Diskon 15%

Promo Berakhir Dalam:

23JAM
:
59MNT
:
59DTK
Klaim Sekarang →
📁 Digital Marketing

Cara Menggunakan AI untuk Strategi Marketing Bisnis agar Lebih Efektif

👤 Naila Ayu Pradea Angelia • 📅 September 5, 2026
menggunakan AI untuk strategi marketing

Menggunakan AI untuk strategi marketing bisnis semakin penting di tengah persaingan digital yang terus berkembang. Konsumen kini dapat menemukan produk melalui mesin pencari, media sosial, marketplace, hingga platform berbasis kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, bisnis perlu menghasilkan konten lebih cepat, memahami pelanggan dengan lebih baik, dan mengambil keputusan berdasarkan data.

menggunakan AI untuk strategi marketing
Dokumentasi kegiatan tim Isee Digital Marketing. (DOK. ISEE DIGITAL MARKETING)

Kondisi tersebut membuat cara menggunakan AI untuk strategi marketing bisnis menjadi pertanyaan penting bagi pemilik bisnis, terutama UMKM yang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya.

Namun, menggunakan AI dalam pemasaran tidak cukup hanya dengan meminta chatbot membuat caption atau artikel. Oleh karena itu, bisnis dapat memanfaatkan AI untuk memahami pelanggan, mengolah data, menyusun strategi, melakukan personalisasi, mengoptimalkan konten, dan mengevaluasi kinerja kampanye sehingga menghasilkan manfaat yang jauh lebih bernilai.

Namun demikian, perkembangan ini bukan sekadar tren. McKinsey melaporkan bahwa 71% organisasi yang disurvei pada 2025 telah menggunakan generative AI secara rutin setidaknya pada satu fungsi bisnis. Selain itu, marketing dan sales menjadi salah satu fungsi yang paling banyak menggunakannya.

Lantas, bagaimana bisnis dapat memanfaatkan AI tanpa kehilangan sisi manusia dalam pemasaran? Artikel ini membahas cara menggunakan AI untuk strategi marketing bisnis secara praktis, mulai dari menentukan tujuan, memahami pelanggan, membuat konten, melakukan personalisasi, sampai mengukur hasilnya.

Mengapa AI Mulai Penting dalam Strategi Marketing Bisnis?

Marketing tradisional sering menghadapi persoalan yang sama: data pelanggan semakin banyak, tetapi waktu untuk mengolahnya terbatas.

Sebuah bisnis dapat memiliki data dari website, media sosial, WhatsApp, marketplace, iklan digital, hingga transaksi penjualan. Di sisi lain, bisnis belum tentu dapat mengubah data tersebut menjadi insight yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

AI dapat membantu mempercepat proses tersebut. Dalam konteks pemasaran, AI dapat digunakan untuk:

  • menganalisis perilaku dan kebutuhan pelanggan;
  • menemukan pola dari data pemasaran;
  • membuat variasi konten;
  • melakukan segmentasi audiens;
  • membantu personalisasi pesan;
  • menghasilkan ide kampanye;
  • membantu optimasi iklan;
  • menganalisis performa konten;
  • membuat prediksi berdasarkan data;
  • membantu menjawab pertanyaan pelanggan.

Data Salesforce pada 2026 menunjukkan bahwa 75% marketer telah mengadopsi AI. Namun, 84% marketer masih mengakui bahwa mereka terkadang menjalankan kampanye yang bersifat generik. Artinya, memiliki AI belum otomatis membuat strategi pemasaran menjadi lebih baik.

Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar seberapa cepat AI menghasilkan konten, melainkan bagaimana bisnis memanfaatkan AI untuk memperkuat strategi marketing.

Baca juga: Manfaat AI untuk Pemasaran Bisnis: Cara Mempercepat Strategi, Menjangkau Pelanggan, dan Meningkatkan Efisiensi

Cara Menggunakan AI untuk Strategi Marketing Bisnis

Bisnis perlu menentukan masalah yang ingin mereka selesaikan sebelum menggunakan AI. Jangan bertanya, “AI apa yang harus digunakan?” Tanyakan, “Bagian marketing mana yang paling membutuhkan bantuan?” Setelah menemukan kebutuhan tersebut, bisnis dapat memilih aktivitas marketing yang tepat untuk menerapkan AI.

