terasa seperti penyelidikan kecil. Mereka mungkin menemukan produk lewat video pendek, lalu mencari informasinya di Google, membandingkan harga di marketplace, serta membaca komentar dan review. Setelah mengumpulkan informasi tersebut, mereka menentukan apakah produk itu memang layak masuk ke keranjang.
UMKM dan merek perlu memahami kebiasaan konsumen muda agar bisa menarik perhatian mereka. Produk berkualitas memang penting, tetapi Gen Z tidak selalu langsung checkout. Mereka biasanya mencari informasi, membandingkan beberapa pilihan, mengecek reputasi merek, lalu membaca pengalaman pembeli lain sebelum memilih produk yang sesuai.
Seperti Apa Pola Belanja Gen Z di 2026?
Gen Z biasanya melewati beberapa langkah sebelum memutuskan untuk membeli sebuah produk.
Scroll → Tertarik → Cari informasi → Bandingkan → Cek review → Pertimbangkan harga → Baru beli.
Setiap tahap bisa berlangsung di platform yang berbeda. Misalnya, seseorang melihat produk di TikTok atau Instagram, merasa penasaran, lalu mencari nama produk tersebut di Google. Setelah itu, ia membuka marketplace untuk membandingkan harga dan variasi produk, kemudian kembali ke media sosial untuk melihat cara brand berinteraksi dengan pelanggan.
Artinya, Gen Z tidak selalu menyelesaikan transaksi di satu platform. Kondisi ini membuat bisnis harus mengikuti perjalanan konsumen di berbagai kanal digital. Konten yang menarik memang penting, tetapi bisnis juga perlu membangun kehadiran digital yang konsisten agar calon pelanggan tetap menemukan informasi yang mereka butuhkan.
Pelajari juga: Media Sosial 2026: Kenapa Bisnis yang Cuma Rajin Posting Makin Susah Ditemukan? Cari tahu cara bisnis memperkuat kehadiran di media sosial dan menarik perhatian calon pelanggan.
1. Pola Belanja Gen Z: Scroll Dulu, Beli Belakangan
Gen Z hidup dalam lingkungan digital yang penuh konten. Produk baru dapat muncul di tengah-tengah konten kreator, livestream, video hiburan, dan unggahan teman.
Gen Z tidak selalu langsung checkout setelah melihat sebuah produk. Konten yang menarik justru bisa membuat mereka penasaran dan ingin mencari tahu lebih banyak. Mereka kemudian mengecek informasi, membaca review, serta membandingkan produk sebelum memutuskan untuk membeli.
Karena itu, merek perlu memikirkan konten yang benar-benar mampu menarik perhatian calon pelanggan. Setelah melihat konten tersebut, calon pelanggan mungkin akan mencari tahu lebih jauh tentang produk atau merek Anda. Jika mereka tidak menemukan informasi yang jelas, mereka bisa saja beralih dan memilih bisnis lain.
2. Google Masih Penting Saat Konsumen Mulai Serius
Media sosial memang ampuh untuk membuat orang menemukan produk baru, tetapi Gen Z tetap mencari informasi sebelum membeli. Misalnya, seseorang melihat produk perawatan kulit yang sedang ramai di TikTok. Karena penasaran, ia kemudian membuka Google untuk mencari:
- “apakah produk X bagus?”
- “produk X cocok untuk kulit apa?”
- “produk X asli atau tidak?”
- “produk X review”
- “produk X harga”
- “produk X vs produk Y”
Pada titik ini, Google dapat berkontribusi pada keputusan pembelian. Akibatnya, gaya belanja Gen Z menunjukkan bahwa strategi digital marketing harus melebihi satu platform. Semua komponen, termasuk konten media sosial, SEO, marketplace, dan review, harus saling mendukung. Ketika merek mulai melakukan penelitian, mereka berisiko kehilangan prospek konsumen.
Pelajari juga: SEO 2026 Berubah? Ini Cara Gen Z Mencari Informasi di Era AI cari tahu bagaimana perubahan cara Gen Z mencari informasi memengaruhi strategi SEO dan pemasaran digital bisnis.
3. Pola Belanja Gen Z: Review Jadi “Teman” Sebelum Checkout
Sebelum membeli, Gen Z biasanya ingin tahu pengalaman orang lain dengan produk yang mereka incar. Review pelanggan memberi mereka gambaran yang lebih nyata daripada sekadar melihat iklan. Mereka bisa mengecek apakah ukuran produk sesuai, kualitasnya benar-benar bagus, penjual merespons dengan cepat, dan produk tersebut memenuhi ekspektasi.
