Perkembangan tren social commerce 2026 kian mengubah situasi belanja di Indonesia, di mana konsumen tidak lagi sekadar mengandalkan mesin pencari atau marketplace, melainkan langsung bertransaksi melalui video pendek, siaran langsung (livestream), dan rekomendasi kreator. Potensi ini kian nyata dengan besarnya ekosistem digital Indonesia yang memiliki ratusan juta pengguna aktif internet dan media sosial, membuka pasar masif bagi bisnis yang mampu memadukan konten, interaksi, dan transaksi secara efektif.
Namun, memanfaatkan peluang ini tidak cukup hanya dengan aktif mengunggah konten di media sosial. Di tengah persaingan konten yang ketat, algoritma yang dinamis, serta perilaku audiens yang makin kritis, pelaku UMKM membutuhkan strategi yang matang. Artikel ini akan mengulas perkembangan tren social commerce terkini beserta langkah taktis agar kehadiran di media sosial tidak sekadar menghasilkan views, melainkan berdampak langsung pada peningkatan penjualan.
Mengapa Social Commerce Semakin Penting bagi UMKM?
Social commerce tidak hanya mengubah pilihan platform, tetapi secara mendasar mengubah seluruh perjalanan konsumen. Dalam pola belanja konvensional, seseorang mungkin mencari produk melalui Google, masuk ke marketplace, membandingkan beberapa pilihan, lalu membeli. Social commerce mengubah alur tersebut menjadi lebih spontan.
Seseorang bisa saja sedang menonton video hiburan, kemudian menemukan produk yang menarik. Setelah melihat demonstrasi, membaca komentar, atau menyaksikan kreator menggunakan produk tersebut, muncul keinginan untuk membeli.
Dengan demikian, konten tidak lagi hanya berfungsi untuk membangun awareness. Konten juga dapat menjadi etalase, media edukasi, social proof, bahkan bagian dari proses transaksi. Perubahan ini sangat relevan bagi UMKM karena media sosial dapat memberikan akses terhadap pasar yang jauh lebih besar tanpa membutuhkan toko fisik di setiap wilayah.
Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu pasar video commerce terbesar dan paling berkembang di Asia Tenggara. Volume transaksi video commerce Indonesia mencapai sekitar 2,6 miliar transaksi, meningkat 90% secara tahunan. Jumlah penjual dan toko daring yang menggunakan video commerce juga meningkat 75% menjadi sekitar 800 ribu. Angka tersebut menunjukkan bahwa video commerce bukan lagi sekadar eksperimen pemasaran, melainkan telah berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem perdagangan digital.
Tren Social Commerce Indonesia 2026 yang Perlu Diperhatikan
1. Video Commerce Semakin Menjadi Etalase Digital
Salah satu perubahan paling jelas pada social commerce adalah meningkatnya peran video dalam proses pembelian. Foto produk tetap berguna, tetapi video memberi ruang lebih besar bagi penjual untuk memperagakan cara memakai produk. Lewat video, konsumen bisa melihat tekstur, ukuran, cara pemakaian, hasil penggunaan, serta waktu yang tepat untuk memanfaatkan produk tersebut.
Menurut laporan e-Conomy SEA 2025, fashion dan aksesori serta beauty and personal care menjadi kategori unggulan video commerce Indonesia dan secara gabungan menyumbang hampir setengah GMV video commerce. Nilai transaksi rata-rata juga relatif kecil, sekitar US$4,50–US$6 per pesanan. Karakter tersebut membuka peluang besar bagi UMKM yang menjual produk terjangkau dan menarik secara visual.
Bayangkan sebuah UMKM fashion yang sebelumnya hanya mengunggah foto kaus. Alih-alih hanya memperlihatkan produk, bisnis tersebut dapat membuat video “3 cara memakai satu kaus”, memperlihatkan detail bahan, membandingkan ukuran, atau menampilkan pelanggan menggunakan produknya. Konten seperti ini tidak terasa seperti iklan tradisional. Konsumen mendapatkan informasi sekaligus alasan untuk mempertimbangkan pembelian. Karena itu, UMKM perlu mulai melihat video bukan sekadar materi promosi, tetapi sebagai bagian dari digital storefront atau etalase digital.
