Diskon 15%

Promo Berakhir Dalam:

23JAM
:
59MNT
:
59DTK
Klaim Sekarang →
📁 Digital Marketing

Konsumen Makin Sering Mencari Produk Secara Online, Apa yang Harus Dilakukan Bisnis?

👤 Naila Ayu Pradea Angelia • 📅 September 3, 2026
konsumen mencari produk online

Konsumen mencari produk online sebelum memutuskan untuk membeli. Mereka tidak selalu langsung datang ke toko, tetapi bisa memulai perjalanan dengan mengetik kata kunci di Google, mencari rekomendasi di TikTok, melihat konten Instagram, membaca review pelanggan, membandingkan harga di marketplace, lalu menghubungi penjual melalui WhatsApp sebelum akhirnya melakukan pembelian.

Perubahan tersebut membuat pertanyaan “Konsumen Makin Sering Mencari Produk Secara Online, Apa yang Harus Dilakukan Bisnis?” semakin relevan bagi pemilik bisnis. Persoalannya bukan sekadar apakah bisnis sudah memiliki akun media sosial atau website, tetapi apakah bisnis mampu memastikan calon pelanggan menemukan produk atau jasa mereka ketika membutuhkannya.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa ruang digital semakin menjadi bagian dari perjalanan konsumen. Namun, konsumen tidak selalu menggunakan satu platform untuk mencari informasi. Mereka dapat berpindah dari mesin pencari ke media sosial, marketplace, hingga aplikasi percakapan.

Karena itu, artikel ini membahas mengapa perilaku tersebut semakin kuat, bagaimana konsumen mencari produk, serta strategi praktis yang dapat bisnis gunakan agar calon pelanggan lebih mudah menemukan, mempercayai, dan membeli produk tersebut.

Mengapa Konsumen Semakin Sering Mencari Produk Secara Online?

konsumen mencari produk online
Dokumentasi kegiatan tim Isee Digital Marketing. (DOK. ISEE DIGITAL MARKETING)

Perubahan perilaku konsumen kini semakin terlihat seiring dengan kemudahan akses internet. Proses mencari informasi tentang produk pun menjadi jauh lebih cepat dan praktis.

Sementara itu, dulu seseorang yang ingin membeli sebuah produk mungkin harus mengunjungi beberapa toko untuk membandingkan harga dan kualitas. Kini, proses tersebut dapat dilakukan hanya dengan smartphone. Dalam beberapa menit, konsumen bisa mengetahui harga dari berbagai penjual, membaca pengalaman pembeli lain, melihat demonstrasi produk, mencari alternatif, hingga menanyakan ketersediaan barang.

Kemudahan tersebut akhirnya mengubah ekspektasi konsumen. Mereka tidak ingin membeli secara terburu-buru. Sebelum mengeluarkan uang, mereka ingin memiliki informasi yang cukup untuk merasa yakin.

Perubahan ini juga membuat persaingan bisnis semakin terbuka. Sebuah UMKM lokal tidak hanya bersaing dengan toko di sekitar wilayahnya, tetapi juga dengan bisnis lain yang muncul di hasil pencarian dan media sosial. Dengan kata lain, bisnis yang tidak terlihat secara online berisiko tidak masuk dalam daftar pertimbangan konsumen sejak awal.

Konsumen Tidak Hanya Mencari Produk, tetapi Juga Mencari Jawaban

Bisnis perlu memahami bahwa konsumen tidak selalu mencari nama produk secara langsung. Mereka sering mencari solusi untuk mengatasi masalah yang sedang mereka hadapi. Misalnya, seseorang yang membutuhkan skincare mungkin tidak langsung mencari nama brand. Ia bisa mencari:

  • skincare untuk kulit berminyak;
  • serum untuk bekas jerawat;
  • skincare pemula dengan harga terjangkau;
  • moisturizer untuk kulit sensitif;
  • cara memilih skincare yang tepat.

Hal serupa terjadi pada berbagai industri. Orang yang membutuhkan jasa digital marketing mungkin mencari “cara meningkatkan penjualan online” terlebih dahulu sebelum mencari “jasa digital marketing”.

Artinya, ada peluang besar bagi bisnis untuk hadir sebelum konsumen siap membeli.

Karena itu, konten edukasi, artikel SEO, video, FAQ, dan konten media sosial dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Dengan memberikan jawaban yang relevan, bisnis memiliki kesempatan untuk membawa konsumen ke tahap pertimbangan.