Review bahkan bisa membuat pelanggan mengubah keputusan. Ketika calon pembeli menemukan banyak keluhan di kolom ulasan, mereka bisa langsung meragukan produk yang sebelumnya menarik perhatian lewat iklan. Sebaliknya, review positif dari pelanggan dapat membuat calon pembeli semakin yakin terhadap sebuah produk, meskipun brand tersebut masih membangun popularitasnya. Karena itu, bisnis sebaiknya melihat review sebagai bagian penting dari reputasi brand, bukan sekadar fitur marketplace. Setiap ulasan ikut membentuk cara calon pelanggan menilai sebuah bisnis.
4. Harga Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Pertimbangan
Konsumen Gen Z masih memperhatikan harga, tetapi harga murah tidak selalu membuat produk menang. Selain itu, mereka dapat mempertimbangkan kualitas, review, reputasi merek, keuntungan produk, promosi, biaya pengiriman, kemudahan transaksi, dan pengalaman setelah pembelian.
Sebuah penelitian tentang perilaku belanja online di Indonesia menunjukkan bahwa pelanggan semakin berhati-hati dalam cara mereka membelanjakan uang mereka. Konsumen mulai menggunakan media sosial lebih banyak pada paruh kedua tahun 2025 untuk mencari informasi dan memeriksa produk sebelum membeli.
Artinya, merek perlu menjelaskan nilai yang mereka tawarkan, bukan sekadar memasang harga murah. Daripada terus mengklaim produknya sebagai yang “paling murah”, bisnis sebaiknya menunjukkan alasan yang membuat konsumen memilih produk tersebut.
Misalnya, ketika calon pelanggan bertanya, “Kenapa harganya berbeda dengan produk lain?” Bisnis bisa menjelaskan perbedaannya lewat kualitas bahan, layanan, garansi, daya tahan, kemasan, atau layanan setelah pembelian. Sertakan bukti yang jelas agar calon pelanggan bisa melihat sendiri keunggulan produk tersebut.
5. Live Shopping Bukan Sekadar Hiburan
Live shopping adalah bagian menarik dari perjalanan belanja digital karena memungkinkan pelanggan berinteraksi dengan penjual dan melihat produk secara langsung. Mereka dapat bertanya, melihat demonstrasi, meminta perbandingan, atau mendapatkan penjelasan tentang produk.
Pengalaman seperti ini dapat menurunkan keraguan Gen Z. Meskipun demikian, melakukan pembelian secara langsung tidak hanya bergantung pada mempromosikan diskon selama satu jam; merek harus mengadakan presentasi yang menarik dan informatif secara langsung.
Sebagai contoh:
- Demonstrasikan cara menggunakan produk.
- Jawab pertanyaan yang paling sering muncul.
- Bandingkan produk secara objektif.
- Tampilkan detail yang sulit terlihat dari foto.
- Jelaskan siapa yang cocok menggunakan produk.
- Berikan informasi promo dengan jelas.
Dengan demikian, pembeliannya secara langsung merupakan bagian dari pendidikan dan bisnis.
6. Affiliate Membuat Rekomendasi Terasa Lebih Personal
Dalam perjalanan konsumen di dunia digital, affiliate marketing juga ikut memengaruhi keputusan pembelian. Konsumen tidak hanya memperhatikan siapa yang merekomendasikan sebuah produk. Mereka juga ingin melihat cara orang tersebut menggunakan produk, mengetahui kelebihan dan kekurangannya, lalu menilai apakah produk itu benar-benar cocok dengan kebutuhan mereka.
Namun, saran yang terlalu mirip dengan iklan justru dapat menurunkan kepercayaan. Oleh karena itu, merek harus memilih kreator berdasarkan relevansi audiens daripada jumlah pengikut.
Kreator yang memahami audiensnya dapat menyampaikan promosi secara lebih natural. Misalnya, kreator olahraga dapat menjelaskan manfaat sepatu atau perlengkapan olahraga berdasarkan pengalaman mereka. Cara ini terasa lebih meyakinkan daripada promosi dari akun besar yang jarang membahas olahraga.
Pelajari juga: Promosi Bisnis Menggunakan Influencer: Wajib atau Sekadar Gaya? Cari tahu bagaimana influencer dapat membantu bisnis menjangkau audiens yang sesuai dan membangun kepercayaan calon pelanggan.
7. Social Proof Bisa Menentukan Keputusan
Bayangkan Anda menemukan dua produk dengan harga dan kualitas yang hampir sama. Produk pertama memiliki foto yang menarik, tetapi pemiliknya jarang berinteraksi dengan pelanggan dan hanya memberikan sedikit informasi. Sementara itu, produk kedua aktif membangun interaksi, menampilkan pengalaman pelanggan, dan memberikan informasi yang lengkap.