2. Livestream Menjadi Jembatan antara Konten dan Penjualan
Livestream memiliki keunggulan yang tidak dimiliki konten biasa: interaksi secara langsung. Konsumen dapat bertanya mengenai ukuran, bahan, warna, manfaat, harga, atau cara penggunaan produk. Penjual dapat langsung menjawab pertanyaan tersebut dan menghilangkan keraguan sebelum transaksi. Dalam konteks ini, livestream sebenarnya menyerupai aktivitas sales dalam bentuk digital.
Misalnya, pelanggan bertanya apakah sebuah pakaian cocok untuk ukuran tertentu. Penjual dapat langsung menunjukkan produk, menjelaskan ukuran, bahkan memperagakan penggunaannya. Interaksi seperti itu membangun kedekatan emosional yang sulit Anda raih hanya lewat katalog produk biasa.
UMKM tidak harus langsung melakukan livestream berjam-jam. Pengujian dapat dimulai dari sesi yang lebih singkat dengan satu tema yang jelas. Misalnya, satu sesi khusus untuk memperkenalkan koleksi baru atau menjawab pertanyaan pelanggan mengenai produk tertentu. Pelaku UMKM perlu melacak lebih dari sekadar jumlah penonton, yakni mencakup interaksi, klik produk, total transaksi, perolehan omzet, serta produk yang paling efektif menarik perhatian audiens.
3. Creator dan Affiliate Marketing Semakin Memengaruhi Keputusan Pembelian
Social commerce juga membuat rekomendasi menjadi semakin penting. Konsumen dapat melihat produk lewat creator yang mereka ikuti dan merasa lebih percaya karena sang creator memperagakan produk tersebut dalam konteks penggunaan sehari-hari. Bagi UMKM, kondisi ini tidak berarti harus bekerja sama dengan influencer besar.
Creator dengan jumlah pengikut lebih kecil tetapi memiliki komunitas yang relevan dapat memberikan nilai yang lebih baik. Creator fashion lokal, misalnya, mungkin lebih cocok untuk brand pakaian lokal dibandingkan influencer umum dengan jutaan pengikut tetapi audiens yang tidak relevan. Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah followers. UMKM sebaiknya melihat kualitas interaksi, kecocokan audiens, jenis konten, tingkat kepercayaan komunitas, dan kemampuan creator menghasilkan tindakan.
Model affiliate juga menarik karena bisnis dapat memperluas distribusi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada iklan berbayar. Penjualan produk menghasilkan insentif bagi creator, sementara UMKM meraih akses langsung ke jaringan audiens baru.
4. Pembayaran Digital Membuat Transaksi Semakin Praktis
Social commerce tidak akan optimal jika perjalanan dari konten menuju pembayaran masih rumit. Konsumen yang sudah tertarik dapat berubah pikiran ketika harus melakukan terlalu banyak langkah untuk membeli. Perkembangan pembayaran digital menjadi salah satu faktor pendukung penting. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,15 miliar transaksi pada April 2026, tumbuh 42,86% secara tahunan. Transaksi QRIS juga tumbuh tinggi sebesar 108,43% secara tahunan.
Hingga triwulan IV 2025, jumlah merchant QRIS telah mencapai sekitar 42,75 juta, dengan sebagian besar merchant berasal dari UMKM. Artinya, semakin banyak bisnis kecil yang memiliki akses terhadap infrastruktur pembayaran digital. Bagi UMKM, kemudahan pembayaran perlu dipandang sebagai bagian dari customer experience. Produk yang menarik dan konten yang bagus akan kehilangan momentum jika konsumen kesulitan menyelesaikan transaksi.
5. AI Membantu UMKM Memproduksi dan Menganalisis Konten
AI juga menjadi bagian dari perkembangan social commerce pada 2026. Teknologi ini dapat membantu UMKM mengembangkan ide konten, membuat variasi judul dan hook, menyusun kalender konten, menganalisis komentar, membuat draft customer service, serta mengolah data performa konten.