1. Gunakan AI untuk Memahami Target Konsumen

Strategi marketing yang efektif dimulai dari pemahaman terhadap konsumen. AI dapat membantu mengolah informasi dari berbagai sumber untuk menemukan pola, misalnya:

  • pertanyaan yang sering diajukan pelanggan;
  • masalah yang paling sering muncul;
  • alasan pelanggan membeli produk;
  • keberatan sebelum melakukan pembelian;
  • karakteristik pelanggan;
  • topik yang menarik perhatian audiens;
  • kebutuhan yang belum terpenuhi.

Sebagai contoh, sebuah bisnis jasa pembuatan website mendapatkan banyak pertanyaan melalui WhatsApp. Setelah mengelompokkan seluruh pertanyaan, bisnis menemukan bahwa sebagian besar calon pelanggan belum memahami perbedaan antara website biasa, landing page, dan website toko online.

Selanjutnya, insight tersebut dapat menjadi dasar strategi konten. Daripada itu, bisnis dapat membuat artikel seperti “Perbedaan Website Company Profile dan Toko Online” atau video yang menjelaskan kapan sebuah bisnis membutuhkan landing page. Dengan demikian, AI membantu mengubah percakapan pelanggan menjadi bahan strategi marketing.

Baca juga: Perubahan Perilaku Konsumen Mendorong UMKM Beralih ke Digital Marketing

2. Gunakan AI untuk Membuat Segmentasi Audiens

Tidak semua pelanggan memiliki kebutuhan yang sama. Misalnya, bisnis skincare memiliki pelanggan:

  • remaja yang baru mulai menggunakan skincare;
  • mahasiswa dengan anggaran terbatas;
  • pekerja yang mencari produk praktis;
  • pelanggan lama yang membutuhkan produk lanjutan.

Jika semua kelompok menerima pesan marketing yang sama, komunikasi menjadi kurang relevan.

Selanjutnya, bisnis dapat menggunakan AI untuk mengelompokkan pelanggan berdasarkan karakteristik dan perilaku mereka, seperti riwayat pembelian, kategori produk yang diminati, interaksi dengan konten, atau tahap perjalanan pelanggan. Setelah itu, bisnis dapat menggunakan hasil segmentasi tersebut untuk membuat pesan yang berbeda. Contohnya:

Audiens baru:
“Kenali produk yang cocok untuk kebutuhan dasar kulit sebelum mulai menggunakan rangkaian skincare.”

Pelanggan lama:
“Sudah menggunakan produk sebelumnya? Temukan pilihan berikutnya untuk melengkapi rutinitas Anda.”

Perbedaan sederhana tersebut dapat membuat komunikasi terasa lebih relevan.

3. Gunakan AI untuk Riset Ide Konten

Selain itu, salah satu pekerjaan yang cukup menguras waktu dalam digital marketing adalah mencari ide konten secara konsisten. AI dapat digunakan untuk mengembangkan ide berdasarkan:

  • masalah konsumen;
  • pertanyaan pelanggan;
  • tren industri;
  • produk yang dijual;
  • tahap customer journey;
  • keyword pencarian;
  • konten yang sudah pernah dipublikasikan.

Namun, jangan langsung meminta AI membuat 30 konten tanpa memberikan konteks. Berikan informasi seperti:

“Saya memiliki bisnis jasa digital marketing untuk UMKM. Target pelanggan saya adalah pemilik bisnis yang sudah menggunakan Instagram tetapi belum mendapatkan banyak pelanggan. Buatkan ide konten berdasarkan masalah mereka pada tahap awareness, consideration, dan conversion.”

Instruksi seperti ini membantu tim memberikan konteks yang lebih jelas sehingga mereka dapat mengembangkan hasil AI menjadi strategi dengan lebih mudah.

4. Gunakan AI untuk Membantu Produksi Konten

AI dapat membantu mempercepat proses produksi berbagai format konten, seperti:

  • artikel blog;
  • caption media sosial;
  • email marketing;
  • script video;
  • headline iklan;
  • deskripsi produk;
  • FAQ;
  • ide carousel;
  • variasi CTA.

Namun, hasil AI sebaiknya tidak langsung dipublikasikan. Konten perlu diperiksa dan diperkaya dengan:

  1. pengalaman bisnis;
  2. data yang valid;
  3. contoh nyata;
  4. sudut pandang manusia;
  5. informasi produk yang benar;
  6. gaya komunikasi brand.

Selain itu, Google sendiri mendorong bisnis untuk menyediakan konten yang unik, bermanfaat, dan memenuhi kebutuhan pengguna dalam menghadapi perkembangan AI Search.