Produk mana yang akan lebih Anda percaya? Kemungkinan besar, produk yang memberikan lebih banyak bukti tentang pengalaman pelanggan akan terasa lebih meyakinkan. Inilah salah satu alasan social proof penting dalam membangun kepercayaan terhadap sebuah brand.
Bagi Gen Z, social proof bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti:
- Review pelanggan.
- Komentar.
- User-generated content.
- Video penggunaan produk.
- Testimoni.
- Konten kreator.
- Jumlah pembelian.
- Respons brand terhadap keluhan.
Rasa percaya akan meningkat seiring dengan harga atau risiko pembelian.
8. Pola Belanja Gen Z Membuat Brand Harus Hadir di Banyak Titik
Dengan mengikuti perubahan dalam perilaku konsumen, strategi digital marketing menjadi semakin terintegrasi. Berikut gambaran sederhananya:
| Tahap Konsumen | Kebiasaan Gen Z | Yang Perlu Disiapkan Brand |
|---|---|---|
| Discovery | Melihat konten di media sosial | Konten menarik dan relevan |
| Curiosity | Mencari nama produk/brand | SEO dan informasi yang mudah ditemukan |
| Evaluation | Membandingkan produk | Konten edukasi dan perbandingan |
| Validation | Membaca review dan komentar | Testimoni dan social proof |
| Purchase | Mengecek harga dan promo | Marketplace dan checkout sederhana |
| Post-purchase | Membagikan pengalaman | Customer service dan UGC |
Menurut tabel, satu konten saja tidak cukup untuk menarik pelanggan sampai transaksi.
Orang dapat tertarik oleh konten. SEO membantu mereka menemukan apa yang mereka butuhkan. Kepercayaan meningkat sebagai hasil dari review. Sementara layanan pelanggan membantu mempertahankan hubungan setelah pembelian, pasar memudahkan transaksi.
9. Apa Arti Pola Belanja Gen Z bagi UMKM?
Bagi UMKM, perubahan ini juga membuka peluang baru. Brand kecil tidak harus punya jumlah pengikut sebesar perusahaan besar untuk menarik perhatian konsumen. Mereka bisa memenangkan perhatian audiens dengan menyajikan informasi yang relevan, menjawab kebutuhan pelanggan, dan membahas masalah yang benar-benar mereka hadapi.
Misalnya, usaha makanan lokal tidak harus terus membuat konten yang hanya mengajak orang membeli. Mereka bisa membahas proses produksi, memilih bahan, menyimpan produk, menceritakan kisah di balik pembuatannya, hingga membagikan ulasan pelanggan. Konten seperti ini membantu calon pembeli memahami produk sekaligus menemukan jawaban atas hal-hal yang ingin mereka ketahui sebelum membeli.
Selain itu, UMKM juga harus memperhatikan pencarian lokal. Ketika orang mencari tempat makan, jasa kecantikan, toko pakaian, fotografer, atau layanan lainnya, adanya bisnis di mesin pencari bisa jadi hal yang penting.
Jadi, jangan hanya bertanya “Bagaimana agar konten saya viral?” Ketika orang tertarik pada produk saya, apakah mereka bisa mendapatkan informasi yang membuat mereka percaya? Pertanyaan kedua lebih dekat ke tujuan bisnis.
10. Jangan Membuat Konsumen Bekerja Terlalu Keras
Salah satu kesalahan yang masih terjadi adalah ketika calon pembeli harus mencari informasi sendiri.
- Calon pembeli tidak bisa menemukan informasi harga dengan mudah.
- Calon pembeli kesulitan menemukan lokasi bisnis.
- Deskripsi produk terlalu pendek.
- Tidak ada FAQ
- Review sedikit.
- Link pembelian tidak jelas.
- Akun media sosial aktif, tetapi website kosong.
Dalam situasi seperti ini, konsumen perlu mencari informasi dari berbagai sumber sebelum akhirnya mempercayai sebuah merek.
Padahal, kompetitor hanya berjarak beberapa klik. Oleh karena itu, bisnis harus membuat perjalanan belanja konsumen semudah mungkin. Pastikan informasi penting tersedia dan tetap konsisten di berbagai saluran.
11. Strategi Digital Marketing untuk Mengikuti Pola Belanja Gen Z
Perubahan cara belanja Gen Z menunjukkan bahwa strategi pemasaran tidak lagi cukup jika hanya mencari jumlah orang yang terjangkau. Reach memang penting untuk memperkenalkan brand. Namun, bisnis juga perlu memperhatikan apa yang terjadi setelah seseorang melihat konten tersebut.