Namun, AI sebaiknya digunakan untuk mempercepat pekerjaan, bukan menggantikan karakter bisnis. Jika semua UMKM menggunakan AI dengan prompt dan output yang serupa, konten akan semakin mudah terlihat generik. Pelaku UMKM justru dapat membangun keunggulan dari hal-hal yang tidak mampu AI tiru tanpa data internal, seperti kisah pemilik usaha, pengalaman pelanggan, proses produksi, tantangan nyata yang pernah terlalui, identitas kedaerahan, hingga cara melayani konsumen.
Karena itu, kombinasi terbaik bukan “AI menggantikan manusia”, melainkan AI membantu manusia bekerja lebih cepat sementara pengalaman manusia memberikan keaslian pada konten.
Baca Juga: Bagaimana Cara Audit Marketing Bisnis untuk UMKM agar Strategi Pemasaran Lebih Efektif?
Dampaknya bagi UMKM: Peluang Besar sekaligus Persaingan yang Lebih Ketat
Pertumbuhan social commerce membawa peluang besar bagi UMKM, tetapi juga meningkatkan standar persaingan. Jika sebelumnya sebuah bisnis hanya perlu memiliki produk yang bagus dan akun media sosial, kini bisnis harus mampu menarik perhatian, menjelaskan manfaat, membangun kepercayaan, dan mempermudah transaksi.
Laporan mengenai social commerce sellers di Indonesia dari FinDev Gateway menunjukkan bahwa social commerce dapat menjadi pintu masuk penting bagi usaha kecil menuju digitalisasi. Studi tersebut melibatkan 458 responden dari tujuh provinsi dan menemukan bahwa 70% responden merupakan penjual perempuan. Namun, laporan tersebut juga menunjukkan adanya tantangan, termasuk perlindungan konsumen dan penjual, regulasi, serta penggunaan berbagai tools digital yang masih terfragmentasi.
Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak otomatis membuat bisnis menjadi lebih mudah. UMKM tetap membutuhkan strategi dan sistem yang jelas.
| Perubahan Social Commerce | Dampaknya bagi UMKM |
|---|---|
| Video semakin dominan | Produk perlu dikomunikasikan secara visual |
| Livestream berkembang | Kemampuan komunikasi dan demonstrasi semakin penting |
| Creator dan affiliate meningkat | UMKM perlu membangun jaringan partner promosi |
| Pembayaran digital semakin luas | Hambatan transaksi semakin rendah |
| AI semakin mudah digunakan | Produksi konten lebih efisien, tetapi persaingan konten meningkat |
Dari Viral ke Penjualan: Bagaimana UMKM Harus Mengubah Strateginya?
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap views sebagai tujuan akhir. Padahal, video dengan 500 ribu views belum tentu lebih bernilai daripada video dengan 10 ribu views. Jika video pertama menghasilkan banyak penonton tetapi tidak menghasilkan transaksi, sedangkan video kedua menghasilkan pelanggan secara konsisten, video kedua mungkin jauh lebih penting bagi bisnis. Karena itu, UMKM perlu menghubungkan aktivitas konten dengan perjalanan konsumen.
Baca Juga: Kesalahan Umum Digital Marketing untuk UMKM yang Perlu Dihindari
Bayangkan sebuah UMKM makanan ringan. Konten pertama dapat memperkenalkan masalah konsumen, misalnya kebutuhan camilan praktis. Setelah itu, tunjukkan proses pembuatan produk di video berikutnya. Anda juga bisa menampilkan testimoni pelanggan untuk memperkuat kepercayaan audiens. Setelah audiens mulai mengenal produk, gunakan livestream untuk menjawab pertanyaan dan memberikan penawaran langsung.
Dengan pola tersebut, konten tidak lagi berdiri sendiri. Setiap konten memiliki fungsi dalam perjalanan:
Awareness → Consideration → Conversion → Retention
Inilah salah satu prinsip penting dalam memahami Tren Social Commerce Indonesia 2026 dan Dampaknya bagi UMKM.
Strategi Tren Social Commerce 2026 yang Bisa Diterapkan UMKM
UMKM tidak perlu langsung aktif di semua platform. Justru, memilih kanal yang sesuai dengan karakter produk dan audiens biasanya lebih efektif. Anda dapat menjadikan TikTok atau platform video pendek sebagai kanal discovery, lalu memanfaatkan Instagram untuk membangun branding dan komunitas. YouTube cocok untuk konten edukasi yang lebih panjang. Anda dapat memanfaatkan WhatsApp untuk berkomunikasi dan menjaga hubungan dengan pelanggan (retention), sementara marketplace berfungsi sebagai kanal utama dalam memproses transaksi.