Jadi, persoalannya bukan apakah AI boleh digunakan untuk membuat konten. Pada akhirnya, yang lebih penting adalah apakah konten tersebut memberikan nilai yang tidak sekadar mengulang informasi yang sudah tersedia di internet.

Menggunakan AI untuk Strategi Marketing yang Lebih Personal

Selain itu, personalisasi menjadi salah satu area yang berpotensi besar untuk penggunaan AI. Sebagai contoh, bayangkan sebuah toko online yang memiliki ribuan pelanggan. Toko tersebut tentu tidak dapat memberikan rekomendasi produk secara manual kepada setiap pelanggan. Karena itu, AI dapat membantu bisnis menentukan rekomendasi produk berdasarkan perilaku pelanggan. Misalnya:

Pelanggan A sering melihat kategori sepatu olahraga.
→ Tampilkan konten tentang sepatu olahraga.

Sementara itu, Pelanggan B sering membeli produk perawatan rambut.
→ Tawarkan produk terkait perawatan rambut.

Bagi Pelanggan C sudah membeli produk tertentu.
→ Tawarkan produk pelengkap yang relevan.

Tujuannya bukan membombardir pelanggan dengan pesan otomatis, tetapi membuat komunikasi lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Data Salesforce 2026 menunjukkan bahwa 78% marketer membutuhkan lebih banyak konten yang dipersonalisasi daripada yang mampu mereka produksi. Temuan ini menunjukkan bahwa AI semakin relevan untuk membantu bisnis memenuhi kebutuhan konten dalam pemasaran.

Menggunakan AI untuk Strategi Marketing melalui Iklan Digital

AI juga dapat digunakan dalam proses periklanan. Pada tahap awal, marketer dapat memanfaatkannya untuk menghasilkan beberapa alternatif:

  • headline;
  • primary text;
  • CTA;
  • konsep visual;
  • segmentasi audiens;
  • variasi landing page;
  • ide penawaran.

Selanjutnya, performa aktual iklan tetap harus menjadi dasar keputusan. Misalnya, sebuah bisnis menjalankan lima variasi iklan:

VariasiCTRConversion RateHasil
A1,8%1,2%Rendah
B2,4%2,1%Baik
C3,1%2,8%Sangat baik
D2,0%1,7%Sedang
E3,4%1,1%Perlu evaluasi

Jika hanya melihat CTR, variasi E terlihat paling menarik. Namun, jika tujuan utama kampanye adalah mendapatkan penjualan, variasi C justru memberikan sinyal yang lebih baik karena conversion rate-nya lebih tinggi. Inilah mengapa AI sebaiknya digunakan bersama data bisnis, bukan hanya berdasarkan asumsi.

Menggunakan AI untuk Strategi Marketing dan Customer Service

Marketing tidak berhenti ketika seseorang mengklik iklan. Calon pelanggan mungkin masih memiliki pertanyaan sebelum membeli. Respons yang lambat dapat menyebabkan peluang penjualan hilang. AI dapat membantu bisnis membuat sistem respons awal untuk pertanyaan berulang, misalnya:

  • harga;
  • jam operasional;
  • layanan;
  • cara pemesanan;
  • estimasi proses;
  • informasi produk;
  • pertanyaan umum.

Namun, percakapan yang kompleks tetap sebaiknya diteruskan kepada manusia. Hal ini penting karena konsumen tidak hanya membutuhkan jawaban cepat. Mereka juga menginginkan interaksi yang relevan.

Dalam riset Salesforce 2026, 83% marketer mengatakan pelanggan semakin mengharapkan komunikasi dua arah dengan brand, sementara 69% marketer masih kesulitan merespons pelanggan dengan cepat.

Artinya, AI dapat menjadi lapisan pertama dalam komunikasi, sedangkan manusia menangani kebutuhan yang membutuhkan empati, negosiasi, dan keputusan.

Menggunakan AI untuk Strategi Marketing dan SEO

Penggunaan AI juga mengubah cara bisnis memandang SEO. Sebelumnya, fokus utama banyak bisnis adalah mendapatkan posisi tinggi di hasil pencarian dan mengejar traffic sebanyak mungkin. Kini, konsumen juga dapat memperoleh jawaban langsung melalui fitur pencarian berbasis AI.

Sejalan dengan itu, Google menyatakan bahwa prinsip dasar SEO tetap berlaku dalam pengalaman pencarian berbasis AI: bisnis perlu menyediakan konten original, bermanfaat, relevan, dan mudah diakses. Google juga menyarankan bisnis tidak hanya fokus pada jumlah klik, tetapi memahami kualitas dan nilai kunjungan yang dihasilkan.