Untuk menjalankan strategi ini, bisnis bisa fokus pada beberapa tahapan berikut:
Untuk tahap awareness
Buat video singkat yang menarik perhatian, bagikan informasi yang bermanfaat, ceritakan hal yang relevan, lalu bahas masalah yang sering muncul dalam keseharian audiens Anda.
Untuk tahap consideration
Perkuat SEO, artikel, halaman produk, FAQ, perbandingan, dan konten edukatif.
Untuk tahap trust
Tampilkan ulasan, testimoni, konten dari pengguna, kasus studi, serta jawaban atas pertanyaan dari pelanggan.
Untuk tahap conversion
Tampilkan harga, promo, cara pembayaran, tautan pembelian, dan informasi produk secara jelas agar calon pelanggan bisa menemukannya tanpa kesulitan.
Untuk tahap retention
Jaga layanan pelanggan, lakukan pengejaran (follow-up), kelola program loyalitas, serta komunikasikan setelah pembelian. Dengan pendekatan ini, digital marketing tidak hanya fokus pada memperhatikan konsumen, tetapi juga mengikuti mereka hingga mereka menjadi pelanggan.
12. Jadi, Mengapa Gen Z Tidak Langsung Membeli?
Sebenarnya bukan begitu. Gen Z bukan tidak mau membeli. Mereka hanya punya lebih banyak metode untuk memastikan keputusan mereka sebelum membeli.
Sekarang, konsumen bisa mencari informasi dengan cepat dan membandingkan berbagai pilihan produk. Karena itu, mereka cenderung memilih merek yang jujur, mudah mereka ingat, punya reputasi baik, dan mampu menjelaskan manfaat produknya dengan jelas.
Jadi, kalau sebuah bisnis merasa sudah rajin membuat konten tetapi penjualannya belum meningkat secara signifikan, mungkin masalahnya bukan karena kurang posting. Bisa jadi, perjalanan setelah posting itu belum terbangun.
Bagaimana Bisnis Mengikuti Pola Belanja Gen Z?
Mulailah dengan memetakan perjalanan konsumen. Tanyakan:
1. Di mana calon pelanggan pertama kali menemukan merek?
2. Apa yang mereka cari setelah melihat konten?
3. Apakah brand muncul ketika mereka melakukan pencarian?
4. Apakah Konsumen Bisa Memahami Informasi Produk dengan Mudah?
5. Apakah tersedia review atau bukti pengalaman pelanggan?
6. Apakah proses pembelian sederhana?
7. Apa yang terjadi setelah transaksi?
Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa membantu Anda menemukan bagian strategi yang perlu Anda ubah. Jika Anda sedang membangun usaha kecil, tetapi strategi pemasaran digital Anda masih berjalan sendiri-sendiri, Anda bisa meminta bantuan untuk menyusun strategi dan mengatur langkah pemasaran dengan lebih terarah.
Kamu bisa mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan Isee Digital Marketing agar mendapatkan panduan yang lebih terarah dalam membangun strategi digital, mulai dari SEO, konten, hingga berbagai kebutuhan pemasaran digital lainnya.
Sudah siap mengikuti cara Gen Z mencari informasi sebelum membeli? Jika strategi digital bisnis Anda masih berjalan sendiri-sendiri, Isee Digital Marketing siap membantu Anda menyusun strategi yang lebih terarah. Kunjungi website Isee Digital Marketing untuk melihat layanannya.
Masih bingung menentukan strategi digital yang cocok untuk bisnis Anda? Hubungi WhatsApp Admin Isee Digital Marketing di wa.me/6289508029834. untuk berdiskusi langsung mengenai kebutuhan digital marketing bisnis Anda.
Kesimpulan
Pola belanja Gen Z pada 2026 menunjukkan bahwa proses pembelian tidak berhenti setelah konsumen melihat sebuah iklan. Mereka mencari informasi, membandingkan pilihan, membaca review, melihat pengalaman pelanggan lain, lalu mempertimbangkan apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.
Bagi UMKM dan brand, kebiasaan ini menuntut strategi digital yang lebih menyeluruh. Bisnis tidak cukup hanya membuat konten yang menarik perhatian. Mereka juga perlu menghadirkan informasi yang jelas, membangun kepercayaan melalui review dan pengalaman pelanggan, serta menjaga kehadiran mereka di berbagai kanal digital.
Pada akhirnya, bisnis perlu melihat perjalanan konsumen secara utuh. Ketika Gen Z menemukan sebuah brand, mencari informasinya, hingga akhirnya memutuskan membeli, setiap tahap memberi kesempatan bagi bisnis untuk membangun kepercayaan. Jadi, fokuslah bukan hanya pada seberapa sering konten muncul di feed, tetapi juga pada alasan yang membuat konsumen memilih dan mempercayai brand Anda.