DataReportal dalam laporan Digital 2026 Indonesia mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada akhir 2025. Data tersebut memperlihatkan besarnya potensi distribusi digital, meskipun Anda tidak boleh langsung menyamakan angka jangkauan iklan di setiap platform dengan jumlah pengguna aktif.
Setelah menentukan kanal, fokus berikutnya adalah membangun content funnel. Konten awareness bertujuan memperkenalkan masalah atau kebutuhan audiens. Pada tahap consideration, sajikan informasi yang membantu calon pelanggan memahami produk secara mendalam. Sementara itu, buat konten conversion untuk memberikan alasan kuat agar mereka segera melakukan pembelian. Setelah transaksi terjadi, konten retention menjaga hubungan agar pelanggan kembali. Pendekatan ini jauh lebih strategis dibandingkan sekadar bertanya setiap hari, “Hari ini harus posting apa?”
Apa yang Harus Diukur?
UMKM juga perlu mengubah cara melihat performa media sosial. Views memang penting untuk mengetahui seberapa luas konten didistribusikan. Namun, bisnis membutuhkan metrik yang lebih dekat dengan hasil. Engagement dapat menunjukkan apakah audiens merespons konten. Click-through rate menunjukkan ketertarikan untuk melihat produk lebih jauh. Conversion rate membantu mengetahui kemampuan konten atau halaman produk dalam menghasilkan pembelian.
Di sisi bisnis, average order value dapat menunjukkan nilai transaksi rata-rata. Customer acquisition cost membantu mengukur biaya memperoleh pelanggan baru, sementara repeat purchase rate menunjukkan apakah bisnis mampu mempertahankan pelanggan.
Dengan demikian, evaluasi tidak berhenti pada:
“Konten ini viral atau tidak?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Konten ini membantu bisnis mendapatkan pelanggan atau tidak?”
Baca Juga: Apa Indikator Keberhasilan Digital Marketing untuk UMKM? Kenali Ukurannya
Kesalahan UMKM dalam Menghadapi Tren Social Commerce 2026
Salah satu kesalahan terbesar adalah terlalu mengejar viralitas. Konten viral memang dapat meningkatkan awareness, tetapi belum tentu menghasilkan pelanggan yang sesuai dengan target bisnis. Kesalahan berikutnya adalah terlalu mengandalkan diskon. Jika pelanggan hanya datang ketika harga diturunkan, bisnis akan kesulitan membangun persepsi nilai dalam jangka panjang.
UMKM juga sering mengabaikan komentar dan pertanyaan pelanggan. Padahal, komentar sebenarnya merupakan sumber data gratis untuk memahami kebutuhan pasar. Jika banyak orang bertanya mengenai ukuran, buat konten panduan memilih ukuran yang tepat. Saat pelanggan sering menanyakan bahan, buat video yang memperlihatkan detail kain secara jelas. Sementara itu, untuk menjawab keraguan terhadap kualitas produk, buat demonstrasi langsung atau tampilkan testimoni pembeli lain. Dengan cara tersebut, customer service dan content marketing dapat saling memperkuat.
Masalah lain adalah ketergantungan pada satu platform. Algoritma dapat berubah, jangkauan dapat turun, dan tren dapat berganti. Karena itu, UMKM sebaiknya secara bertahap membangun aset yang lebih terkontrol, seperti database pelanggan, WhatsApp, website, komunitas, dan sistem CRM.
Rencana 30 Hari untuk Memulai Social Commerce
Bagi UMKM yang baru ingin serius memanfaatkan social commerce, pendekatan paling realistis adalah memulai dari eksperimen kecil. Pada minggu pertama, fokus pada riset. Tentukan produk utama, kenali audiens, amati kompetitor, dan kumpulkan pertanyaan yang sering diajukan pelanggan. Minggu kedua dapat digunakan untuk produksi. Buat beberapa video dengan sudut pandang berbeda. Jangan hanya membuat video promosi, tetapi juga konten edukasi, demonstrasi, storytelling, dan testimoni.