Karena itu, strategi SEO berbasis AI sebaiknya tidak hanya mengejar keyword. Bisnis perlu menjawab pertanyaan yang benar-benar digunakan calon pelanggan. Contohnya, daripada hanya menargetkan keyword “digital marketing”, bisnis dapat membuat konten yang menjawab:

  • bagaimana cara memulai digital marketing untuk UMKM;
  • berapa biaya digital marketing;
  • bagaimana mengukur ROI digital marketing;
  • kapan bisnis membutuhkan jasa digital marketing;
  • mengapa iklan sudah berjalan tetapi belum menghasilkan penjualan.

Konten semacam ini lebih dekat dengan kebutuhan nyata pengguna.

Baca juga: Perubahan Strategi Digital Marketing di Era AI untuk Bisnis

Kunci Menggunakan AI untuk Strategi Marketing

Namun, tidak semua bisnis akan mendapatkan hasil yang sama dari AI. Ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan.

Kualitas Data

AI membutuhkan informasi yang relevan untuk menghasilkan insight yang berguna. Jika data pelanggan berantakan, tidak lengkap, atau tidak relevan, hasil analisis juga dapat menyesatkan.

Kejelasan Tujuan

AI bukan tujuan akhir. Tentukan terlebih dahulu apakah penggunaannya ditujukan untuk:

  • meningkatkan leads;
  • meningkatkan penjualan;
  • menurunkan biaya iklan;
  • meningkatkan engagement;
  • mempercepat produksi konten;
  • meningkatkan customer service.

Human Oversight

AI dapat menghasilkan informasi yang salah atau kurang sesuai konteks. Karena itu, manusia tetap perlu memeriksa fakta, tone komunikasi, klaim produk, dan keputusan strategis.

Integrasi dengan Workflow

Kesalahan umum adalah menggunakan AI hanya sebagai alat tambahan.

McKinsey pada 2026 menemukan bahwa banyak organisasi masih menggunakan pendekatan “bolt-on”, sementara hanya sebagian kecil yang benar-benar mengubah workflow dan cara kerja marketing secara fundamental.

Pada akhirnya, manfaat terbesar tidak selalu datang dari memiliki tool AI paling canggih. Dengan demikian, manfaat tersebut justru dapat muncul ketika bisnis menempatkan AI pada proses yang tepat.

Cara Mulai Menggunakan AI dalam Marketing

Bagi bisnis yang baru mulai, tidak perlu langsung mengotomatisasi seluruh aktivitas marketing. Gunakan pendekatan bertahap berikut.

Langkah 1: Tentukan Masalah

Pilih satu masalah marketing yang paling menghambat bisnis. Contohnya:

“Tim membutuhkan terlalu banyak waktu untuk membuat konten.”

Langkah 2: Pilih Proses yang Bisa Dibantu AI

Misalnya:

riset → ide → draft → editing → publikasi → evaluasi.

Tim dapat memanfaatkan AI untuk melakukan riset, mencari ide, membuat draft, dan mengevaluasi hasil, lalu tim mengambil keputusan akhir.

Langkah 3: Buat Standar Brand

Berikan AI informasi mengenai:

  • target audiens;
  • positioning;
  • gaya bahasa;
  • produk;
  • keunggulan;
  • masalah pelanggan;
  • kata-kata yang boleh dan tidak boleh digunakan.

Dengan begitu, output AI lebih konsisten.

Langkah 4: Uji dalam Skala Kecil

Jangan langsung menerapkan AI pada seluruh kampanye. Mulailah dari satu jenis konten atau satu campaign. Bandingkan performanya dengan metode sebelumnya.

Langkah 5: Ukur Dampaknya

Gunakan indikator seperti:

  • jumlah leads;
  • conversion rate;
  • cost per lead;
  • cost per acquisition;
  • revenue;
  • ROAS;
  • engagement;
  • waktu produksi;
  • response time.

Jika AI membuat produksi konten dua kali lebih cepat tetapi tidak meningkatkan kualitas maupun hasil bisnis, bisnis tetap perlu mengevaluasi strategi tersebut.

Kesalahan dalam Menggunakan AI untuk Marketing

Penggunaan AI dalam marketing juga memiliki jebakan.

Pertama, terlalu bergantung pada AI.
AI dapat membantu pekerjaan, tetapi tidak menggantikan pemahaman terhadap pelanggan.