Bagaimana Konsumen Mencari Produk Online?

Dahulu, perjalanan konsumen sering dibayangkan seperti jalur sederhana:

Melihat iklan → datang ke toko → membeli

Sekarang, perjalanan tersebut bisa jauh lebih panjang.

Baca Juga: Dari Scroll ke Checkout: Mengapa Media Sosial Mendorong Kebiasaan Belanja Baru

Seseorang dapat melihat video sebuah produk di TikTok, kemudian mencari nama produknya di Google. Setelah itu, ia membuka Instagram brand, membaca komentar pelanggan, membandingkan harga di marketplace, dan baru menghubungi WhatsApp.

Bahkan setelah melihat iklan, konsumen belum tentu langsung membeli. Mereka mungkin menyimpan produk terlebih dahulu, mencari review, menunggu promo, atau bertanya kepada teman.

Karena itu, bisnis perlu membangun kehadiran di berbagai titik perjalanan tersebut. Tujuannya bukan memaksa konsumen membeli secepat mungkin, tetapi memberikan informasi yang mereka butuhkan pada setiap tahap pengambilan keputusan.

Faktor yang Membuat Konsumen Lebih Aktif Mencari Produk Online

1. Perbandingan menjadi jauh lebih mudah

Internet membuat konsumen dapat membandingkan berbagai produk tanpa harus berpindah tempat. Mereka bisa membandingkan:

  • harga;
  • kualitas;
  • spesifikasi;
  • rating;
  • review;
  • promo;
  • ongkos kirim;
  • pelayanan penjual.

Karena pilihan semakin banyak, bisnis harus menunjukkan alasan yang jelas agar konsumen memilih produknya. Harga murah saja belum tentu cukup. Konsumen juga dapat mempertimbangkan kualitas, kecepatan pelayanan, reputasi, garansi, atau pengalaman pelanggan.

2. Review pelanggan semakin penting

Klaim dari brand bukan satu-satunya sumber informasi yang dipercaya konsumen.

Sebelum membeli, calon pelanggan dapat mencari pengalaman orang lain melalui review marketplace, komentar media sosial, video review, forum, atau konten dari pengguna.

Inilah alasan mengapa bisnis perlu memperhatikan reputasi digital.

Selain itu, testimoni pelanggan, rating, studi kasus, user-generated content, dan dokumentasi hasil penggunaan produk dapat menjadi bukti yang memperkuat kepercayaan.

3. Media sosial ikut menjadi tempat pencarian

Pencarian produk tidak lagi hanya terjadi di Google.

Data We Are Social menunjukkan bahwa mesin pencari tetap menjadi salah satu kanal utama untuk menemukan brand di Indonesia, sementara media sosial juga memiliki peran besar dalam brand discovery dan riset produk. Konsumen semakin terbiasa menggunakan media sosial untuk mencari rekomendasi, melihat review, dan memahami pengalaman pengguna lain.

Itulah sebabnya konten media sosial sebaiknya tidak hanya berisi promosi.

Dalam hal ini, konten seperti tutorial, perbandingan produk, FAQ, tips, review, dan demonstrasi penggunaan dapat membantu menjawab kebutuhan pencarian konsumen.

Peluang Bisnis Saat Konsumen Mencari Produk Online

Perubahan perilaku pencarian tersebut berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar US$99 miliar GMV pada 2025. E-commerce tetap menjadi salah satu sektor terbesar dalam ekosistem tersebut. Sementara itu, DataReportal mencatat terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2025.

Data tersebut memberikan gambaran bahwa bisnis memiliki pasar digital yang sangat besar.

Namun, besarnya jumlah pengguna tidak otomatis berarti penjualan akan meningkat. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana bisnis dapat muncul di hadapan orang yang tepat pada saat mereka sedang membutuhkan solusi.

Di sinilah SEO, content marketing, media sosial, marketplace, iklan digital, dan website memiliki fungsi yang saling melengkapi.

Baca Juga: Mengapa Traffic Website Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Ukuran Sukses Marketing? Ini Metrik yang Lebih Penting di 2026

Apa yang Harus Dilakukan Bisnis Saat Konsumen Mencari Produk Online?

Jika konsumen semakin sering mencari produk secara online, bisnis perlu mengubah pendekatan dari sekadar “berjualan di internet” menjadi “membangun sistem agar mudah ditemukan dan dipilih.” Ada beberapa langkah utama yang dapat dilakukan.