Baca Juga: Bagaimana Cara Scaling Bisnis Online untuk UMKM agar Tumbuh Lebih Cepat dan Stabil?
Minggu ketiga berfokus pada distribusi. Publikasikan konten secara konsisten, mulai menguji livestream, dan jika memungkinkan bekerja sama dengan beberapa creator yang relevan. Minggu keempat adalah tahap evaluasi. Lihat konten mana yang menghasilkan engagement, klik, pertanyaan, dan transaksi. Kemudian gunakan data tersebut untuk menentukan format konten berikutnya. Dengan pendekatan ini, UMKM tidak perlu menebak-nebak strategi. Setiap eksperimen menghasilkan.
Membangun Bisnis di Era Tren Social Commerce 2026, Bukan Sekadar Akun Media Sosial
Pada akhirnya, Tren Social Commerce Indonesia 2026 dan Dampaknya bagi UMKM menunjukkan bahwa social commerce bukan hanya tentang memiliki akun TikTok, Instagram, atau platform lainnya. Yang lebih penting adalah bagaimana bisnis menghubungkan berbagai aktivitas tersebut menjadi satu sistem:
- Konten menarik perhatian.
- Creator memperluas jangkauan.
- Livestream membangun interaksi.
- Social proof meningkatkan kepercayaan.
- Marketplace atau checkout memfasilitasi transaksi.
- WhatsApp dan CRM membantu mempertahankan pelanggan.
- Data menunjukkan bagian mana yang harus diperbaiki.
- AI membantu seluruh proses berjalan lebih efisien.
Ketika semua elemen tersebut terhubung, social commerce dapat berubah dari aktivitas posting menjadi mesin pertumbuhan bisnis.
Kesimpulan: Tren Social Commerce 2026 bagi UMKM
Tren Social Commerce Indonesia 2026 dan Dampaknya bagi UMKM menunjukkan bahwa cara konsumen Indonesia menemukan dan membeli produk sedang mengalami perubahan besar. Video commerce berkembang cepat. Livestream semakin penting. Creator dan affiliate menjadi bagian dari proses discovery. Pembayaran digital semakin mudah. Sementara itu, AI membuka peluang bagi UMKM untuk memproduksi dan menganalisis konten dengan lebih efisien.
Data e-Conomy SEA 2025 menunjukkan bahwa GMV ekonomi digital Indonesia diperkirakan mendekati US$100 miliar pada 2025. Sektor e-commerce sendiri mencapai sekitar US$71 miliar, sedangkan video commerce telah mencapai sekitar 2,6 miliar transaksi.
Namun, pertumbuhan tersebut tidak berarti semua UMKM otomatis mendapatkan keuntungan. Bisnis yang hanya mengejar views dan viralitas akan menghadapi persaingan yang semakin berat. Sebaliknya, UMKM yang mampu menggabungkan konten relevan, demonstrasi produk, creator, livestream, pembayaran yang mudah, customer service, data, dan retensi pelanggan memiliki peluang lebih besar untuk membangun pertumbuhan yang berkelanjutan.
Karena itu, social commerce sebaiknya tidak dipandang sebagai tren sesaat. Bagi UMKM, social commerce adalah perubahan dalam cara membangun hubungan dengan calon pelanggan, memperkenalkan produk, menciptakan kepercayaan, dan menghasilkan transaksi.
Jika bisnis Anda ingin memanfaatkan perubahan tersebut dengan strategi digital marketing yang lebih terarah, Isee Digital Marketing dapat membantu menyusun strategi berdasarkan kebutuhan bisnis, karakter audiens, dan tujuan pemasaran.
Kunjungi website
Isee Digital Marketing untuk mendapatkan insight dan solusi digital marketing lainnya.
Untuk konsultasi langsung dengan admin, Anda juga dapat menghubungi
Admin Isee Digital Marketing melalui WhatsApp.
Pada 2026, pertanyaannya bukan lagi apakah UMKM perlu masuk ke social commerce. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah bisnis sudah memiliki strategi agar perhatian di media sosial benar-benar berubah menjadi penjualan dan pelanggan yang berkelanjutan?
Yuk, bagikan pendapat atau jawaban Anda di kolom komentar di bawah, ya!