Kedua, membuat konten massal tanpa diferensiasi.
Konten yang terlihat generik akan sulit membangun kepercayaan.

Ketiga, tidak memeriksa fakta.
Informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi.

Keempat, memasukkan data sensitif sembarangan.
Bisnis perlu memperhatikan keamanan dan privasi data pelanggan.

Kelima, hanya mengukur produktivitas.
Konten yang dapat dibuat lebih cepat belum tentu menghasilkan lebih banyak penjualan.

Strategi Lanjutan: Jadikan AI sebagai Partner Pengambilan Keputusan

Tahap berikutnya adalah mengubah peran AI dari sekadar “pembuat konten” menjadi alat bantu pengambilan keputusan. Misalnya, setiap bulan tim marketing dapat memasukkan data performa kampanye untuk dianalisis. AI kemudian dapat membantu menemukan:

  • kampanye dengan performa terbaik;
  • segmen pelanggan yang paling responsif;
  • konten dengan engagement tinggi;
  • pola penurunan conversion;
  • kemungkinan penyebab campaign tidak efektif;
  • eksperimen yang dapat dilakukan berikutnya.

Dengan pendekatan ini, siklus marketing berubah menjadi:

Data → Insight → Strategi → Eksekusi → Pengukuran → Optimasi

AI dapat membantu mempercepat setiap tahap, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan penilaian manusia.

Langkah Bisnis Menghadapi Era AI

Jika bisnis baru mengenal AI, tidak perlu langsung membeli banyak tools. Mulailah dengan tiga aktivitas sederhana:

  1. Gunakan AI untuk memahami pelanggan.
    Kumpulkan pertanyaan, keluhan, dan kebutuhan pelanggan untuk menemukan pola.
  2. Gunakan AI untuk mempercepat produksi marketing.
    Manfaatkan AI untuk riset, ide, draft, variasi konten, dan analisis.
  3. Gunakan data untuk mengevaluasi hasil.
    Jangan mengukur keberhasilan penggunaan AI dari banyaknya konten yang dihasilkan, tetapi ukur dampaknya terhadap pencapaian tujuan bisnis.

Pendekatan ini membuat penggunaan AI lebih terarah dan mengurangi risiko bisnis sekadar mengikuti tren teknologi.

Baca juga: AI untuk Digital Marketing UMKM Indonesia: Cara Memanfaatkannya agar Bisnis Lebih Efisien

Penutup: AI Bukan Pengganti Strategi Marketing

Pada akhirnya, bisnis tidak perlu menggunakan banyak tool AI untuk menjalankan strategi marketing secara efektif.

Pada akhirnya, hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut membantu bisnis memahami pelanggan, membuat keputusan berdasarkan data, menghasilkan komunikasi yang lebih relevan, dan meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan sentuhan manusia.

Data terbaru menunjukkan bahwa semakin banyak marketer menggunakan AI dalam aktivitas marketing. McKinsey menemukan marketing dan sales menjadi salah satu fungsi bisnis dengan penggunaan generative AI paling tinggi, sementara Salesforce mencatat mayoritas marketer telah mengadopsi AI.

Oleh karena itu, adopsi teknologi tidak otomatis menghasilkan strategi yang lebih baik. Oleh karena itu, bisnis tetap membutuhkan tujuan yang jelas, data berkualitas, proses yang terstruktur, pengawasan manusia, serta evaluasi berdasarkan hasil bisnis.

Pada akhirnya, bisnis yang menerapkan AI dengan tepat dapat menjadikan AI lebih dari sekadar alat untuk membuat konten lebih cepat. Dengan demikian, AI dapat menjadi bagian dari sistem marketing yang membantu bisnis memahami pasar, menemukan peluang, dan mengambil keputusan dengan lebih cepat.

Untuk mendapatkan insight dan strategi digital marketing yang lebih relevan bagi bisnis, kunjungi Isee Digital Marketing melalui

Isee Digital Marketing

Jika ingin berkonsultasi langsung mengenai kebutuhan digital marketing bisnis, Anda juga dapat menghubungi admin melalui

WhatsApp Isee Digital Marketing

Setelah memahami berbagai cara tersebut, jika ada pertanyaan, pengalaman, atau hal yang ingin didiskusikan seputar penggunaan AI untuk strategi marketing bisnis, jangan ragu untuk menyampaikannya. Tulis pertanyaan atau pendapat Anda di kolom komentar di bawah, ya!

Dipercaya oleh Partner Global

Google Partner
Meta Business
TikTok Shop