1. Mulai dari memahami pencarian konsumen

Sebelum membuat konten atau memasang iklan, bisnis perlu mencari tahu kebutuhan target pasar terlebih dahulu. Buat daftar pertanyaan yang mungkin muncul sebelum konsumen membeli. Misalnya bisnis menjual sepatu olahraga. Jangan hanya menargetkan keyword “sepatu olahraga”. Kembangkan pencarian menjadi:

“sepatu running untuk pemula”,
“sepatu lari wanita harga 500 ribuan”,
“sepatu running untuk jalan kaki”, atau
“cara memilih sepatu lari”.

Keyword seperti ini dapat membantu bisnis memahami kebutuhan konsumen secara lebih spesifik.

2. Pastikan website mudah ditemukan dan memberikan jawaban

Dalam konteks ini, website bukan sekadar kartu nama digital. Ketika seseorang menemukan website bisnis melalui Google, halaman tersebut harus mampu menjawab pertanyaan yang muncul di benaknya. Minimal, halaman produk atau layanan perlu memberikan informasi seperti:

  • apa yang ditawarkan;
  • siapa yang cocok menggunakan produk tersebut;
  • manfaat;
  • harga atau kisaran harga;
  • spesifikasi;
  • foto atau video;
  • review;
  • FAQ;
  • cara pemesanan;
  • kontak yang mudah ditemukan.

SEO kemudian membantu konsumen menemukan halaman tersebut saat mereka melakukan pencarian. Isee Digital Marketing juga menjelaskan pentingnya optimasi website, struktur halaman, keyword, kecepatan, serta pengalaman pengguna agar website memiliki peluang lebih baik untuk muncul di mesin pencari.

3. Buat konten berdasarkan pertanyaan konsumen

Jangan membuat konten hanya karena “harus posting”. Setiap konten sebaiknya memiliki tujuan. Misalnya:

Awareness — Membangun Kesadaran
“Kenapa bisnis kecil perlu memiliki website?”

Consideration — Mempertimbangkan Pilihan
“Website vs marketplace, mana yang lebih cocok untuk UMKM?”

Decision — Menentukan Pilihan
“Berapa biaya membuat website bisnis profesional?”

Dengan pendekatan tersebut, konten tidak berdiri sendiri. Konten menjadi bagian dari perjalanan konsumen menuju pembelian.

4. Bangun kehadiran di media sosial

Media sosial dapat digunakan untuk membuat brand lebih mudah ditemukan sekaligus membangun kepercayaan. Profil bisnis sebaiknya memiliki informasi dasar yang jelas seperti:

  • nama bisnis;
  • produk atau layanan;
  • lokasi;
  • kontak;
  • link website;
  • cara melakukan pemesanan.

Kontennya pun perlu bervariasi. Tidak semua posting harus berbentuk promosi. Bisnis dapat mengombinasikan konten edukasi, hiburan, demonstrasi, testimoni, behind the scenes, FAQ, dan penawaran. Dengan begitu, ketika calon pelanggan menemukan akun bisnis, mereka memiliki cukup alasan untuk percaya.

5. Gunakan video untuk menjawab keraguan

Video menjadi format yang semakin penting dalam perjalanan belanja digital. Laporan Google, Temasek, dan Bain menunjukkan bahwa video commerce telah berkembang pesat di Asia Tenggara dan menjadi bagian penting dari aktivitas e-commerce kawasan tersebut.

Bisnis dapat memanfaatkan video untuk menunjukkan hal-hal yang sulit dijelaskan hanya melalui foto. Contohnya:

  • cara menggunakan produk;
  • ukuran produk sebenarnya;
  • detail bahan;
  • proses pembuatan;
  • perbandingan produk;
  • tutorial;
  • jawaban FAQ;
  • pengalaman pelanggan.

Video semacam ini dapat membantu konsumen mengurangi keraguan sebelum membeli.

6. Hubungkan pencarian dengan jalur pembelian

Ditemukan saja belum cukup. Setelah calon pelanggan menemukan bisnis, mereka harus mengetahui apa yang harus dilakukan selanjutnya. Misalnya:

Google → Artikel → Halaman Produk → WhatsApp

atau:

TikTok → Profil → Website → Marketplace

atau:

Instagram → Konten → Landing Page → Konsultasi

Setiap kanal harus memiliki tujuan yang jelas. Jika tujuan akhirnya adalah mendapatkan leads, arahkan konsumen ke WhatsApp atau formulir. Jika tujuan utamanya transaksi, arahkan ke halaman produk atau marketplace.

Website, Marketplace, Media Sosial, dan WhatsApp Punya Peran Berbeda

Bisnis tidak harus memaksa semua kanal melakukan pekerjaan yang sama.

KanalFungsi Utama
Google/SEOMenangkap konsumen yang sedang mencari
WebsiteMemberikan informasi dan membangun kredibilitas
Media sosialDiscovery, engagement, dan edukasi
MarketplacePerbandingan dan transaksi
WhatsAppKonsultasi dan closing
Iklan digitalMempercepat jangkauan dan retargeting

Baca Juga: Mengapa UMKM Harus Menggabungkan Marketplace dan Social Media Marketing?

Strategi yang baik justru membuat kanal-kanal tersebut saling terhubung. Misalnya, seseorang menemukan artikel melalui Google. Pada akhirnya, ketika artikel mengarahkan calon pelanggan ke halaman layanan hingga mereka dapat menghubungi WhatsApp, SEO tidak lagi berdiri sendiri. SEO menjadi pintu masuk menuju proses konversi.

Jangan Mengabaikan WhatsApp

Dalam banyak bisnis, konsumen belum tentu langsung membeli setelah menemukan produk. Mereka mungkin masih memiliki pertanyaan.

  • “Apakah stoknya tersedia?”
  • “Bisa custom?”
  • “Berapa lama prosesnya?”
  • “Ada garansi?”
  • “Apakah bisa konsultasi dulu?”

WhatsApp dapat menjadi jembatan penting antara pencarian dan transaksi. Karena itu, CTA sebaiknya tidak terlalu umum. Daripada hanya menulis:

“Hubungi kami.”

Gunakan CTA yang lebih spesifik:

“Konsultasikan kebutuhan digital marketing bisnis Anda melalui WhatsApp.”

atau:

“Klik WhatsApp untuk mendapatkan informasi harga dan layanan.”

CTA yang jelas membuat calon pelanggan lebih memahami langkah berikutnya.

Bangun Strategi dengan Pola “Ditemukan → Dipercaya → Dibeli”

Daripada menjalankan banyak aktivitas digital tanpa arah, bisnis dapat menggunakan tiga tahap sederhana:

  1. Ditemukan
    Pastikan bisnis muncul ketika konsumen melakukan pencarian melalui Google, media sosial, atau marketplace.
  2. Dipercaya
    Berikan bukti melalui konten edukasi, review, testimoni, studi kasus, portofolio, dan informasi produk yang transparan.
  3. Dibeli
    Berikan jalur transaksi yang sederhana melalui website, marketplace, WhatsApp, atau kanal lain yang sesuai.

Kesalahan yang sering terjadi adalah bisnis terlalu fokus pada tahap pertama. Traffic memang penting, tetapi traffic bukan tujuan akhir. Seribu pengunjung website tidak terlalu berarti jika tidak ada yang menghubungi bisnis atau melakukan pembelian. Sebaliknya, traffic yang lebih kecil tetapi berasal dari konsumen dengan kebutuhan yang tepat dapat menghasilkan dampak bisnis yang lebih besar.

Kesalahan Bisnis Saat Konsumen Mencari Produk Online

Ada beberapa jebakan yang perlu diperhatikan ketika mulai membangun strategi digital.

  1. Pertama, hanya mengandalkan iklan. Iklan memang dapat menghasilkan traffic dengan cepat, tetapi bisnis tetap membutuhkan aset digital jangka panjang seperti website, konten, SEO, dan database pelanggan.
  2. Kedua, mengejar followers sebanyak-banyaknya. Jumlah followers bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah apakah audiens tersebut relevan dan apakah aktivitas digital menghasilkan leads atau transaksi.
  3. Ketiga, membuat konten tanpa memahami search intent. Konten yang bagus belum tentu menarik orang yang tepat jika bisnis tidak membuatnya sesuai dengan kebutuhan pencarian mereka.
  4. Keempat, informasi produk terlalu sedikit. Konsumen yang tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya bisa berpindah ke kompetitor.
  5. Kelima, tidak mengukur hasil. Bisnis perlu mengetahui kanal mana yang menghasilkan traffic, leads, penjualan, dan pelanggan berulang.

Rencana 30 Hari untuk Mulai

Jika bisnis belum memiliki strategi digital yang terstruktur, tidak perlu langsung mengerjakan semuanya sekaligus.

  • Minggu pertama dapat digunakan untuk melakukan riset. Cari tahu pertanyaan, masalah, keyword, kompetitor, serta platform yang sering digunakan target konsumen.
  • Minggu kedua fokus pada aset digital. Rapikan website, halaman produk, profil media sosial, informasi kontak, CTA, dan katalog.
  • Minggu ketiga mulai produksi konten. Buat artikel SEO, video pendek, konten edukasi, FAQ, perbandingan, dan testimoni berdasarkan hasil riset sebelumnya.
  • Minggu keempat mulai mengevaluasi. Periksa keyword yang menghasilkan kunjungan, konten yang mendapatkan engagement, jumlah leads, pesan WhatsApp, serta transaksi.

Baca Juga: Strategi Digital Marketing 2026: Cara Bisnis Tetap Kompetitif di Tengah Perubahan Digital

Pada akhirnya, bisnis dapat menentukan strategi yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan pada bulan berikutnya berdasarkan hasil yang telah diperoleh. Dengan cara ini, pemasaran digital tidak menjadi aktivitas yang dilakukan secara asal, tetapi berkembang menjadi proses yang terus diuji dan diperbaiki.

Bagaimana Mengukur Apakah Strateginya Berhasil?

Jangan hanya melihat jumlah views atau traffic. Gunakan beberapa indikator yang lebih dekat dengan tujuan bisnis, seperti:

  • organic traffic;
  • jumlah leads;
  • conversion rate;
  • cost per lead;
  • customer acquisition cost;
  • jumlah transaksi;
  • revenue dari kanal digital;
  • repeat order.

Misalnya, sebuah artikel hanya mendapatkan 500 pengunjung per bulan, tetapi menghasilkan 20 calon pelanggan. Artikel tersebut dapat memberikan nilai yang jauh lebih besar daripada konten yang meraih puluhan ribu views tetapi tidak menghasilkan leads. Inilah alasan bisnis harus selalu mengaitkan strategi digital dengan tujuan bisnis, bukan sekadar mengejar metrik vanity.

Kesimpulan

Pertanyaan “Konsumen Makin Sering Mencari Produk Secara Online, Apa yang Harus Dilakukan Bisnis?” pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan lebih banyak traffic. Selain itu, hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana bisnis hadir ketika konsumen sedang mencari, memberikan informasi yang mereka butuhkan, membangun kepercayaan, lalu memudahkan mereka melakukan pembelian.

Perjalanan konsumen kini dapat melewati banyak kanal. Mereka mungkin menemukan bisnis melalui Google, melihat video di TikTok, mengecek Instagram, membaca review marketplace, kemudian menghubungi WhatsApp. Karena itu, bisnis perlu membangun ekosistem yang saling terhubung:

SEO untuk ditemukan → konten untuk menjawab kebutuhan → media sosial untuk membangun kepercayaan → website untuk memberikan informasi → marketplace untuk transaksi → WhatsApp untuk membantu closing

Tidak semua bisnis harus langsung menggunakan seluruh kanal tersebut. Karena itu, bisnis perlu memahami di mana target konsumen mencari informasi dan bagaimana mereka mengambil keputusan.

Jika konsumen semakin sering mencari produk secara online, maka bisnis harus memastikan calon pelanggan dapat menemukan, mempercayai, dan membeli produknya dengan mudah.

Oleh karena itu, bagi bisnis yang ingin membangun strategi digital marketing berdasarkan kebutuhan pasar dan tujuan bisnis, Isee Digital Marketing dapat membantu merancang dan mengoptimalkan strategi pemasaran digital secara lebih terarah.

Kunjungi website kami untuk mendapatkan insight dan informasi layanan digital marketing lainnya

Isee Digital Marketing

Untuk konsultasi langsung, Anda juga dapat menghubungi melalui WhatsApp

Admin Isee Digital Marketing

Jangan menunggu konsumen menemukan kompetitor lebih dulu. Pastikan bisnis Anda hadir di tempat konsumen sedang mencari.

Jika ada pertanyaan atau hal yang ingin didiskusikan lebih lanjut mengenai strategi digital marketing, bisa tuliskan pertanyaanmu di kolom komentar di bawah, ya.

Dipercaya oleh Partner Global

Google Partner
Meta Business
TikTok Shop